
Harga
Minyak naik pada Selasa setelah kesepakatan untuk melanjutkan ekspor
Minyak dari Kurdistan Irak tertunda, meredakan sebagian kekhawatiran investor bahwa pengiriman kembali tersebut akan menambah ketakutan kelebihan pasokan global.
Kontrak berjangka Brent naik 72 sen, atau 1,1%, menjadi $67,29 per barel pada pukul 13:19 GMT, sementara West Texas Intermediate (WTI) AS naik 84 sen, atau 1,4%, ke $63,12 per barel, keduanya berhasil memangkas kerugian tipis sebelumnya.
Minyak Brent dan WTI sebelumnya telah melemah selama empat sesi berturut-turut dengan penurunan sekitar 3%.
Pada Selasa, investor mencermati perkembangan seputar kesepakatan untuk melanjutkan ekspor
Minyak Kurdistan. Dua perusahaan produsen
Minyak meminta jaminan pembayaran utang mereka sebelum kesepakatan berjalan, yang membuat proses tertunda.
Kesepakatan antara
Pemerintah federal Irak,
Pemerintah daerah Kurdistan, dan perusahaan
Minyak ini ditujukan untuk melanjutkan ekspor sekitar 230.000 barel per hari ke
Pasar global melalui Turki, setelah dihentikan sejak Maret 2023.
Secara keseluruhan,
Pasar Minyak global masih bersiap menghadapi potensi pasokan berlebih dan melemahnya permintaan, yang tertekan oleh meningkatnya adopsi kendaraan listrik serta tekanan ekonomi akibat
Tarif AS.
Dalam laporan bulanan terbarunya, Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan pasokan
Minyak dunia akan meningkat lebih cepat tahun ini dan surplus bisa melebarpada 2026 seiring meningkatnya produksi OPEC+ dan pasokan dari luar kelompok produsen.
Namun, risiko tetap membayangi
Pasar, terutama terkait pertimbangan Uni Eropa untuk memperketat sanksi terhadap ekspor
Minyak Rusia, serta potensi eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah.(yds)
Sumber: Reuters