
Harga
Minyak naik karena
Pasar mulai percaya bahwa Amerika Serikat dan Tiongkok akan segera mencapai kesepakatan dagang. Brent kembali di atas $65.26 per barel setelah melonjak hampir 8% pekan lalu, dan WTI bertahan dekat $61.40 per barel. Negosiator kedua negara bilang mereka sudah mencapai titik temu di banyak isu penting, dan sekarang tinggal menunggu Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping bertemu hari Kamis untuk finalisasi. Sentimen ini bikin aset berisiko naik, saham Asia juga ikut menguat.
Selain faktor damai dagang, komentar dari Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga bikin
Pasar lega. Ia bilang ancaman
Tarif 100% atas barang-barang Tiongkok “praktis sudah tidak berlaku lagi.” Kalau tensi AS–Tiongkok turun, prospek pertumbuhan ekonomi global jadi lebih bagus. Ekonomi yang tumbuh artinya permintaan energi juga naik, dan itu otomatis mendukung harga
Minyak.
Minyak juga terbantu oleh sanksi AS terhadap dua produsen
Minyak terbesar Rusia. Sanksi ini bikin ekspor
Minyak Rusia ke pembeli besar seperti India dan Tiongkok terganggu, sehingga mereka harus cari suplai dari sumber lain. Itu membantu menahan harga agar tidak jatuh terlalu dalam, walaupun
Pasar Minyak dunia sebenarnya lagi khawatir kelebihan pasokan karena produksi OPEC+ yang tinggi tahun ini. Analis bilang: ada dorongan bullish dari sisi geopolitik Rusia dan harapan dagang AS–Tiongkok, tapi kenaikannya tetap dibatasi karena stok global masih banyak.
Pasar Minyak juga menunjukkan tanda
Penguatan struktur harga. Spread Brent jangka pendek sekarang mengarah ke backwardation (kontrak dekat lebih mahal daripada kontrak berikutnya), yang biasanya dibaca sebagai sinyal
Pasar lebih ketat. Pada pagi perdagangan di Singapura, Brent kontrak Desember naik tipis 0,2% ke sekitar $66,06 per barel, sementara WTI Desember juga naik 0,2% ke sekitar $61,63 per barel. Banyak pelaku
Pasar menilai level “zona nyaman” Brent ada di kisaran atas $60-an, jadi saat ini
Pasar lagi optimis tapi belum euforia.(asd)
Sumber:
newsmaker.id