
Harga
Minyak bergerak stabil pada Selasa (28/10) setelah dua hari turun. Brent ada di kisaran $64–$66 per barel, dengan kontrak Desember terakhir di sekitar $65,5 per barel, sementara WTI bertahan dekat $61 per barel.
Para trader masih berhitung: ini jeda sementara, atau awal dari harga
Minyak yang makin melemah? Faktor utamanya masih sama: kekhawatiran kelebihan pasokan. Volume
Minyak yang dikirim lewat laut global berada di level rekor, tanda suplai terus menumpuk. Di saat yang sama, OPEC+ disebut bisa sepakat menambah produksi lagi akhir pekan ini, karena Arab Saudi ingin merebut kembali pangsa
Pasar. Kalau suplai tambah longgar sementara permintaan global melambat,
Pasar khawatir harga
Minyak bakal makin susah naik.
Di sisi geopolitik, pelaku
Pasar juga memantau sanksi terbaru AS ke perusahaan
Minyak besar Rusia seperti Rosneft dan Lukoil. Sanksi ini dirancang untuk bikin ekspor
Minyak Rusia jadi lebih mahal dan lebih berisiko, tapi tanpa bikin harga
Minyak dunia melonjak. AS bahkan memberi Jerman batas waktu enam bulan untuk menyelesaikan status aset Rosneft di sana.
Setelah sanksi diumumkan, beberapa pembeli di Tiongkok dan India mulai mengurangi pembelian
Minyak Rusia via laut, yang sempat bantu angkat harga minggu lalu.
Di luar itu,
Pasar Minyak juga ikut terbawa cerita politik global. Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping dijadwalkan bertemu Kamis ini, dengan isu dagang dan juga arus
Minyak Rusia masuk radar pembahasan.
Harapan damai dagang AS–Tiongkok sebenarnya bisa bagus buat outlook permintaan energi, tapi untuk saat ini,
Pasar jelas lebih takut kelebihan pasokan daripada berharap pemulihan permintaan. Hasilnya:
Minyak bertahan, tapi rapuh.(asd)
Sumber:
newsmaker.id