
Harga
Perak naik ke kisaran $ 42 per ons pada hari Jumat (12/9), menyentuh level tertinggi sejak 2011. Pendorong utama adalah meningkatnya ekspektasi
Pasar bahwa Federal Reserve AS akan melakukan pemangkasan
suku bunga mendatang, kombinasi
Dolar AS yang melemah, dan imbal hasil
Obligasi AS yang juga turun. Kondisi ini membuat aset seperti
Perak – yang tidak memberikan imbal hasil -semakin menarik sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi.
Selain faktor kebijakan moneter, permintaan industri untuk
Perak juga ikut memainkan peran. Penggunaan
Perak dalam sektor energi terbarukan (termasuk panel surya), elektronik, dan kendaraan listrik mulai meningkat signifikan. Arus masuk dana ke ETF
Perak juga meningkat, mencerminkan keyakinan investor institusi terhadap prospek logam putih ini. Pasokan
Perak sendiri masih mengalami tekanan karena produksi yang sebagian besar merupakan produk sampingan dari tambang lain—artinya pertumbuhan pasokan tidak selalu responsif terhadap kenaikan harga instan.
Walau tren naiknya cukup kuat, ada beberapa risiko yang perlu diperhatikan. Jika data inflasi mendatang di AS lebih tinggi dari perkiraan, atau jika The Fed mengisyaratkan sikap yang kurang dovish, maka ada potensi
Penguatan Dolar dan imbal hasil
Obligasi AS, yang dapat menekan harga
Perak. Selain itu, volatilitas tetap tinggi karena
Perak sangat sensitif terhadap berita ekonomi / geopolitik. Namun dalam skenario optimis—dengan pemangkasan
suku bunga yang dikonfirmasi, permintaan industri yang terus tumbuh, dan pasokan yang tetap terbatas—harga
Perak bisa melanjutkan kenaikan, mungkin mendekati atau melewati $ 45 per ons dalam beberapa waktu ke depan. (Arl)
Sumber :
newsmaker.id