
Harga
Minyak naik pada hari Rabu (10/9) setelah Israel menyerang pimpinan Hamas di Qatar, Polandia menembak jatuh pesawat nirawak, dan AS mendorong sanksi baru terhadap pembeli
Minyak Rusia, tetapi kekhawatiran atas kelebihan pasokan
Minyak mentah membatasi kenaikan lebih lanjut.
Harga
Minyak mentah Brent naik 56 sen, atau 0,8%, menjadi $66,95 per barel, pada pukul 08.35 GMT, dan harga
Minyak mentah West Texas Intermediate AS naik 56 sen, atau 0,9%, menjadi $63,19 per barel.
Harga sempat ditutup naik 0,6% pada sesi perdagangan sebelumnya setelah Israel mengatakan telah menyerang pimpinan Hamas di Doha.
Kedua harga acuan tersebut naik hampir 2% tak lama setelah serangan, tetapi kemudian kembali mencatatkan kenaikan yang signifikan.
Di tempat lain, ketegangan geopolitik juga meningkat ketika Polandia menembak jatuh pesawat nirawak (drone) dalam serangan Rusia yang meluas di Ukraina barat pada hari Rabu, menandai pertama kalinya anggota NATO melepaskan tembakan dalam perang tersebut. Namun, tidak ada ancaman langsung gangguan pasokan.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump telah mendesak Uni Eropa untuk mengenakan
Tarif 100% terhadap Tiongkok dan India sebagai strategi untuk menekan Presiden Rusia Vladimir Putin, menurut beberapa sumber.
Tiongkok dan India adalah pembeli utama
Minyak Rusia, yang telah membantu menopang kas Rusia sejak melancarkan invasi ke Ukraina pada tahun 2022.
Para pedagang memperkirakan Federal Reserve akan memangkas
suku bunga pada pertemuan 16-17 September, yang akan mendorong aktivitas ekonomi dan permintaan
Minyak.
Namun, prospek pasokan tetap bearish. Badan Informasi Energi AS memperingatkan bahwa harga
Minyak mentah global akan berada di bawah tekanan signifikan dalam beberapa bulan mendatang karena meningkatnya persediaan seiring OPEC+ meningkatkan produksi.
Stok
Minyak mentah, bensin, dan sulingan AS naik pekan lalu, kata sumber
Pasar, mengutip data American Petroleum Institute pada hari Selasa. Data
Pemerintah akan dirilis pada pukul 14.30 GMT.
Sumber: Reuters