Bestprofit (14/8) – Harga minyak bergerak stabil pada perdagangan Jumat (14/08) setelah mengalami penurunan tajam pada sesi sebelumnya. Brent berada di sekitar US$87 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) bergerak di kisaran US$81 per barel. Kedua kontrak tersebut sempat melemah sekitar 2% pada perdagangan sebelumnya, tetapi masih mencatat kenaikan sekitar 4% sepanjang pekan.
Pergerakan pasar minyak saat ini mencerminkan sikap wait and see investor. Di satu sisi, ketegangan geopolitik dan gangguan terhadap jalur perdagangan energi masih memberikan premi risiko. Di sisi lain, kekhawatiran mengenai permintaan global serta belum adanya kepastian mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz membuat investor enggan mendorong harga lebih tinggi.
Selat Hormuz menjadi faktor utama yang menentukan arah pasar dalam jangka pendek. Setiap perkembangan mengenai keamanan pelayaran dan kelancaran ekspor minyak dari kawasan Teluk berpotensi langsung memengaruhi harga Brent dan WTI.
Bestprofit | Brent Stabil di US$88, Pasokan Jadi Penopang
Negosiasi Hormuz Belum Memberikan Kepastian
Pasar sebelumnya sempat mendapatkan harapan dari upaya diplomasi yang melibatkan Iran dan Oman. Namun, hingga kini belum terlihat kesepakatan konkret yang dapat memastikan pembukaan kembali jalur pelayaran melalui Selat Hormuz.
Ketidakpastian tersebut membuat optimisme yang sempat muncul pada awal pekan mulai berkurang. Pelaku pasar masih harus memperhitungkan risiko keamanan terhadap kapal tanker yang melintasi kawasan tersebut.
Selat Hormuz memiliki peran strategis dalam perdagangan minyak dunia. Gangguan terhadap jalur tersebut dapat mengurangi kemampuan produsen di kawasan Teluk untuk menyalurkan minyak ke pasar internasional. Karena itu, setiap perkembangan diplomatik atau militer di sekitar selat akan menjadi katalis penting bagi harga minyak.
Pasar kini tidak hanya menunggu pernyataan politik, tetapi juga membutuhkan bukti bahwa pelayaran komersial dapat kembali berlangsung secara normal. Selama hal tersebut belum terjadi, premi risiko geopolitik kemungkinan tetap melekat pada harga minyak.
Serangan Kapal Meningkatkan Kekhawatiran
Risiko keamanan kembali menjadi sorotan setelah dua kapal milik Abu Dhabi National Oil Co. dilaporkan mengalami serangan pada Kamis malam. Insiden tersebut menambah kekhawatiran bahwa gangguan terhadap transportasi energi masih dapat berlanjut.
Ketidakamanan terhadap kapal tanker menjadi persoalan penting karena perusahaan pelayaran harus mempertimbangkan risiko operasional, biaya asuransi, serta kemungkinan keterlambatan pengiriman. Jika semakin banyak kapal menghindari kawasan tersebut, pasokan minyak yang tersedia di pasar global dapat semakin terbatas.
Di kawasan Laut Merah, kelompok Houthi yang didukung Iran juga kembali mengklaim serangan terhadap fasilitas energi di Arab Saudi. Perkembangan tersebut memperluas risiko gangguan dari Selat Hormuz ke jalur pelayaran dan infrastruktur energi lainnya di kawasan Timur Tengah.
Bagi pasar minyak, kombinasi serangan terhadap kapal dan fasilitas energi menciptakan ketidakpastian tambahan. Bahkan ketika produksi minyak masih berlangsung, kemampuan untuk mengangkut dan menyalurkan minyak secara aman tetap menjadi pertanyaan besar.
Arus Minyak Masih Berjalan
Meski risiko gangguan tetap tinggi, pasar minyak belum menghadapi penghentian total arus ekspor dari kawasan Teluk. Sebagian minyak masih berhasil keluar dari kawasan tersebut melalui sejumlah jalur, termasuk menggunakan kapal tanker yang mematikan transponder.
Menteri Energi AS Chris Wright juga menyatakan bahwa sekitar 9 juta barel minyak per hari masih dapat melintasi Selat Hormuz dengan bantuan pengawalan militer AS.
Informasi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa harga minyak belum mengalami lonjakan ekstrem meskipun ketegangan geopolitik meningkat. Pasar masih melihat adanya pasokan yang berhasil mencapai konsumen.
Situasi ini menciptakan keseimbangan yang rumit. Selama minyak masih dapat bergerak dalam jumlah cukup besar, tekanan kenaikan harga dapat diredam. Namun, jika eskalasi keamanan mengurangi volume pelayaran secara signifikan, pasar dapat dengan cepat mengubah perkiraan pasokan dan mendorong harga lebih tinggi.
Fundamental Pasokan Masih Ketat
Di luar faktor geopolitik, fundamental pasokan tetap memberikan dukungan terhadap harga minyak. International Energy Agency (IEA) memperkirakan gangguan produksi dan perdagangan minyak akibat konflik Timur Tengah masih akan menekan pasokan global.
Dalam proyeksi terbaru, IEA memperkirakan pasokan minyak dunia pada 2026 turun sekitar 4,3 juta barel per hari atau 4% akibat konflik dan gangguan terhadap aliran minyak, dengan defisit pasokan sekitar 1,27 juta barel per hari terhadap permintaan.
Perkiraan tersebut menunjukkan bahwa masalah pasar minyak tidak hanya berkaitan dengan sentimen jangka pendek. Penurunan produksi di sejumlah kawasan dan gangguan terhadap infrastruktur energi dapat memberikan dampak yang lebih panjang terhadap keseimbangan pasar.
IEA juga menilai pemulihan pasokan sangat bergantung pada perkembangan konflik dan kembalinya arus tanker melalui Selat Hormuz. Jika pelayaran kembali normal, sebagian produksi yang sebelumnya terganggu dapat kembali ke pasar. Namun, apabila gangguan berlanjut, defisit pasokan berpotensi bertahan lebih lama.
Permintaan Global Menjadi Faktor Penahan
Meskipun pasokan menjadi perhatian utama, pasar minyak juga menghadapi faktor penahan dari sisi permintaan. Kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi global membuat investor tidak sepenuhnya yakin bahwa kenaikan harga dapat berlangsung tanpa batas.
Harga minyak yang tinggi sendiri dapat menekan konsumsi bahan bakar. Jika biaya energi meningkat terlalu cepat, konsumen dan industri dapat mengurangi penggunaan energi atau beralih ke sumber energi alternatif.
IEA sebelumnya memperkirakan permintaan minyak global mengalami kontraksi pada 2026 akibat dampak konflik dan harga energi yang lebih tinggi. Proyeksi tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat membatasi penguatan harga apabila ketegangan geopolitik tidak berkembang menjadi gangguan pasokan yang lebih parah.
Dengan demikian, pasar menghadapi dua kekuatan yang berlawanan. Gangguan pasokan dan risiko geopolitik mendorong harga naik, sementara kekhawatiran terhadap permintaan memberikan tekanan ke bawah.
Brent Masih Berpeluang Bertahan di Atas US$80
Brent masih mencatat kenaikan lebih dari 4% sepanjang pekan meskipun mengalami koreksi pada sesi sebelumnya. Kinerja tersebut menunjukkan bahwa sentimen pasar masih cenderung positif terhadap minyak.
Namun, kenaikan mingguan tidak berarti pasar terbebas dari risiko koreksi. Investor dapat mengambil keuntungan setelah reli, terutama ketika belum ada perkembangan konkret mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz.
Dalam jangka pendek, area US$80 dapat menjadi batas psikologis penting bagi Brent. Selama harga mampu bertahan di atas area tersebut, struktur pasar masih relatif kuat. Sebaliknya, penurunan di bawah US$80 dapat membuka ruang bagi koreksi yang lebih dalam apabila risiko geopolitik mulai mereda.
Analisis Teknikal: US$90 Menjadi Target Jika Eskalasi
Dari perspektif teknikal, Brent saat ini berada dalam fase konsolidasi setelah mengalami kenaikan cukup kuat. Resistance psikologis US$90 menjadi level yang penting untuk diperhatikan.
Apabila terjadi eskalasi baru di Timur Tengah, terutama yang berdampak langsung pada pelayaran di Selat Hormuz, harga berpotensi kembali bergerak menuju US$90. Penembusan level tersebut dapat memperkuat momentum bullish dan membuka ruang bagi kenaikan berikutnya.
Sebaliknya, kesepakatan nyata mengenai pembukaan kembali Hormuz dapat menghilangkan sebagian premi risiko yang saat ini melekat pada harga minyak. Dalam kondisi tersebut, aksi ambil untung berpotensi semakin besar dan mendorong Brent kembali turun menuju area support.
Karena itu, pergerakan harga akan sangat sensitif terhadap berita geopolitik dalam beberapa hari dan pekan mendatang.
Pasar Berada dalam Fase Wait and See
Secara keseluruhan, pasar minyak saat ini berada dalam fase wait and see. Investor menimbang kebuntuan diplomasi dan risiko keamanan melawan fakta bahwa sebagian arus minyak masih tetap berjalan.
Selama Selat Hormuz belum kembali beroperasi secara normal dan serangan terhadap kapal maupun infrastruktur energi masih terjadi, Brent berpotensi mempertahankan pergerakan dalam kisaran US$80–US$90 per barel.
Skenario bullish akan semakin kuat apabila terjadi eskalasi baru yang mengganggu ekspor atau pelayaran. Dalam kondisi tersebut, premi risiko dapat meningkat dan mendorong Brent mendekati US$90.
Sebaliknya, kesepakatan konkret antara pihak-pihak yang terlibat untuk memastikan keamanan dan pembukaan kembali Selat Hormuz berpotensi memicu koreksi. Pasar akan menilai bahwa risiko gangguan pasokan mulai berkurang sehingga premi geopolitik dapat terhapus secara bertahap.
Prospek Minyak Tetap Ditentukan Hormuz
Untuk saat ini, Selat Hormuz menjadi kunci utama arah harga minyak. Fundamental pasokan yang relatif ketat memberikan dasar bagi harga untuk tetap tinggi, tetapi arus minyak yang masih berjalan mencegah terjadinya lonjakan yang lebih ekstrem.
Investor juga perlu memperhatikan keseimbangan antara pasokan dan permintaan global. Jika gangguan pasokan semakin parah ketika permintaan tetap kuat, harga minyak berpotensi menembus US$90. Namun, jika diplomasi menghasilkan kesepakatan dan aliran minyak kembali normal, pasar dapat mengalami koreksi karena premi risiko berkurang.
Dengan Brent masih berada di atas US$80 dan kenaikan mingguan tetap terjaga, tren minyak belum menunjukkan perubahan fundamental yang besar. Namun, volatilitas diperkirakan tetap tinggi. Untuk jangka pendek, arah harga akan sangat ditentukan oleh satu pertanyaan utama: apakah Selat Hormuz akan kembali normal, atau justru menjadi pusat eskalasi berikutnya dalam konflik Timur Tengah.