Bestprofit (13/8) – Harga minyak mentah bertahan di dekat level tinggi pada perdagangan Kamis (13/08) setelah mencatat kenaikan selama enam sesi berturut-turut. Brent bergerak di sekitar US$88 per barel setelah melonjak sekitar 12% dalam enam sesi sebelumnya. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di bawah US$83 per barel.
Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa pasar masih memberikan premi risiko yang cukup besar terhadap potensi gangguan pasokan energi global. Perhatian investor terutama tertuju pada perkembangan Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu titik penting dalam perdagangan minyak dunia.
Hingga saat ini, pasar belum memperoleh kepastian mengenai kapan aktivitas melalui Selat Hormuz dapat kembali normal. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar tetap berhati-hati dan mempertahankan eksposur terhadap risiko gangguan pasokan.
Bestprofit | Minyak Naik, Hormuz Jadi Sorotan
Negosiasi AS-Iran Masih Menemui Jalan Buntu
Salah satu faktor utama yang menopang harga minyak adalah belum adanya kemajuan berarti dalam negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.
Presiden Donald Trump mengatakan Amerika Serikat memiliki “kendali penuh” atas jalur tersebut. Pada saat yang sama, Washington masih mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran sebagai bagian dari tekanan ekonomi terhadap Teheran.
Situasi tersebut membuat harapan terhadap normalisasi lalu lintas energi melalui Hormuz masih terbatas. Pasar membutuhkan perkembangan konkret, bukan sekadar pernyataan politik, untuk mengurangi kekhawatiran mengenai pasokan.
Pakistan yang berperan sebagai mediator juga menyebut proses perdamaian yang lebih luas mulai mengalami kebuntuan. Pernyataan tersebut semakin memperkuat kekhawatiran bahwa ketegangan AS-Iran dapat berlangsung lebih lama dari perkiraan sebelumnya.
Bagi pasar minyak, durasi gangguan menjadi faktor yang sangat penting. Semakin lama ketidakpastian berlangsung, semakin besar kemungkinan konsumen dan perusahaan energi melakukan penyesuaian terhadap pola perdagangan, penyimpanan, dan pengiriman minyak.
Selat Hormuz Menjadi Kunci Pergerakan Harga
Selat Hormuz memiliki posisi strategis dalam rantai pasokan energi global. Gangguan terhadap jalur tersebut dapat memberikan dampak besar terhadap perdagangan minyak karena jalur ini menjadi salah satu rute utama bagi pengiriman energi dari kawasan Timur Tengah.
Karena itu, setiap perkembangan terkait pembukaan kembali Hormuz langsung tercermin dalam pergerakan harga minyak. Ketika muncul tanda-tanda bahwa jalur tersebut dapat segera kembali normal, tekanan terhadap harga berpotensi berkurang. Sebaliknya, semakin lama gangguan berlangsung, semakin besar premi risiko yang dapat ditambahkan pasar.
Kondisi ini menjelaskan mengapa Brent mampu bertahan di sekitar US$88 meskipun terdapat tekanan dari peningkatan persediaan minyak mentah Amerika Serikat.
IEA Melihat Defisit Pasokan yang Lebih Besar
Dukungan fundamental terhadap harga minyak juga datang dari perkiraan defisit pasar global. International Energy Agency atau IEA memperkirakan pasar minyak dunia mengalami defisit sekitar 1,8 juta barel per hari pada kuartal ini.
Angka tersebut lebih dari dua kali lipat dibandingkan proyeksi sebelumnya. Perubahan perkiraan tersebut menunjukkan bahwa dampak konflik AS-Iran terhadap keseimbangan pasokan dan permintaan energi global semakin diperhitungkan.
Untuk keseluruhan 2026, defisit pasar minyak diperkirakan menjadi yang terbesar dalam lima tahun. Konflik AS-Iran serta gangguan terhadap infrastruktur energi menjadi faktor utama yang mendorong perubahan proyeksi tersebut.
Jika defisit benar-benar berlangsung dalam skala tersebut, pasar akan menghadapi kondisi persediaan yang lebih ketat. Dalam situasi seperti itu, setiap gangguan tambahan terhadap produksi atau distribusi berpotensi memberikan respons harga yang lebih besar.
Lonjakan Stok AS Menahan Kenaikan Harga
Meski faktor pasokan global memberikan dukungan kuat, pasar minyak menghadapi tekanan jangka pendek dari peningkatan persediaan minyak mentah Amerika Serikat.
Data Energy Information Administration menunjukkan stok crude AS meningkat 17,4 juta barel pada pekan lalu. Kenaikan tersebut merupakan yang terbesar sejak Januari 2023.
Lonjakan persediaan menjadi perhatian karena menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara arus masuk dan keluar minyak di pasar domestik AS. Peningkatan stok terutama terjadi di kawasan Gulf Coast.
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh melemahnya ekspor dan meningkatnya impor minyak mentah. Pasokan tambahan juga berasal dari masuknya kembali minyak dari Arab Saudi dan Venezuela.
Pertumbuhan stok dalam jumlah besar dapat menjadi faktor penahan bagi reli harga minyak dalam jangka pendek. Jika persediaan terus meningkat, pasar dapat melihat bahwa pasokan fisik masih cukup tersedia di salah satu pusat konsumsi energi terbesar dunia.
Namun, data tersebut belum cukup untuk menghilangkan risiko pasokan global yang lebih luas. Persoalannya bukan hanya jumlah minyak yang tersedia, tetapi juga lokasi, jalur pengiriman, serta kemampuan pasar mendistribusikan minyak ke wilayah yang membutuhkan.
Harga Bensin dan Diesel AS Masih Tinggi
Dampak kenaikan harga minyak juga mulai terlihat pada pasar bahan bakar Amerika Serikat. Harga bensin dan diesel masih berada pada level yang tidak biasa untuk periode ini dalam setahun.
Kondisi tersebut menambah tekanan terhadap konsumen karena biaya energi memiliki pengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap pengeluaran rumah tangga. Harga bahan bakar yang tinggi dapat meningkatkan biaya transportasi dan distribusi, yang kemudian berpotensi memengaruhi harga berbagai barang.
Situasi tersebut juga menjaga kekhawatiran terhadap inflasi tetap hidup. Bagi pasar keuangan, perkembangan ini penting karena kenaikan harga energi dapat mempersulit bank sentral dalam menjaga inflasi tetap terkendali.
Dengan demikian, pergerakan harga minyak tidak hanya menjadi isu bagi sektor energi. Kenaikan minyak juga dapat memengaruhi ekspektasi inflasi, kebijakan moneter, serta kondisi perekonomian secara lebih luas.
Pasar Menghadapi Dua Kekuatan Berlawanan
Pasar minyak saat ini berada di antara dua kekuatan yang saling berlawanan. Di satu sisi, defisit global sekitar 1,8 juta barel per hari dan ketidakpastian terkait Selat Hormuz memberikan alasan kuat bagi harga untuk tetap tinggi.
Di sisi lain, lonjakan stok minyak mentah AS sebesar 17,4 juta barel menjadi penahan jangka pendek. Peningkatan persediaan tersebut menunjukkan bahwa pasar fisik AS memiliki pasokan yang cukup besar untuk sementara waktu.
Pertarungan antara kedua faktor tersebut akan menentukan arah minyak dalam beberapa sesi perdagangan berikutnya. Jika perkembangan terkait Hormuz tetap buntu, risiko kenaikan harga kemungkinan akan lebih dominan.
Sebaliknya, jika negosiasi AS-Iran menghasilkan kesepakatan konkret dan lalu lintas melalui Hormuz mulai kembali normal, premi risiko pada harga minyak dapat berkurang dengan cepat.
Brent Berpeluang Bertahan di US$85–US$90
Dalam kondisi saat ini, Brent berpotensi tetap bergerak di kisaran US$85–US$90 per barel. Area tersebut menjadi zona penting karena pasar mencoba menyeimbangkan risiko gangguan pasokan dengan meningkatnya persediaan minyak di AS.
Selama Selat Hormuz belum kembali beroperasi secara normal, harga kemungkinan masih mendapatkan dukungan dari kekhawatiran mengenai pasokan. Bahkan, jika gangguan semakin dalam atau berlangsung lebih lama, Brent berpeluang kembali menguat dan menembus batas atas kisaran tersebut.
Sebaliknya, peningkatan stok AS yang berkelanjutan dapat membatasi ruang kenaikan. Pasar juga akan mencermati perkembangan ekspor dan impor AS untuk mengetahui apakah lonjakan persediaan tersebut hanya bersifat sementara atau mencerminkan perubahan yang lebih mendasar dalam keseimbangan pasar.
Risiko Harga Minyak Masih Cenderung ke Atas
Secara keseluruhan, pasar minyak masih menghadapi risiko kenaikan yang cukup besar. Reli enam sesi berturut-turut menunjukkan kuatnya respons investor terhadap ancaman gangguan pasokan, sementara proyeksi defisit global dari IEA memberikan dukungan fundamental tambahan.
Namun, lonjakan stok minyak AS menjadi pengingat bahwa kenaikan harga tidak berlangsung tanpa hambatan. Persediaan yang meningkat tajam dapat memberikan tekanan dalam jangka pendek, terutama jika tidak ada eskalasi baru di Timur Tengah.
Untuk saat ini, perkembangan Selat Hormuz tetap menjadi faktor penentu utama. Selama jalur tersebut belum kembali normal dan negosiasi AS-Iran belum menghasilkan terobosan, Brent berpotensi bertahan di area US$85–US$90 per barel.
Jika gangguan pasokan semakin dalam, peluang kenaikan kembali terbuka. Sebaliknya, normalisasi Hormuz dapat mengurangi premi risiko dan membuka ruang bagi harga untuk terkoreksi. Dengan demikian, pasar minyak masih berada dalam fase sensitif terhadap setiap perkembangan geopolitik dan data persediaan, sehingga volatilitas berpotensi tetap tinggi dalam waktu dekat.