Bestprofit (12/8) – Harga minyak kembali menguat pada perdagangan Selasa (11/8), melanjutkan reli yang terjadi dalam beberapa sesi terakhir. Kenaikan tersebut membawa harga minyak mentah ke level penutupan tertinggi dalam sekitar satu pekan, seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap keamanan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Harga minyak Brent ditutup naik 1,4% menjadi US$88,91 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 1,3% ke US$83,20 per barel. Kedua kontrak tersebut mencatat level penutupan tertinggi sejak 31 Juli.
Penguatan harga minyak terjadi setelah pada sesi sebelumnya Brent dan WTI melonjak sekitar 5%. Pasar mulai meragukan kemungkinan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran dalam waktu dekat. Ketidakpastian tersebut kembali meningkatkan premi risiko pada pasar minyak karena investor khawatir gangguan pasokan energi di Timur Tengah akan berlangsung lebih lama.
Hormuz Kembali Jadi Perhatian Utama
Salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga minyak adalah ketidakpastian mengenai Selat Hormuz. Jalur perairan strategis tersebut memiliki peranan sangat penting dalam perdagangan minyak dunia.
Sekitar 20% pasokan minyak global sebelumnya melewati Selat Hormuz. Karena itu, gangguan berkepanjangan terhadap aktivitas pelayaran di kawasan tersebut dapat memberikan dampak signifikan terhadap keseimbangan pasokan dan permintaan minyak dunia.
Sekretaris baru Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, mengatakan Selat Hormuz akan tetap ditutup selama Amerika Serikat belum mengubah sikap dan memenuhi sejumlah syarat yang diajukan Iran untuk mengakhiri perang.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa pembukaan kembali jalur strategis tersebut belum dapat dipastikan dalam waktu dekat. Bagi pasar energi, semakin lama Hormuz berada dalam kondisi tidak normal, semakin besar risiko gangguan terhadap distribusi minyak global.
Situasi ini membuat investor memasukkan premi risiko geopolitik yang lebih besar ke dalam harga minyak.
Bestprofit | Hormuz Belum Jelas, Minyak Bertahan Tinggi
Aktivitas Kapal di Hormuz Masih Rendah
Kekhawatiran pasar semakin kuat karena data pelayaran menunjukkan aktivitas kapal yang melintasi Selat Hormuz masih berada pada tingkat rendah.
Pada Senin, hanya sekitar enam kapal yang dilaporkan melintas di jalur tersebut. Jumlah itu jauh di bawah rata-rata 10 hari yang berada di sekitar 11 kapal.
Jika dibandingkan dengan kondisi sebelum konflik, penurunannya jauh lebih signifikan. Sebelum perang terjadi, lalu lintas harian di Selat Hormuz dapat mencapai sekitar 125–140 kapal.
Penurunan aktivitas pelayaran menjadi indikator bahwa risiko terhadap kelancaran distribusi energi masih tinggi. Bagi pasar, persoalannya bukan hanya mengenai jumlah minyak yang tersedia, tetapi juga kemampuan untuk mengirimkan minyak dari produsen menuju konsumen melalui jalur perdagangan utama.
Apabila aktivitas pelayaran tidak segera kembali normal, pasar dapat terus memberikan tambahan premi risiko terhadap harga minyak.
Peluang Kesepakatan AS-Iran Masih Jadi Faktor Penekan
Meski ketegangan meningkat, kemungkinan tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran tetap menjadi salah satu faktor yang paling diperhatikan oleh pelaku pasar.
Sebelumnya, harapan terhadap tercapainya kesepakatan damai sempat menekan harga minyak karena investor memperkirakan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah dapat kembali lebih lancar.
Namun, perkembangan terbaru membuat ekspektasi tersebut berkurang. Sikap yang lebih keras dari kedua pihak menciptakan ketidakpastian mengenai kapan konflik dapat berakhir dan kapan Selat Hormuz bisa kembali dibuka secara normal.
Kondisi ini membuat harga minyak menjadi sangat sensitif terhadap setiap pernyataan dari Washington maupun Teheran.
Jika muncul sinyal konkret mengenai kesepakatan, harga minyak berpotensi mengalami koreksi tajam. Sebaliknya, jika negosiasi kembali menemui hambatan atau ketegangan meningkat, minyak dapat memperoleh dukungan tambahan.
Risiko Meluas ke Laut Merah dan Bab el-Mandeb
Risiko terhadap perdagangan energi tidak hanya berasal dari Selat Hormuz. Ketegangan juga meluas ke kawasan Laut Merah dan Bab el-Mandeb.
Kelompok Houthi di Yaman dilaporkan menyerang kapal Saudi yang membawa perlengkapan militer. Serangan lain terhadap kapal kontainer juga menambah kekhawatiran mengenai keamanan jalur perdagangan di kawasan tersebut.
Laut Merah dan Bab el-Mandeb merupakan jalur penting bagi perdagangan internasional karena menghubungkan kawasan Laut Mediterania dengan Samudra Hindia melalui Terusan Suez.
Gangguan terhadap jalur tersebut dapat meningkatkan biaya dan waktu pengiriman karena kapal harus memilih rute alternatif yang lebih panjang. Bagi pasar energi, risiko tersebut dapat semakin memperbesar biaya logistik sekaligus menambah ketidakpastian terhadap distribusi minyak.
Dengan adanya tekanan di lebih dari satu jalur perdagangan strategis, pasar minyak menghadapi risiko geopolitik yang lebih kompleks dibandingkan hanya gangguan di satu kawasan.
Brent Semakin Dekat dengan Level US$90
Dari sisi harga, Brent kini semakin mendekati level psikologis US$90 per barel. Level tersebut menjadi perhatian karena penembusan yang kuat dapat memberikan sinyal bahwa momentum bullish masih berlanjut.
Jika Brent mampu menembus US$90 secara meyakinkan, pasar dapat melihat peluang kenaikan menuju level yang lebih tinggi. Namun, kemampuan harga untuk bertahan di atas level tersebut akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik dan prospek pasokan.
Sebaliknya, kegagalan menembus US$90 dapat memicu aksi ambil untung, terutama jika investor mulai melihat tanda-tanda bahwa ketegangan AS-Iran mereda.
Dengan demikian, level US$90 tidak hanya penting secara teknikal, tetapi juga menjadi area psikologis yang dapat menentukan sentimen perdagangan dalam jangka pendek.
Premi Risiko Masih Menopang Harga Minyak
Kenaikan harga minyak saat ini pada dasarnya tidak hanya mencerminkan kondisi fundamental permintaan dan pasokan, tetapi juga besarnya premi risiko yang dimasukkan investor.
Selama Selat Hormuz belum kembali beroperasi secara normal dan ketegangan regional masih tinggi, pasar kemungkinan akan tetap memberikan nilai tambah pada harga minyak sebagai kompensasi atas risiko gangguan pasokan.
Premi risiko tersebut dapat bertahan selama ketidakpastian geopolitik belum mereda. Bahkan, setiap gangguan baru terhadap kapal atau jalur perdagangan dapat kembali meningkatkan tekanan beli.
Namun, premi risiko juga memiliki sifat yang mudah berubah. Begitu muncul kepastian mengenai penyelesaian konflik atau pembukaan kembali jalur perdagangan, premi tersebut dapat menghilang dengan cepat dan menyebabkan harga minyak terkoreksi.
Pasar Menanti Sinyal dari AS dan Iran
Ke depan, arah harga minyak akan sangat bergantung pada perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran. Pasar akan mencermati setiap perkembangan diplomatik, termasuk kemungkinan negosiasi yang dapat membuka kembali Selat Hormuz.
Dalam skenario bullish, jika Hormuz tetap ditutup, aktivitas pelayaran terus rendah, dan ketegangan di Timur Tengah semakin meningkat, harga minyak berpotensi melanjutkan penguatan. Brent yang semakin dekat dengan US$90 dapat mencoba menembus level tersebut dan membuka ruang kenaikan berikutnya.
Sebaliknya, skenario bearish dapat terjadi jika Washington dan Teheran mulai menunjukkan kemajuan nyata menuju kesepakatan. Pembukaan kembali Selat Hormuz dan pemulihan aktivitas pelayaran akan mengurangi kekhawatiran pasokan sehingga premi risiko berpotensi turun dengan cepat.
Analisis Newsmaker: US$90 Jadi Level Kunci
Harga minyak kini berada dalam fase yang sangat sensitif terhadap berita geopolitik. Selama Selat Hormuz belum dibuka secara normal dan ketegangan regional masih tinggi, minyak masih memiliki alasan fundamental untuk mempertahankan penguatannya.
Brent yang berada di US$88,91 per barel semakin dekat dengan level US$90. Penembusan level tersebut dapat menjadi katalis lanjutan bagi tren bullish, terutama jika tidak ada tanda-tanda meredanya konflik.
Namun, investor perlu mewaspadai risiko koreksi tajam. Setiap sinyal nyata menuju kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran dapat mengubah sentimen pasar dengan cepat. Jika risiko gangguan pasokan mulai berkurang, premi geopolitik yang selama ini menopang harga minyak berpotensi terhapus.
Dengan demikian, perhatian pasar saat ini tidak hanya tertuju pada pergerakan harga minyak, tetapi juga pada perkembangan diplomatik dan keamanan jalur perdagangan di Timur Tengah. Selama ketidakpastian masih tinggi, harga minyak berpeluang bertahan kuat di dekat US$90. Namun, arah berikutnya tetap sangat bergantung pada apakah konflik akan semakin panjang atau mulai menemukan jalan menuju penyelesaian.