BPF Malang

Image

Bestprofit | Minyak Turun, OPEC+ Siap Genjot Produksi

Bestprofit (29/9) – Harga minyak global mengalami penurunan pada awal pekan ini, dipicu oleh kekhawatiran pasar atas potensi kenaikan produksi dari OPEC+ pada bulan November mendatang. Meskipun sempat mencatat kenaikan tajam minggu lalu, harga minyak kembali melemah karena sentimen kelebihan pasokan mulai mendominasi pasar energi global.

Brent turun di bawah level psikologis $70 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran $65 per barel. Penurunan ini mencerminkan kekhawatiran investor bahwa peningkatan produksi dari negara-negara anggota OPEC+ dapat membanjiri pasar, menambah tekanan pada harga di tengah prospek permintaan yang masih belum stabil.

Bestprofit | Minyak Naik, Tekanan Rusia Meningkat

Rencana OPEC+ untuk Meningkatkan Produksi

Aliansi OPEC+, yang dipimpin oleh Arab Saudi dan Rusia, dikabarkan tengah mempertimbangkan untuk meningkatkan produksi minyak mentah pada bulan November. Sumber-sumber yang mengetahui pembahasan tersebut menyebutkan bahwa peningkatan ini dapat melebihi kuota yang telah ditetapkan sebelumnya, yakni sebesar 137.000 barel per hari.

Langkah ini tampaknya merupakan bagian dari strategi OPEC+ untuk merebut kembali pangsa pasar yang sempat hilang selama periode pemangkasan produksi drastis akibat pandemi COVID-19. Alih-alih memainkan peran tradisionalnya sebagai penyeimbang harga (price stabilizer), OPEC+ kini lebih berfokus pada ekspansi produksi guna mempertahankan dominasinya di pasar global.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Harga Minyak Kembali Melemah

Harga minyak Brent untuk pengiriman November turun 1% menjadi $69,46 per barel pada pukul 07:29 pagi waktu Singapura. Sementara itu, WTI untuk pengiriman yang sama juga melemah 1,0% menjadi $65,04 per barel. Penurunan ini terjadi setelah Brent sempat mencatat kenaikan mingguan sebesar 5,2% pekan lalu.

Koreksi harga ini dianggap sebagai reaksi pasar terhadap kemungkinan peningkatan pasokan global, terutama dari anggota OPEC+. Para pelaku pasar kini mencemaskan potensi ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan dalam beberapa bulan ke depan, yang bisa memperdalam tekanan harga jika permintaan tidak mampu menyerap tambahan produksi.

Perubahan Strategi: Dari Pengendali Harga Menjadi Perebut Pangsa Pasar

Selama beberapa dekade terakhir, OPEC dikenal sebagai kartel yang berupaya menjaga kestabilan harga minyak dengan mengelola tingkat produksi. Namun, dinamika pasar minyak yang berubah cepat—termasuk masuknya produsen minyak serpih (shale oil) dari Amerika Serikat dan meningkatnya penggunaan energi terbarukan—memaksa OPEC+ mengubah strategi.

Aliansi ini kini cenderung lebih agresif dalam mengembalikan produksi yang sebelumnya dikurangi, demi mempertahankan relevansi dan pengaruhnya di pasar minyak global. Strategi ini, meskipun berdampak positif terhadap pendapatan jangka pendek, dapat memicu risiko over-supply yang mengancam kestabilan harga dalam jangka menengah hingga panjang.

Permintaan Global: Tiongkok Masih Jadi Penopang

Meski harga minyak menghadapi tekanan dari sisi pasokan, permintaan dari negara-negara besar seperti Tiongkok masih menjadi faktor pendukung. Tiongkok, sebagai importir minyak terbesar di dunia, terus melakukan pembelian dalam jumlah besar untuk mengisi cadangan strategis dan memenuhi kebutuhan industrinya yang bangkit pasca-pandemi.

Namun, ketergantungan pada satu negara sebagai penopang permintaan utama tentu berisiko. Jika pertumbuhan ekonomi Tiongkok melambat atau terjadi penurunan konsumsi energi akibat kebijakan transisi energi, maka pasar minyak global bisa kembali terguncang.

Proyeksi IEA: Kelebihan Pasokan Rekor pada 2026

Dalam laporan terbarunya, Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan bahwa pasar minyak global akan menghadapi kelebihan pasokan yang mencapai rekor tertinggi pada tahun 2026. Proyeksi ini didasarkan pada asumsi bahwa OPEC+ akan terus menghidupkan kembali produksi secara bertahap, sementara produsen non-OPEC seperti AS, Brasil, dan Kanada juga meningkatkan output mereka.

IEA menekankan bahwa peningkatan produksi yang tidak diimbangi dengan pertumbuhan permintaan yang cukup dapat menekan harga minyak ke level rendah yang bertahan lama. Hal ini akan menjadi tantangan besar bagi negara-negara produsen, terutama yang ekonominya sangat bergantung pada ekspor minyak mentah.

Prediksi Goldman Sachs: Brent Bisa Turun ke $50-an

Goldman Sachs Group Inc., salah satu lembaga keuangan ternama di dunia, memperkirakan bahwa harga Brent bisa jatuh ke pertengahan $50-an per barel pada tahun depan. Meskipun Tiongkok terus menimbun cadangan minyak mentah, potensi lonjakan pasokan dari OPEC+ dan pesaingnya membuat tekanan penurunan harga sulit dihindari.

Analis dari Goldman Sachs mencatat bahwa faktor-faktor struktural seperti peningkatan efisiensi energi, akselerasi transisi ke energi terbarukan, dan kebijakan dekarbonisasi dari berbagai negara, juga turut menekan prospek jangka panjang harga minyak.

Ketidakpastian Masih Membayangi Pasar Energi

Pasar energi global saat ini berada dalam masa transisi yang kompleks. Di satu sisi, kebutuhan jangka pendek terhadap bahan bakar fosil masih tinggi, terutama di negara berkembang. Namun di sisi lain, tren jangka panjang menunjukkan pergeseran menuju energi bersih, yang dapat menekan permintaan minyak dalam beberapa dekade ke depan.

Kondisi ini membuat kebijakan produksi dari OPEC+ harus dihitung dengan sangat hati-hati. Langkah yang terlalu agresif dalam meningkatkan produksi bisa menciptakan kelebihan pasokan yang tidak mudah diserap pasar. Sebaliknya, menahan produksi terlalu lama bisa menyebabkan kehilangan pangsa pasar ke produsen lain yang lebih fleksibel.

Penutup: Pasar Minyak Hadapi Titik Kritis

Harga minyak yang kembali turun di awal pekan mencerminkan keresahan pasar terhadap kebijakan OPEC+ dan dinamika permintaan global. Meski masih ada dukungan dari pembelian Tiongkok, prospek jangka menengah menunjukkan bahwa pasar harus bersiap menghadapi potensi kelebihan pasokan yang cukup besar.

Langkah OPEC+ dalam beberapa bulan ke depan akan menjadi penentu utama arah pasar. Apakah mereka akan menahan diri demi kestabilan harga, atau memilih ekspansi produksi demi merebut kembali pangsa pasar, masih menjadi teka-teki besar yang akan terus dipantau oleh pelaku pasar dan analis energi global.