
Harga
Minyak melonjak sekitar 5% ke level tertinggi dalam dua minggu pada hari Kamis (23/10) setelah AS menjatuhkan sanksi kepada pemasok utama Rusia Rosneft dan Lukoil atas perang Moskow di Ukraina, yang mendorong perusahaan energi di Tiongkok dan India untuk mempertimbangkan pengurangan impor Rusia.
Harga
Minyak berjangka Brent naik $3,40, atau 5,4%, menjadi $65,99 per barel, sementara harga
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik $3,29, atau 5,6%, menjadi $61,79.
Persentase kenaikan harian tersebut merupakan yang terbesar untuk kedua kontrak
Minyak mentah tersebut sejak pertengahan Juni dan penutupan tertinggi sejak 8 Oktober.
Rusia adalah produsen
Minyak mentah terbesar kedua di dunia pada tahun 2024 setelah AS, menurut data energi AS. Selain melonjaknya harga
Minyak mentah, harga
Minyak diesel berjangka AS melonjak hampir 7%, mendorong crack spread diesel ke level tertinggi sejak Februari 2024. Crack spread mengukur margin keuntungan penyulingan.
Sanksi AS berarti kilang-kilang di Tiongkok dan India, pembeli utama
Minyak Rusia, perlu mencari pemasok alternatif agar tidak dikecualikan dari sistem perbankan Barat, kata analis Saxo Bank, Ole Hansen.
Beberapa sumber perdagangan mengatakan kepada Reuters bahwa perusahaan-perusahaan
Minyak besar milik negara Tiongkok telah menangguhkan pembelian
Minyak Rusia yang diangkut melalui laut dari kedua perusahaan yang kini dikenai sanksi AS, sehingga semakin mendorong harga.
Menteri perminyakan Kuwait mengatakan bahwa Organisasi Negara-Negara Pengekspor
Minyak (OPEC) akan siap untuk mengimbangi kekurangan apa pun di
Pasar dengan mengurangi pemangkasan produksi.
Namun, Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan akan membutuhkan waktu bagi
Pasar global untuk menggantikan
Minyak Rusia.
“Ini, tentu saja, merupakan upaya untuk menekan Rusia,” tambah Putin. “Tetapi tidak ada negara dan rakyat yang menghargai diri sendiri yang akan memutuskan apa pun di bawah tekanan.
AS mengatakan siap untuk mengambil tindakan lebih lanjut dan mendesak Moskow untuk segera menyetujui gencatan senjata di Ukraina. (Arl)
Sumber: Reuters.com