Bestprofit (28/8) – Harga minyak mentah bertahan menguat pada perdagangan Jumat (28/08), setelah optimisme pasar terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran untuk membuka penuh Selat Hormuz mulai kehilangan tenaga. Investor kembali memasukkan premi risiko geopolitik ke dalam harga minyak setelah muncul sinyal bahwa proses diplomasi antara Washington dan Teheran tidak akan berlangsung secepat perkiraan sebelumnya.
Brent kontrak November bergerak di sekitar US$88,46 per barel setelah menguat 1,8% pada sesi perdagangan sebelumnya. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kontrak Oktober berada di sekitar US$83,39 per barel.
Perubahan sentimen tersebut menunjukkan bahwa pasar minyak masih sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Selat Hormuz menjadi faktor utama karena jalur tersebut merupakan salah satu titik strategis bagi perdagangan energi global. Setiap potensi gangguan terhadap arus minyak dari kawasan Teluk dapat dengan cepat meningkatkan kekhawatiran mengenai pasokan.
Hormuz Mulai Cair, Minyak Makin Tertekan
Optimisme Diplomasi AS–Iran Mulai Meredup
Sentimen pasar berubah setelah Presiden AS Donald Trump dilaporkan mengatakan kepada mediator bahwa Washington tidak tertarik untuk kembali pada ketentuan gencatan senjata Juni dengan Teheran.
Pernyataan tersebut mengurangi ekspektasi bahwa kesepakatan Iran–Oman mengenai pengelolaan Selat Hormuz dapat berkembang dengan cepat menjadi kesepakatan politik yang lebih luas antara Amerika Serikat dan Iran.
Sebelumnya, pelaku pasar mulai melihat pembicaraan tersebut sebagai kemungkinan awal dari proses deeskalasi. Jika hubungan kedua negara membaik, hambatan terhadap pelayaran melalui Hormuz berpotensi berkurang dan pasokan minyak dari kawasan Teluk dapat kembali meningkat secara bertahap.
Namun, perkembangan terbaru membuat skenario tersebut kembali dipertanyakan. Investor kini harus memperhitungkan kemungkinan bahwa ketegangan antara Washington dan Teheran akan bertahan lebih lama.
Gedung Putih Tegaskan Tidak Ada Negosiasi
Ketidakpastian semakin meningkat setelah Gedung Putih menegaskan bahwa Amerika Serikat saat ini tidak melakukan negosiasi dengan Iran. Washington juga menyatakan bahwa blokade terhadap pelabuhan Iran masih akan dipertahankan.
Sikap tersebut mengejutkan sebagian pelaku pasar yang sebelumnya mulai memperhitungkan kemungkinan deeskalasi. Ekspektasi tersebut sempat mendorong investor untuk mengantisipasi peningkatan pasokan minyak dalam waktu relatif cepat.
Jika blokade dan tekanan terhadap Iran terus berlangsung, proses normalisasi perdagangan minyak berpotensi menjadi lebih lambat. Kondisi ini dapat mempertahankan premi risiko pada harga minyak, terutama selama belum ada kepastian mengenai jalur diplomasi.
Bagi pasar energi, persoalan tersebut bukan sekadar mengenai hubungan politik AS dan Iran. Ketidakpastian mengenai keamanan jalur pelayaran juga menjadi perhatian utama karena setiap gangguan dapat memengaruhi distribusi minyak mentah dari produsen Teluk ke pasar global.
Arus Minyak Melalui Hormuz Mulai Meningkat
Di tengah belum tercapainya kesepakatan politik, terdapat perkembangan positif dari sisi pasokan. Aliran minyak melalui Selat Hormuz mulai menunjukkan peningkatan.
Pelaku pasar memperkirakan sekitar 6 juta hingga 8 juta barel minyak mentah per hari kini kembali dikirim melalui jalur strategis tersebut. Peningkatan tersebut terjadi seiring produsen minyak di kawasan Teluk meningkatkan ekspor meskipun ancaman Iran terhadap pelayaran belum sepenuhnya menghilang.
Kembalinya sebagian arus minyak menjadi faktor penting yang membatasi kenaikan harga. Pasar tidak hanya memperhatikan potensi konflik, tetapi juga melihat apakah pasokan fisik benar-benar mengalami gangguan.
Jika volume minyak yang melewati Hormuz terus meningkat, kekhawatiran mengenai kekurangan pasokan global dapat berkurang. Dengan demikian, kenaikan ekspor menjadi semacam penyeimbang terhadap premi geopolitik yang saat ini kembali masuk ke dalam harga minyak.
Minyak Masih Naik Lebih dari 45% Sepanjang Tahun
Meskipun menghadapi potensi penurunan mingguan, kinerja minyak sepanjang tahun masih sangat kuat. Harga minyak tercatat naik lebih dari 45% secara tahunan.
Namun, momentum jangka pendek mulai menghadapi tantangan. Pasar sebelumnya menyambut positif pembicaraan Iran–Oman dan menilai tekanan ekonomi terbaru Amerika Serikat terhadap Teheran tidak sekeras yang dikhawatirkan.
Perubahan persepsi tersebut membuat sebagian investor melakukan penyesuaian posisi. Ekspektasi mengenai membaiknya hubungan AS–Iran sempat menciptakan pandangan bahwa risiko gangguan pasokan akan berkurang.
Ketika harapan tersebut mulai memudar, harga minyak kembali mendapatkan dukungan. Akan tetapi, kenaikan tersebut tidak sepenuhnya bebas dari tekanan karena peningkatan ekspor melalui Hormuz menunjukkan bahwa pasokan fisik belum mengalami gangguan yang ekstrem.
Qatar Berusaha Menghidupkan Kembali Diplomasi
Meskipun Washington menegaskan belum melakukan negosiasi dengan Teheran, upaya diplomasi masih terus berlangsung melalui sejumlah jalur.
Qatar disebut berusaha menciptakan kondisi yang memungkinkan dialog antara Amerika Serikat dan Iran kembali dimulai. Peran mediator menjadi penting karena komunikasi langsung antara Washington dan Teheran masih menghadapi berbagai hambatan politik.
Bagi pasar minyak, keberhasilan diplomasi akan menjadi katalis yang berpotensi mengubah arah harga secara signifikan.
Jika dialog AS–Iran benar-benar kembali berlangsung dan menghasilkan kemajuan, investor kemungkinan akan mulai mengurangi premi risiko geopolitik. Dalam kondisi tersebut, harga minyak berpotensi mendapatkan tekanan karena pasar akan memperhitungkan peningkatan pasokan serta normalisasi jalur pelayaran.
Sebaliknya, kegagalan diplomasi dapat mempertahankan kekhawatiran mengenai pasokan. Gangguan baru terhadap pelayaran bahkan berpotensi mendorong harga naik dengan cepat.
Selat Hormuz Menjadi Kunci Arah Harga Minyak
Selat Hormuz kini menjadi salah satu faktor terpenting dalam menentukan arah minyak dalam jangka pendek. Pasar harus menyeimbangkan dua perkembangan yang berlawanan.
Di satu sisi, meningkatnya volume minyak yang melewati Hormuz menunjukkan bahwa aliran pasokan mulai pulih. Hal tersebut mengurangi risiko kekurangan minyak secara langsung.
Di sisi lain, belum adanya kesepakatan politik antara AS dan Iran membuat risiko gangguan tetap tinggi. Selama ancaman terhadap pelayaran belum sepenuhnya hilang, pasar kemungkinan akan mempertahankan sebagian premi risiko geopolitik.
Situasi ini membuat harga minyak berpotensi bergerak sangat sensitif terhadap setiap berita baru dari Washington, Teheran maupun negara-negara mediator.
Brent Berpeluang Bertahan di US$88–US$90
Secara teknikal dan fundamental, harga Brent saat ini masih memiliki peluang bertahan di kisaran US$88–US$90 per barel selama Washington mempertahankan blokade dan negosiasi resmi dengan Iran belum dimulai.
Premi risiko geopolitik memberikan dukungan terhadap harga, terutama setelah ekspektasi mengenai kesepakatan cepat AS–Iran mulai memudar.
Namun, kenaikan ekspor melalui Selat Hormuz menjadi faktor penahan yang tidak boleh diabaikan. Jika arus minyak terus meningkat tanpa gangguan berarti, pasar dapat kembali fokus pada sisi pasokan dan menekan harga.
Sebaliknya, munculnya gangguan baru pada pelayaran akan mengubah keseimbangan tersebut dengan cepat. Investor kemungkinan akan kembali meningkatkan eksposur terhadap minyak karena risiko pasokan menjadi lebih nyata.
Risiko Geopolitik Kembali Menjadi Penggerak Utama
Pergerakan minyak saat ini pada akhirnya sangat bergantung pada perkembangan geopolitik. Harapan terhadap kesepakatan AS–Iran yang sempat mendorong optimisme pasar kini mulai berkurang, sehingga premi risiko kembali menopang harga.
Dalam jangka pendek, Brent berpeluang bergerak di sekitar US$88–US$90 selama ketegangan tetap tinggi dan blokade AS masih berlangsung. Namun, pasar tetap harus mewaspadai perubahan mendadak.
Jika jalur diplomasi kembali hidup, tekanan jual dapat muncul karena investor mengantisipasi normalisasi perdagangan dan peningkatan pasokan. Sebaliknya, kegagalan negosiasi atau gangguan baru terhadap pelayaran di Selat Hormuz dapat memicu lonjakan harga minyak secara tajam.
Dengan demikian,
arah harga minyak dalam beberapa sesi mendatang akan ditentukan oleh pertarungan antara premi risiko geopolitik dan pemulihan arus pasokan melalui Selat Hormuz. Selama kedua faktor tersebut belum menemukan keseimbangan baru, volatilitas harga minyak diperkirakan tetap tinggi.