
Harga
Minyak bergerak stabil setelah sebelumnya turun paling tajam sejak awal Agustus, seiring investor menghitung mundur ke penerapan
Tarif AS yang lebih tinggi terhadap India atas pembelian
Minyak mentah Rusia. WTI diperdagangkan di atas $63/barel setelah anjlok lebih dari 2% pada sesi sebelumnya, sementara Brent ditutup di atas $67. Saat memasuki perdagangan awal sesi Asia 27/08. AS akan melipatgandakan
Tarif pada sejumlah barang India menjadi 50% untuk menghukum negara tersebut karena mengambil
Minyak Rusia. Meski bea baru mulai berlaku pukul 12:01 a.m. waktu Washington, kilang lokal India masih berencana mempertahankan sebagian besar pembelian mereka.
Langkah Washington—yang tidak mengambil tindakan serupa terhadap Tiongkok, pembeli besar
Minyak Rusia lainnya—merupakan bagian dari dorongan yang lebih luas untuk mencoba mengakhiri perang di Ukraina. Pada Selasa, Presiden Donald Trump memperingatkan kemungkinan “perang ekonomi” jika ia tidak bisa membuat Vladimir Putin dan Volodymyr Zelenskiy mengakhiri konflik. Tahun ini, harga
Minyak sudah turun lebih dari 10% karena perang dagang yang dipimpin AS memicu kekhawatiran permintaan, sementara OPEC+ membongkar pembatasan pasokan dengan cepat. IEA bahkan memperkirakan surplus rekor tahun depan. Trump memuji harga yang mendekati $60/barel, seraya menambahkan
Minyak kemungkinan akan “menembus level itu dalam waktu dekat.”
Di AS, laporan industri menunjukkan persediaan
Minyak mentah nasional turun tipis 1 juta barel pekan lalu, sejalan dengan penurunan bensin dan distilat. Data resmi akan dirilis Rabu malam. Kontrak WTI Oktober naik 0,3% ke $63,45/barel pada 07:22 pagi waktu Singapura. Brent Oktober ditutup turun 2,3% di $67,22/barel pada Selasa.(ayu)
Sumber:
newsmaker.id