BPF Malang

Image

Bestprofit | Dolar AS Tertekan Imbas Konflik Dagang

Bestprofit (11/4) – Indeks Dolar AS (DXY) terus melemah hingga mendekati level 101 pada Kamis (10 April), di tengah tekanan eksternal dari kebijakan tarif baru dan kekhawatiran internal akan dampak inflasi. Sinyal teknikal pun menunjukkan tekanan jual yang semakin kuat, memperlihatkan kerentanan dolar dalam menghadapi dinamika global yang berubah cepat.

DXY Terus Tertekan: Gagal Pertahankan Pemulihan Awal Minggu

Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, diperdagangkan di kisaran 101 pada sesi Kamis. Penurunan ini merupakan kelanjutan dari tren pelemahan yang dimulai sejak awal minggu, setelah gagal mempertahankan momentum pemulihan yang sempat terbentuk.

Tekanan terhadap dolar kian membesar menyusul ketegangan perdagangan terbaru antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Ketidakpastian global yang ditimbulkan oleh kebijakan tarif baru serta sinyal-sinyal dovish dari Federal Reserve turut memperlemah daya tarik dolar sebagai aset safe haven.

Bestprofit | Dolar AS Tertekan Tarif Tambahan untuk Tiongkok

Kebijakan Tarif Baru: Pukulan Tambahan untuk Pasar Global

Gedung Putih mengonfirmasi langkah mengejutkan berupa peningkatan tarif terhadap barang-barang impor dari Tiongkok. Tarif efektif kini melonjak hingga 145% untuk barang-barang tertentu, dengan tarif dasar tetap pada level 10% untuk produk lainnya. Kebijakan ini memperburuk tensi dagang dan menciptakan tekanan tambahan terhadap rantai pasok global.

Langkah ini dipandang sebagai bagian dari upaya proteksionis pemerintah AS untuk menekan defisit perdagangan, namun dampaknya justru berpotensi menekan daya beli konsumen dan meningkatkan biaya produksi secara luas, baik di dalam negeri maupun secara global.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Peringatan Serius dari Pejabat Federal Reserve

Seiring pengumuman tarif baru, sejumlah pejabat Federal Reserve juga angkat suara, memperingatkan potensi dampak negatif terhadap inflasi dan ketenagakerjaan. Dua pejabat tinggi, Jeff Schmid dan Lorie Logan, menegaskan bahwa lonjakan tarif yang mendadak dapat memperumit dinamika ekonomi AS.

Lorie Logan, Presiden Federal Reserve Dallas, menyatakan bahwa kebijakan perdagangan yang tidak konsisten bisa “memicu tekanan inflasi yang tidak diinginkan” serta menyebabkan “hilangnya pekerjaan di sektor-sektor sensitif”. Sementara itu, Schmid menambahkan bahwa gejolak yang ditimbulkan dari langkah semacam ini dapat mengganggu proses normalisasi kebijakan moneter The Fed.

Komentar dari para pejabat Fed ini cukup signifikan karena disampaikan di tengah kondisi inflasi yang masih menjadi perhatian utama, serta meningkatnya ketidakpastian arah kebijakan suku bunga menjelang paruh kedua tahun 2025.

Data Ketenagakerjaan Beri Sinyal Campuran

Klaim awal tunjangan pengangguran di AS naik tipis menjadi 223.000, menunjukkan adanya sedikit tekanan di pasar tenaga kerja. Sementara itu, klaim lanjutan justru turun menjadi 1,85 juta, menandakan bahwa sebagian besar warga yang kehilangan pekerjaan masih bisa kembali bekerja dalam waktu yang relatif singkat.

Namun, para analis menilai bahwa data ini menunjukkan sinyal campuran: di satu sisi pasar tenaga kerja masih relatif stabil, namun di sisi lain tekanan dari ketidakpastian kebijakan bisa mengubah arah dalam waktu cepat.

Pernyataan Logan yang menyinggung potensi kehilangan pekerjaan memperkuat argumen bahwa langkah tarif baru bisa mengganggu keseimbangan pasar kerja yang saat ini sedang rapuh.

Analisis Teknikal: Sinyal Jual Semakin Kuat

Dari sisi teknikal, situasi dolar AS juga tidak begitu meyakinkan. Indikator MACD (Moving Average Convergence Divergence) terus menunjukkan sinyal bearish, mengonfirmasi bahwa tekanan jual masih mendominasi pergerakan jangka pendek.

Sementara itu, indikator RSI (Relative Strength Index) berada tepat di atas level jenuh jual, yang mengisyaratkan bahwa meskipun ada kemungkinan rebound teknikal dalam waktu dekat, arah umum pasar tetap berada dalam tren menurun.

Para analis teknikal melihat bahwa selama DXY berada di bawah area 102, tekanan penurunan masih akan berlangsung. Level psikologis 100 menjadi support utama, dan jika tertembus, bisa membuka ruang penurunan lebih dalam menuju kisaran 98–99.

Inflasi: Gajah dalam Ruang Kebijakan The Fed

Meskipun pejabat Fed belum secara eksplisit menanggapi data CPI bulan Maret, pasar keuangan tetap sangat sensitif terhadap prospek inflasi ke depan. Para pelaku pasar menilai bahwa peningkatan tarif, jika bertahan lama, akan menyumbang tekanan biaya tambahan yang akhirnya bisa memicu inflasi kembali naik.

Di sisi lain, data inflasi inti sebelumnya sempat menunjukkan tanda-tanda pendinginan, membuka ruang bagi ekspektasi pemotongan suku bunga di akhir tahun. Namun dengan munculnya tekanan eksternal dari sektor perdagangan, skenario tersebut kini kembali dipertanyakan.

Dilema ini membuat Federal Reserve berada dalam posisi yang sulit: apakah harus melonggarkan kebijakan untuk menopang pertumbuhan atau mempertahankan suku bunga tinggi demi menjaga stabilitas harga?

Dolar AS dan Aset Global: Pergeseran Arah Modal

Melemahnya dolar AS berpotensi mendorong pergeseran arus modal global. Dalam kondisi normal, pelemahan dolar akan menguntungkan pasar negara berkembang karena membuat mata uang lokal menguat dan arus dana asing masuk lebih besar.

Namun, dalam konteks saat ini di mana pelemahan dolar disebabkan oleh ketidakpastian internal dan eksternal, investor justru menjadi lebih berhati-hati. Arus modal bisa saja berpindah ke aset-aset yang lebih aman seperti emas, franc Swiss, atau yen Jepang.

Kondisi ini menciptakan risiko tambahan bagi dolar untuk terus melemah dalam jangka menengah jika tidak diimbangi dengan langkah kebijakan yang kredibel dari otoritas moneter dan fiskal AS.

Apa Selanjutnya untuk Dolar?

Dengan beragam tekanan dari sisi fundamental dan teknikal, prospek dolar AS dalam jangka pendek tetap berada di bawah bayang-bayang ketidakpastian. Langkah kebijakan yang agresif dari pemerintah AS tanpa koordinasi dengan kebijakan moneter The Fed justru memperbesar risiko dislokasi pasar.

Sementara itu, pasar akan terus memantau data ekonomi selanjutnya — termasuk laporan inflasi, data ketenagakerjaan lanjutan, dan pernyataan dari pejabat bank sentral — untuk menilai ke mana arah kebijakan The Fed dan bagaimana respons dolar terhadap dinamika global.

Kesimpulan: Dolar Dalam Tekanan, Pasar Mencari Arah Baru

Kombinasi antara lonjakan tarif, peringatan inflasi dari The Fed, dan data ekonomi yang beragam membuat dolar AS berada di persimpangan penting. Indeks DXY yang mendekati level 101 mencerminkan kondisi pasar yang penuh ketidakpastian dan kebutuhan akan arah kebijakan yang lebih jelas.

Selama ketegangan perdagangan belum mereda dan inflasi tetap menjadi risiko laten, dolar kemungkinan akan tetap berada di bawah tekanan. Para pelaku pasar pun akan semakin selektif dalam menempatkan modal, mencari aset yang lebih stabil dan prediktif dalam jangka menengah.