BPF Malang

Image

Bestprofit | Dolar Menguat di Tengah Gejolak Tarif AS

Bestprofit (25/2) – Dolar Amerika Serikat (USD) menguat pada Selasa (24/2) setelah sempat tertekan di awal pekan. Pergerakan ini terjadi ketika pasar mencerna putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat yang membatasi sebagian skema tarif pemerintahan Donald Trump. Meskipun keputusan tersebut sempat menekan sentimen terhadap dolar, langkah cepat Washington untuk tetap memberlakukan tarif global 10% serta membuka wacana peningkatan hingga 15% membuat ketidakpastian perdagangan kembali menjadi tema dominan di pasar valuta asing.

Kondisi ini mendorong pelaku pasar kembali memburu dolar sebagai aset lindung nilai likuid, terutama di tengah kekhawatiran bahwa ketegangan dagang bisa memperlambat pertumbuhan global. Kombinasi antara kebijakan tarif yang dinamis dan nada kebijakan moneter yang lebih ketat menjadi katalis pemulihan greenback.

Bestprofit | Dolar Tertekan, Risiko Tarif Menguat

Putusan Pengadilan dan Respons Cepat Washington

Putusan Mahkamah Agung AS menjadi titik awal volatilitas pasar pada pekan ini. Pengadilan membatasi sebagian kewenangan eksekutif dalam menerapkan tarif tertentu, yang sempat diinterpretasikan sebagai potensi pelonggaran tekanan dagang. Namun, optimisme tersebut tidak bertahan lama.

Pemerintahan Trump bergerak cepat dengan memastikan bahwa tarif global 10% tetap berjalan sesuai jadwal. Bahkan, wacana peningkatan tarif menjadi 15% kembali mencuat sebagai opsi kebijakan. Hal ini menciptakan kebingungan sekaligus kehati-hatian di kalangan investor dan pelaku usaha internasional.

Bagi pasar valuta, ketidakpastian kebijakan perdagangan biasanya berdampak dua arah. Di satu sisi, risiko perlambatan ekonomi global dapat menekan prospek pertumbuhan AS. Di sisi lain, dolar sering kali diuntungkan sebagai mata uang cadangan utama dunia saat volatilitas meningkat. Dalam konteks kali ini, faktor kedua tampaknya lebih dominan.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Nada Hawkish dari The Fed Perkuat USD

Selain faktor tarif, penguatan dolar juga ditopang oleh pernyataan pejabat bank sentral AS. Presiden Federal Reserve Bank of Chicago, Austan Goolsbee, menegaskan bahwa pemangkasan suku bunga baru layak dipertimbangkan jika terdapat bukti kuat bahwa inflasi benar-benar kembali mendekati target 2%.

Pernyataan ini mengirimkan sinyal bahwa Federal Reserve tidak akan tergesa-gesa melonggarkan kebijakan moneternya. Sikap tersebut dinilai hawkish karena mengindikasikan suku bunga akan tetap tinggi lebih lama, atau setidaknya tidak segera diturunkan.

Dalam dinamika pasar global, ekspektasi suku bunga memainkan peran penting dalam menentukan arah mata uang. Ketika bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi, imbal hasil aset berdenominasi dolar menjadi lebih menarik bagi investor global. Arus modal pun cenderung mengalir ke AS, mendukung penguatan USD.

Data Ketenagakerjaan ADP Perkuat Narasi Stabilitas

Dari sisi fundamental domestik, data ketenagakerjaan turut memberikan dorongan tambahan bagi dolar. Laporan versi ADP menunjukkan bahwa rata-rata empat minggu naik menjadi 12,8 ribu dari sebelumnya 11,5 ribu. Angka tersebut mengindikasikan bahwa pasar tenaga kerja AS masih relatif stabil, meskipun terdapat berbagai tekanan eksternal.

Stabilitas pasar kerja menjadi elemen penting dalam kalkulasi kebijakan moneter. Selama penciptaan lapangan kerja tetap solid dan tingkat pengangguran tidak melonjak tajam, The Fed memiliki ruang untuk mempertahankan kebijakan ketat guna memastikan inflasi benar-benar terkendali.

Kombinasi antara data tenaga kerja yang solid dan sikap hawkish pejabat bank sentral membuat indeks dolar AS (DXY) menguat sekitar 0,26% ke level 97,94 pada perdagangan terbaru. Angka ini mencerminkan pemulihan permintaan dolar setelah gejolak yang dipicu isu tarif.

Pergerakan di Major Pairs: Euro dan Pound Sterling

Di pasar mata uang utama, pasangan EUR/USD diperdagangkan di dekat 1,1790 dan cenderung stabil sepanjang hari. Stabilitas euro tidak terlepas dari kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB) yang secara efektif mempertahankan inflasi di sekitar target 2%.

Keberhasilan ECB menjaga inflasi mendekati target memberikan fondasi yang relatif kuat bagi euro. Namun, tanpa katalis tambahan dari sisi pertumbuhan atau kebijakan suku bunga yang lebih agresif, euro kesulitan menekan dolar secara signifikan.

Sementara itu, GBP/USD berada di sekitar 1,3510. Pasangan ini memangkas sebagian keuntungan intraday, tetapi masih bertahan di zona positif. Hal ini terjadi bahkan setelah Gubernur Bank of England (BoE), Andrew Bailey, membuka pintu bagi kemungkinan pelonggaran kebijakan lebih lanjut.

Pernyataan Bailey mencerminkan kehati-hatian otoritas Inggris di tengah ketidakpastian kebijakan perdagangan global. Meski demikian, pound tetap menunjukkan ketahanan relatif, didukung oleh faktor domestik dan ekspektasi bahwa pelonggaran BoE tidak akan dilakukan secara agresif dalam waktu dekat.

Dinamika di Asia: Yen Melemah

Di kawasan Asia, yen Jepang mengalami pelemahan. Laporan menyebutkan bahwa Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menyampaikan kehati-hatian terkait kenaikan suku bunga lebih lanjut kepada Gubernur Bank of Japan (BoJ), Kazuo Ueda.

Sinyal kehati-hatian tersebut ditafsirkan pasar sebagai indikasi bahwa normalisasi kebijakan moneter Jepang mungkin berjalan lebih lambat dari perkiraan. Akibatnya, yen tertekan dan pasangan USD/JPY menguat ke kisaran 155–156.

Perbedaan arah kebijakan moneter antara AS dan Jepang semakin mencolok. Jika The Fed cenderung mempertahankan suku bunga tinggi, sementara BoJ tetap berhati-hati dalam menaikkan suku bunga, maka selisih imbal hasil (yield differential) akan terus mendukung penguatan dolar terhadap yen.

Ketidakpastian Global dan Prospek Dolar

Secara keseluruhan, penguatan dolar pada sesi terbaru mencerminkan kombinasi faktor domestik dan eksternal. Ketidakpastian tarif AS, sikap hawkish The Fed, serta data ekonomi yang relatif solid menjadi fondasi utama penguatan USD.

Namun, prospek dolar ke depan tetap bergantung pada beberapa variabel kunci. Pertama, arah kebijakan tarif AS dan respons negara mitra dagang akan menentukan tingkat ketegangan perdagangan global. Kedua, perkembangan inflasi AS akan menjadi penentu utama sikap The Fed. Jika inflasi melambat lebih cepat dari perkiraan, ekspektasi pemangkasan suku bunga dapat kembali mengemuka dan menekan dolar.

Di sisi lain, selama ekonomi AS menunjukkan ketahanan dan kebijakan moneter tetap relatif ketat dibandingkan bank sentral utama lainnya, dolar berpotensi mempertahankan daya tariknya. Dalam lingkungan global yang sarat ketidakpastian, greenback masih menjadi jangkar stabilitas bagi banyak investor internasional.

Dengan DXY kembali mendekati level 98 dan volatilitas pasar tetap tinggi, pelaku pasar akan terus memantau perkembangan kebijakan perdagangan, komentar pejabat bank sentral, serta rilis data ekonomi mendatang. Arah dolar dalam beberapa pekan ke depan kemungkinan besar akan ditentukan oleh keseimbangan antara risiko eksternal dan kekuatan fundamental domestik AS.