BPF Malang

Image

Bestprofit | Dolar Menguat, Loonie Terkuat di G-10

Bestprofit (6/3) – Pasar keuangan global kembali diwarnai oleh penguatan dolar Amerika Serikat di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan lonjakan harga energi. Mata uang AS mencatat kenaikan hari ketiga dalam pekan ini, didorong oleh kombinasi faktor makroekonomi, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta meningkatnya premi risiko global.

Salah satu pemicu utama sentimen pasar adalah lonjakan harga minyak mentah West Texas Intermediate yang sempat menembus level 81 dolar per barel—tertinggi sejak pertengahan 2024—sebelum akhirnya memangkas sebagian kenaikan menjelang akhir sesi perdagangan di New York. Lonjakan harga energi tersebut memperkuat permintaan terhadap dolar sebagai aset likuid utama dunia.

Dalam kondisi pasar yang penuh ketidakpastian, sebagian besar mata uang utama dunia melemah terhadap dolar. Namun terdapat beberapa pengecualian menarik, seperti dolar Kanada yang menunjukkan ketahanan relatif lebih baik dibandingkan mata uang G-10 lainnya.

Dolar Menguat, Data ISM-ADP Pangkas Peluang Cut Rate Fed

Lonjakan Harga Minyak Picu Sentimen Risk-Off

Lonjakan harga minyak menjadi salah satu katalis utama pergerakan pasar pekan ini. Minyak mentah WTI sempat melonjak hingga sekitar 8,7 persen selama sesi perdagangan Amerika Serikat ketika investor semakin memperhitungkan kemungkinan konflik Timur Tengah yang berkepanjangan.

Kekhawatiran utama investor adalah potensi gangguan terhadap arus energi global. Timur Tengah merupakan wilayah penting bagi produksi dan distribusi minyak dunia, sehingga setiap eskalasi konflik di kawasan tersebut dapat memicu lonjakan harga energi.

Namun reli minyak tidak berlangsung tanpa hambatan. Menjelang akhir perdagangan di New York, harga minyak mulai mengoreksi setelah muncul laporan bahwa pemerintah AS tengah menyiapkan langkah untuk menekan harga energi yang terlalu tinggi. Langkah ini dipandang sebagai upaya untuk menenangkan pasar energi global yang semakin sensitif terhadap risiko geopolitik.

Selain itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent disebut mempertimbangkan pendekatan diplomatik dengan meminta China mengurangi pembelian minyak dari Iran. Jika langkah ini terealisasi, pasar memperkirakan dinamika pasokan minyak global dapat berubah secara signifikan.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Ketegangan Geopolitik Menambah Premi Risiko Pasar

Di sisi geopolitik, perkembangan terbaru menunjukkan potensi eskalasi konflik yang semakin serius. Korps Garda Revolusi Iran atau IRGC menyatakan bahwa serangan balasan akan meningkat dalam beberapa hari mendatang.

Pernyataan tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik regional dapat berkembang menjadi krisis yang lebih luas dan berdampak pada stabilitas pasar global.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat “berjalan sangat baik di perang.” Pernyataan tersebut semakin memperkuat persepsi bahwa konflik belum menunjukkan tanda-tanda mereda dalam waktu dekat.

Kombinasi pernyataan militer dan politik tersebut membuat investor mempertahankan premi risiko yang tinggi di berbagai aset keuangan. Dalam situasi seperti ini, pasar biasanya beralih ke aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS dan obligasi pemerintah AS.

Penguatan Dolar dan Lonjakan Yield Treasury

Seiring meningkatnya ketidakpastian global, dolar AS kembali menguat terhadap sebagian besar mata uang utama dunia. Indeks Bloomberg Dollar Spot tercatat naik sekitar 0,34 persen pada pukul 15:30 waktu New York, setelah sebelumnya sempat menguat hingga sekitar 0,63 persen.

Penguatan dolar juga didukung oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Yield Treasury tenor 10 tahun naik sekitar 5 basis poin ke level 4,15 persen, menandai kenaikan selama empat hari perdagangan berturut-turut.

Kenaikan yield biasanya meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar karena investor dapat memperoleh imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan aset serupa di negara lain.

Kombinasi dolar yang kuat dan yield yang meningkat sering kali memberikan tekanan pada mata uang utama lain. Hal ini terjadi karena investor global cenderung mengalihkan dana mereka ke aset dolar yang menawarkan likuiditas tinggi dan imbal hasil yang lebih menarik.

Dolar Kanada Tahan Tekanan Pasar

Di tengah pelemahan mayoritas mata uang G-10, dolar Kanada menunjukkan ketahanan yang relatif lebih baik. Mata uang yang sering dijuluki loonie ini hanya melemah sekitar 0,2 persen terhadap dolar AS.

Kinerja tersebut membuat dolar Kanada menjadi salah satu mata uang dengan performa terbaik dalam kelompok G-10 selama pekan ini.

Ketahanan dolar Kanada sebagian besar didukung oleh hubungan erat ekonomi Kanada dengan sektor energi. Sebagai negara eksportir minyak utama, kenaikan harga minyak cenderung memberikan dukungan terhadap mata uang Kanada.

Dengan harga energi yang meningkat, investor memandang prospek pendapatan ekspor Kanada menjadi lebih kuat, sehingga tekanan terhadap mata uangnya relatif lebih kecil dibandingkan negara lain.

Euro Tertekan oleh Sentimen Pasar dan Risiko Inflasi

Berbeda dengan dolar Kanada, euro justru mengalami tekanan yang cukup signifikan. Pasangan EUR/USD turun sekitar 0,21 persen ke level 1,1609 setelah sempat melemah lebih dalam hingga sekitar 0,64 persen selama sesi perdagangan.

Euro juga masih diperdagangkan di bawah rata-rata pergerakan 200 hari yang berada di sekitar level 1,1672. Posisi ini secara teknikal menunjukkan bahwa tekanan terhadap mata uang Eropa tersebut masih cukup kuat.

Wakil Presiden Bank Sentral Eropa, Luis de Guindos, turut memperingatkan bahwa konflik Timur Tengah yang berkepanjangan dapat meningkatkan ekspektasi inflasi di kawasan Eropa.

Jika harga energi terus meningkat, tekanan inflasi di zona euro berpotensi bertambah, yang pada akhirnya dapat mempersulit kebijakan moneter Bank Sentral Eropa dalam menjaga stabilitas ekonomi.

Pasar Opsi Tunjukkan Sentimen Bearish terhadap Euro

Sentimen negatif terhadap euro juga terlihat jelas di pasar derivatif, khususnya pasar opsi valuta asing. One-week EUR/USD risk reversals tercatat semakin dalam di wilayah negatif, mencapai sekitar 1,68 persen yang memihak opsi put.

Posisi tersebut menunjukkan bahwa investor semakin bersiap menghadapi potensi pelemahan euro dalam jangka pendek. Bahkan, posisi bearish terhadap euro saat ini menjadi yang paling besar sejak Juli 2022.

Di pasar pasangan mata uang lainnya, euro juga melemah terhadap beberapa mata uang Eropa. EUR/GBP turun sekitar 0,1 persen ke level 0,86887 dan mencatat penurunan selama tiga hari berturut-turut.

Sementara itu, EUR/CHF juga bergerak melemah tipis menuju penurunan harian ketiga, diperdagangkan di sekitar level 0,9056.

Franc Swiss Tetap Jadi Safe Haven Favorit

Menariknya, meskipun dolar AS menguat secara luas, sebagian investor tetap mempertahankan eksposur terhadap franc Swiss. Data aliran transaksi dari DTCC menunjukkan bahwa banyak trader masih condong pada kekuatan franc Swiss sebagai salah satu safe haven utama.

Franc Swiss memiliki reputasi panjang sebagai aset pelindung nilai dalam periode ketidakpastian global. Stabilitas ekonomi Swiss, sistem keuangan yang kuat, serta kebijakan moneter yang konservatif membuat mata uang ini sering menjadi tujuan investor saat risiko global meningkat.

Dengan demikian, meskipun dolar tetap menjadi aset likuid utama dunia, franc Swiss masih mempertahankan statusnya sebagai alternatif safe haven yang penting dalam portofolio global.

Pergerakan Mata Uang Asia dan Pasifik

Di kawasan Asia, yen Jepang kembali melemah terhadap dolar AS. Pasangan USD/JPY naik ke sekitar 157,48 dengan puncak sesi mencapai 157,85, mendekati level tertinggi bulanan yang tercatat pada Maret di sekitar 157,97.

Kenaikan pasangan mata uang ini menunjukkan bahwa yen masih berada di bawah tekanan akibat perbedaan kebijakan moneter antara Jepang dan Amerika Serikat.

Sementara itu, dolar Australia juga mengalami pelemahan cukup tajam. Pasangan AUD/USD turun sekitar 0,9 persen ke level 0,7010 setelah sebelumnya sempat merosot hingga sekitar 1,4 persen selama sesi perdagangan.

Pelemahan mata uang Australia sebagian dipengaruhi oleh meningkatnya sentimen risk-off di pasar global, yang biasanya membuat investor mengurangi eksposur terhadap mata uang berbasis komoditas atau berisiko lebih tinggi.

Kesimpulan

Pergerakan pasar keuangan global saat ini menunjukkan bagaimana faktor geopolitik, harga energi, dan dinamika suku bunga dapat saling memengaruhi. Lonjakan harga minyak dan eskalasi konflik di Timur Tengah telah meningkatkan ketidakpastian pasar, mendorong investor kembali mencari aset yang dianggap lebih aman.

Dalam kondisi tersebut, dolar AS mendapatkan dukungan kuat berkat likuiditas global dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Mayoritas mata uang G-10 melemah terhadap dolar, meskipun beberapa seperti dolar Kanada menunjukkan ketahanan relatif karena dukungan dari harga energi yang tinggi.

Sementara itu, euro menghadapi tekanan tambahan dari kekhawatiran inflasi dan sentimen bearish di pasar derivatif. Franc Swiss tetap mempertahankan reputasinya sebagai safe haven alternatif, sementara mata uang Asia dan Pasifik sebagian besar berada di bawah tekanan.

Dengan ketegangan geopolitik yang masih tinggi dan pasar energi yang sensitif terhadap perkembangan terbaru, volatilitas di pasar mata uang diperkirakan akan tetap tinggi dalam waktu dekat. Investor pun akan terus memantau perkembangan konflik, kebijakan energi global, serta arah yield obligasi AS sebagai indikator utama arah pasar selanjutnya.