Bestprofit (1/9) – Harga emas bergerak di sekitar US$4.445 per troy ons pada perdagangan Senin (31/8), masih bertahan dekat level terendah dalam hampir dua pekan. Pergerakan logam mulia tersebut berada di bawah tekanan setelah meningkatnya ketegangan geopolitik justru mendorong kenaikan harga minyak dan yield obligasi pemerintah Amerika Serikat. Kondisi ini membuat pasar kembali mencemaskan risiko inflasi yang lebih tinggi dan kemungkinan Federal Reserve mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.
Situasi tersebut menciptakan dinamika yang cukup kompleks bagi pasar emas. Di satu sisi, ketidakpastian geopolitik biasanya meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven. Namun di sisi lain, kenaikan harga energi dan imbal hasil Treasury membuat emas kehilangan sebagian daya tariknya sebagai aset lindung nilai.
Bestprofit | Emas Masih Tertekan Efek Warsh
Harga Minyak Naik, Inflasi Kembali Jadi Perhatian
Salah satu faktor utama yang membebani emas adalah kenaikan harga minyak mentah. Harga minyak AS bergerak di atas US$85 per barel setelah Amerika Serikat dan Iran kembali terlibat dalam aksi saling serang.
Lonjakan harga energi menjadi perhatian penting bagi pasar karena minyak memiliki pengaruh luas terhadap biaya produksi, transportasi, hingga harga barang dan jasa. Jika kenaikan tersebut berlangsung lama, inflasi berpotensi bertahan lebih tinggi dari perkiraan.
Kondisi itu menjadi masalah bagi emas karena inflasi yang persisten dapat membuat Federal Reserve lebih sulit melonggarkan kebijakan moneternya. Pasar pun mulai kembali memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada September.
Bagi emas, kombinasi minyak yang mahal dan ekspektasi suku bunga tinggi merupakan tekanan ganda. Ketika imbal hasil aset berbasis dolar meningkat, investor memiliki insentif lebih besar untuk mengalokasikan dana ke instrumen yang memberikan pendapatan bunga.
Yield Treasury Tinggi Jadi Beban bagi Emas
Yield Treasury AS tenor 10 tahun sempat menyentuh sekitar 4,76%. Level tersebut menjadi salah satu hambatan terbesar bagi harga emas.
Emas tidak memberikan pembayaran bunga atau kupon. Karena itu, ketika yield obligasi pemerintah AS meningkat, opportunity cost memegang emas ikut naik. Investor harus mempertimbangkan apakah menyimpan dana dalam emas masih menarik dibandingkan memperoleh imbal hasil dari instrumen Treasury.
Kenaikan yield juga memperkuat daya tarik dolar AS terhadap sebagian mata uang lainnya. Namun pada perdagangan Senin, Dollar Index justru melemah sekitar 0,24% menjadi 99,43.
Pelemahan dolar tersebut sebenarnya memberikan sedikit dukungan terhadap emas karena bullion menjadi relatif lebih murah bagi pemegang mata uang selain dolar. Meski demikian, dampaknya belum cukup untuk mengimbangi tekanan yang datang dari kenaikan yield dan perubahan ekspektasi kebijakan The Fed.
Nada Hawkish The Fed Menekan Sentimen Pasar
Tekanan terhadap emas semakin kuat setelah Ketua The Fed Kevin Warsh menyampaikan pernyataan bernada hawkish dalam forum Jackson Hole.
Warsh menegaskan bahwa bank sentral AS masih harus bertindak apabila inflasi tidak menunjukkan kemajuan yang memadai menuju target 2%. Pernyataan tersebut membuat investor kembali meningkatkan perhatian terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan September.
Probabilitas kenaikan suku bunga September kemudian meningkat menjadi sekitar 64%, dibandingkan sekitar 36% sebelum pidato tersebut.
Perubahan ekspektasi ini penting bagi emas. Semakin besar kemungkinan suku bunga naik, semakin tinggi pula tekanan terhadap aset yang tidak menghasilkan bunga seperti emas.
Pasar kini tidak hanya memperhatikan arah inflasi, tetapi juga bagaimana data ekonomi AS dapat memengaruhi keputusan The Fed. Jika indikator ekonomi menunjukkan tekanan harga belum mereda, ruang bagi bank sentral untuk mempertahankan kebijakan ketat akan semakin besar.
Performa Agustus Tetap Sangat Kuat
Meskipun terkoreksi dalam beberapa sesi terakhir, performa emas sepanjang Agustus sebenarnya masih sangat impresif.
Harga emas tercatat naik sekitar 9,7% selama Agustus. Dengan kenaikan tersebut, Agustus menjadi bulan terbaik bagi emas sejak Januari.
Reli sebelumnya salah satunya dipicu oleh keputusan Departemen Keuangan AS untuk memperbesar pembelian kembali obligasi jangka panjang. Kebijakan buyback tersebut membantu menekan yield dan sekaligus kembali menghidupkan kekhawatiran mengenai besarnya utang pemerintah AS.
Dalam kondisi tersebut, emas kembali mendapatkan perhatian sebagai aset penyimpan nilai. Kekhawatiran terhadap keberlanjutan fiskal AS, potensi pelemahan dolar, serta meningkatnya risiko debasement menjadi alasan bagi sebagian investor untuk mempertahankan eksposur terhadap logam mulia.
Dengan demikian, koreksi emas saat ini belum serta-merta mengubah gambaran jangka menengah. Kenaikan hampir 10% dalam sebulan menunjukkan permintaan struktural terhadap emas masih kuat.
Fed Hawkish Berhadapan dengan Treasury Dovish
Pasar emas saat ini pada dasarnya berada dalam tarik-menarik antara dua kekuatan besar.
Di satu sisi, The Fed yang hawkish menjadi faktor negatif bagi emas. Ekspektasi suku bunga lebih tinggi mendorong yield Treasury dan meningkatkan opportunity cost memegang bullion.
Di sisi lain, kebijakan Treasury yang berupaya menekan biaya pinjaman melalui pembelian kembali obligasi menjaga narasi debasement trade tetap hidup. Kekhawatiran terhadap utang pemerintah AS dan prospek nilai dolar menjadi faktor yang dapat menopang permintaan emas.
Situasi tersebut membuat arah emas tidak mudah ditentukan hanya berdasarkan satu indikator. Pasar harus menimbang kebijakan moneter, kondisi fiskal, pergerakan dolar, serta perkembangan geopolitik secara bersamaan.
Konflik AS–Iran Tidak Sepenuhnya Menguntungkan Emas
Secara historis, eskalasi geopolitik cenderung menjadi katalis positif bagi emas. Investor biasanya mencari aset safe haven ketika risiko konflik meningkat.
Namun, konflik AS–Iran kali ini menghadirkan dinamika berbeda. Ketegangan tersebut mendorong harga minyak naik, sehingga pasar justru menghadapi ancaman inflasi baru.
Dengan demikian, manfaat safe haven bagi emas sebagian tertutup oleh kenaikan ekspektasi inflasi dan suku bunga. Investor memang membutuhkan perlindungan terhadap ketidakpastian geopolitik, tetapi pada saat yang sama mereka harus mempertimbangkan dampak kenaikan harga energi terhadap kebijakan The Fed.
Inilah yang membuat reaksi emas terhadap eskalasi geopolitik kali ini tidak sekuat yang mungkin diperkirakan.
Data Tenaga Kerja AS Jadi Penentu Berikutnya
Perhatian investor selanjutnya beralih ke serangkaian data ekonomi AS, terutama laporan tenaga kerja.
Pasar akan mencermati ADP, ISM, dan yang paling penting adalah Nonfarm Payrolls (NFP) Agustus. Konsensus ekonom Reuters memperkirakan pertambahan pekerjaan sekitar 55.000.
Data tenaga kerja menjadi sangat penting karena dapat mengubah kembali ekspektasi terhadap kebijakan The Fed.
Jika pertumbuhan lapangan kerja jauh lebih lemah dari perkiraan, pasar berpotensi mengurangi keyakinan terhadap kenaikan suku bunga September. Yield Treasury dapat mengalami tekanan dan dolar berpeluang melemah. Kombinasi tersebut akan menciptakan ruang bagi harga emas untuk kembali menguat.
Sebaliknya, jika data tenaga kerja menunjukkan pasar tenaga kerja masih kuat, ekspektasi kenaikan suku bunga dapat semakin menguat. Dalam skenario tersebut, yield berpotensi tetap tinggi dan emas menghadapi risiko koreksi lanjutan.
Analisis Newsmaker: Emas Masih Punya Penopang Struktural
Harga emas saat ini berada di tengah pertarungan antara The Fed yang hawkish dan Treasury yang cenderung dovish. Dalam jangka pendek, kenaikan harga minyak, yield Treasury yang tinggi, serta meningkatnya probabilitas kenaikan suku bunga September menjadi hambatan utama bagi bullion.
Namun, tekanan tersebut belum menghapus faktor fundamental yang sebelumnya mendorong emas mencetak kenaikan hampir 10% sepanjang Agustus.
Narasi mengenai tingginya utang pemerintah AS, kebijakan buyback Treasury, potensi pelemahan dolar, dan kebutuhan investor terhadap aset penyimpan nilai masih menjadi penopang struktural.
Karena itu, arah emas pada pekan ini kemungkinan sangat bergantung pada data tenaga kerja AS. Data yang lebih lemah dari ekspektasi dapat menjadi katalis bagi rebound, sedangkan data yang kuat berpotensi memperpanjang tekanan.