BPF Malang

Image

Bestprofit | Gencatan AS-Iran Tekan Dolar

Bestprofit (11/5) – Pasar keuangan global menutup pekan pertama bulan Mei dengan dinamika yang sangat fluktuatif. Dolar Amerika Serikat (AS) mencatatkan pelemahan setelah rilis laporan tenaga kerja bulan April yang secara mengejutkan tampil lebih kuat dari perkiraan pasar. Angka nonfarm payrolls yang solid ini, secara paradoks, justru meredam spekulasi liar mengenai kenaikan suku bunga lanjutan oleh Federal Reserve (The Fed).

Di saat yang sama, ketegangan geopolitik di Selat Hormuz yang terus membara mendapatkan sentimen penenang sementara setelah Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa status gencatan senjata antara Washington dan Teheran secara teknis masih berlaku, meskipun bentrokan bersenjata baru saja terjadi di wilayah perairan tersebut. Kombinasi dari meredanya spekulasi moneter agresif dan pesan diplomatik Trump berhasil menekan permintaan terhadap aset safe haven, yang pada gilirannya menyeret turun indeks Dolar AS.

Dolar Melemah Usai NFP Solid, Ketegangan Hormuz Reda Sementara

Dolar AS Melemah di Tengah Laporan Tenaga Kerja yang Lampaui Ekspektasi

Pada perdagangan hari Jumat, Indeks Dolar AS—yang mengukur kekuatan Greenback terhadap enam mata uang utama dunia—turun sebesar 0,2% ke level 97,91 pada pukul 14:52 ET (18:52 GMT). Penurunan ini terjadi tepat setelah pelaku pasar mencerna rilis data ketenagakerjaan resmi dari Bureau of Labor Statistics (BLS).

Laporan tersebut menunjukkan performa pasar tenaga kerja AS yang kokoh:

  • Nonfarm Payrolls (NFP): Sektor pekerjaan non-pertanian mencatatkan penambahan sebanyak 115.000 pekerjaan pada bulan April. Angka ini jauh melampaui estimasi moderat para ekonom yang sebelumnya hanya memperkirakan kenaikan sebesar 65.000.

  • Tingkat Pengangguran: Bertahan stabil di level 4,3%, mencerminkan pasar tenaga kerja yang relatif tangguh di tengah tingginya ketidakpastian makroekonomi.

Sebelum data ini dirilis, sebagian pelaku pasar sempat berspekulasi dan memperhitungkan peluang kecil bahwa The Fed mungkin terpaksa menaikkan suku bunga tahun ini untuk meredam potensi guncangan inflasi yang dipicu oleh konflik Timur Tengah. Namun, mengacu pada CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga tersebut justru mereda setelah data tenaga kerja keluar. Pasar menilai bahwa pertumbuhan tenaga kerja yang sehat namun tidak terlalu berlebihan ini memberikan ruang bagi The Fed untuk tetap menahan suku bunga pada tingkat saat ini tanpa perlu melakukan pengetatan moneter lebih lanjut yang agresif.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Eskalasi Selat Hormuz: Blokade, Insiden Tanker, dan Serangan Balasan AS

Meskipun dolar melemah, fokus pasar tidak bisa sepenuhnya lepas dari Selat Hormuz. Jalur pelayaran logistik dan energi paling strategis di dunia ini dilaporkan telah efektif tertutup sejak akhir Februari setelah Iran memblokir akses masuk dan keluar. Penutupan sepihak ini memicu disrupsi pasokan minyak mentah global yang sangat besar dan sensitif terhadap laju inflasi dunia.

AS sempat meluncurkan operasi pengamanan kapal dagang bertajuk “Project Freedom” sebelum akhirnya menghentikannya sementara. Sejak pertengahan April, militer AS memilih strategi mempertahankan blokade ketat atas pelabuhan-pelabuhan utama dan garis pantai Iran.

Ketegangan di lapangan kembali memuncak melalui serangkaian insiden militer yang dilaporkan oleh Komando Sentral AS (CENTCOM):

  1. Pencegatan Tanker: Pada hari Jumat, CENTCOM menyatakan telah menembaki dan melumpuhkan dua kapal tanker kosong berbendera Iran yang mencoba menerobos masuk ke pelabuhan Iran di Teluk Oman. Insiden ini menyusul tindakan serupa terhadap satu tanker kosong lainnya pada hari Rabu.

  2. Serangan Terhadap Kapal Perang: Langkah tegas ini diambil setelah militer AS sehari sebelumnya melaporkan berhasil mencegat serangan Iran yang ditargetkan kepada tiga kapal perang AS yang tengah melintas di Selat Hormuz.

  3. Serangan Balasan AS: Sebagai respons, stasiun berita Fox News melaporkan bahwa militer AS membalas dengan menggempur target-target militer Iran di wilayah strategis Pelabuhan Qeshm dan Bandar Abbas, mengutip pernyataan dari seorang pejabat senior AS.

Retorika Donald Trump: Antara “Love Tap” dan Ancaman Sanksi Lebih Keras

Di tengah situasi yang tampak seperti perang terbuka di pesisir Iran, Presiden Donald Trump justru memberikan pernyataan yang mendinginkan suasana pasar. Dalam wawancaranya dengan ABC News, Trump meremehkan bentrokan bersenjata terbaru dengan menyebut serangan balasan AS tersebut hanyalah sebuah “sentuhan kasih sayang” (love tap) dan menegaskan bahwa kesepakatan gencatan senjata secara umum masih “berlaku”.

“Serangan itu hanyalah love tap. Gencatan senjata kita dengan Teheran masih berlaku.” — Donald Trump, Presiden AS

Namun, gaya diplomasi Trump yang tidak dapat diprediksi kembali terlihat ketika ia mengunggah peringatan keras di media sosial pribadinya tak lama setelah wawancara tersebut. Trump memperingatkan bahwa militer AS akan melancarkan serangan yang jauh lebih destruktif apabila Iran tidak segera menandatangani dokumen perdamaian resmi.

Saat ini, pihak Iran menyatakan bahwa mereka masih meninjau draf proposal perdamaian satu halaman berisi 14 poin yang diajukan oleh mediator internasional untuk mengakhiri konflik 10 pekan ini, dan belum mengambil keputusan akhir.

Pergerakan Mata Uang Utama Lainnya: Sterling, Euro, dan Yen Menguat

Melemahnya Dolar AS memberikan napas baru bagi mata uang utama dunia lainnya yang berhasil membukukan penguatan di akhir pekan:

Sterling (GBP)

Mata uang poundsterling Inggris menguat 0,4% ke level US$1,3624. Penguatan ini terjadi di tengah sorotan tajam pasar terhadap hasil pemilu lokal di Inggris. Lanskap politik domestik Inggris mengalami pergeseran besar setelah Partai Buruh (Labour) dilaporkan menelan kekalahan historis yang cukup telak di berbagai wilayah, termasuk di kubu pertahanan tradisional mereka di Wales. Sebaliknya, partai sayap kanan Reform mencatatkan lonjakan perolehan suara yang signifikan.

Euro (EUR)

Mata uang tunggal Eropa juga memanfaatkan momentum pelemahan Dolar dengan naik sebesar 0,5% ke posisi US$1,1779. Pelaku pasar Eropa saat ini fokus memantau dampak biaya energi terhadap pemulihan ekonomi zona euro.

Yen Jepang (JPY)

Yen Jepang mengalami penguatan tipis, mendorong pasangan mata uang USD/JPY turun 0,1% ke level 156,68. Volatilitas yen masih menjadi perhatian utama para pelaku pasar global menyusul adanya laporan bahwa otoritas moneter dan pemerintah Jepang kembali melakukan intervensi pasar langsung secara masif guna menyokong mata uang mereka dari kejatuhan yang lebih dalam beberapa waktu terakhir.

Outlook Pasar ke Depan: Menyeimbangkan Data Makro dan Risiko Geopolitik

Meskipun pasar keuangan mendapatkan kelegaan sesaat dari turunnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan retorika gencatan senjata Trump, prospek ke depan masih dipenuhi ketidakpastian. Selama Selat Hormuz tetap terblokir dan pasokan minyak global terganggu, risiko lonjakan harga energi sewaktu-waktu dapat kembali memicu kekhawatiran inflasi. Jika inflasi global kembali merangkak naik, arah kebijakan moneter AS yang ketat akan kembali mendominasi narasi pasar, yang pada akhirnya berpotensi memicu reli baru bagi Dolar AS di masa mendatang.