BPF Malang

Image

Bestprofit | Gold Bertahan di Atas $4.500, Kenaikan Terbatas

Bestprofit (21/8) – Harga emas bergerak relatif stabil pada perdagangan Kamis (20/8) setelah sempat mengalami tekanan cukup dalam. Harga spot gold berada di sekitar US$4.516,19 per troy ons atau turun tipis 0,1%. Sebelumnya, emas sempat merosot hingga US$4.450,08 per troy ons setelah mencapai level tertinggi sejak 2 Juni. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa pasar emas sedang memasuki fase konsolidasi setelah mencatat kenaikan yang sangat kuat pada sesi sebelumnya. Investor mulai melakukan aksi ambil untung setelah harga mengalami reli lebih dari 4% dalam satu hari. Meski terkoreksi, emas masih mampu bertahan di atas level psikologis US$4.500. Kondisi ini menjadi indikasi bahwa minat beli belum sepenuhnya hilang dan investor masih melihat emas sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi serta geopolitik.
Kunjungi juga : bestprofit futures

Buyback Treasury AS Menjadi Pendorong Utama

Lonjakan harga emas pada sesi sebelumnya tidak terlepas dari kebijakan pemerintah Amerika Serikat terkait pembelian kembali atau buyback obligasi Treasury jangka panjang. Departemen Keuangan AS mengumumkan peningkatan aktivitas buyback yang mendorong harga obligasi naik. Kenaikan harga Treasury kemudian menekan imbal hasil atau yield obligasi. Pada saat yang sama, dolar AS mengalami pelemahan. Kombinasi tersebut menjadi katalis positif bagi emas. Emas tidak memberikan imbal hasil atau bunga secara langsung. Karena itu, ketika yield obligasi turun, opportunity cost untuk memegang emas menjadi lebih rendah. Kondisi tersebut membuat emas relatif lebih menarik bagi investor. Di pasar berjangka, kontrak emas AS juga mencatat penguatan. Kontrak berjangka emas AS ditutup naik sekitar 0,6% ke level US$4.571,40 per troy ons, memperlihatkan kuatnya momentum pembelian setelah pengumuman kebijakan Treasury.
Bestprofit | Emas Bertahan di Dekat US$4.500

Profit Taking Menekan Harga Emas

Koreksi yang terjadi pada Kamis terutama dipengaruhi aksi profit taking. Setelah harga emas melonjak lebih dari 4% dalam satu sesi, sebagian investor memilih merealisasikan keuntungan. Fenomena tersebut merupakan hal yang wajar setelah reli tajam. Ketika harga bergerak terlalu cepat, investor jangka pendek cenderung mengurangi posisi untuk mengunci keuntungan. Tekanan jual kemudian dapat membuat harga terkoreksi meskipun tren utama belum berubah. Dalam kondisi seperti ini, penurunan harga tidak selalu menunjukkan perubahan fundamental menjadi bearish. Pasar hanya membutuhkan waktu untuk menyeimbangkan kembali posisi setelah kenaikan yang agresif.

FOMC Minutes dan Risiko Inflasi Jadi Perhatian

Selain profit taking, sentimen negatif juga datang dari risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang dinilai relatif hawkish. Sikap tersebut mengindikasikan bahwa bank sentral AS masih berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan moneternya. Kenaikan harga minyak turut memperbesar kekhawatiran inflasi. Jika tekanan inflasi kembali meningkat, Federal Reserve berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Bahkan, pasar dapat kembali memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga apabila kondisi inflasi memburuk secara signifikan. Skenario tersebut menjadi tantangan bagi emas. Suku bunga dan yield yang lebih tinggi biasanya meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar serta meningkatkan opportunity cost dalam memegang emas.

Prospek Buyback Treasury Kembali Menopang Emas

Tekanan jual terhadap emas mulai mereda setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa pemerintah dapat memperbesar program buyback Treasury menjadi lebih dari US$4 miliar untuk setiap penerbitan. Pernyataan tersebut kembali menghidupkan ekspektasi bahwa kebijakan Treasury dapat membantu menekan yield obligasi jangka panjang. Jika yield riil bergerak lebih rendah, emas berpotensi mendapatkan dukungan tambahan. Bagi pasar, arah yield Treasury menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan. Penurunan yield dapat memberikan ruang bagi emas untuk kembali menguat, sementara kenaikan yield berpotensi meningkatkan tekanan terhadap logam mulia tersebut.

Pasar Masih Menanti Arah Suku Bunga September

Investor kini mencermati keputusan Federal Reserve pada September. Berdasarkan ekspektasi pasar, terdapat sekitar 67,4% peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan tersebut. Ekspektasi ini menunjukkan bahwa pelaku pasar belum melihat penurunan suku bunga sebagai skenario yang sepenuhnya pasti. Data inflasi, pasar tenaga kerja, harga komoditas, serta komunikasi pejabat The Fed akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah ekspektasi tersebut. Bagi emas, semakin besar peluang suku bunga tetap tinggi biasanya menjadi hambatan bagi kenaikan harga. Sebaliknya, jika data ekonomi mulai menunjukkan perlambatan dan membuka ruang pelonggaran kebijakan moneter, emas berpotensi kembali mendapatkan momentum.

Harga Minyak Menambah Risiko Inflasi

Di sisi lain, harga minyak kembali menjadi perhatian setelah bergerak ke level tertinggi dalam lebih dari tiga pekan. Kebuntuan konflik Iran meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global. Kenaikan harga minyak dapat memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi. Apabila harga energi bertahan tinggi, bank sentral berpotensi lebih berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneternya. Situasi tersebut membuat pasar emas berada dalam posisi yang cukup kompleks. Ketidakpastian geopolitik dan risiko inflasi dapat meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven. Namun, inflasi yang terlalu tinggi juga dapat mendorong The Fed mempertahankan kebijakan moneter ketat, yang pada akhirnya menekan emas melalui kenaikan yield dan dolar AS.

Prospek Jangka Panjang Emas Tetap Positif

Meskipun volatilitas meningkat, prospek emas dalam jangka panjang masih terlihat positif. Morgan Stanley mempertahankan pandangan bullish terhadap logam mulia tersebut dan melihat peluang harga emas menembus US$5.000 per troy ons pada 2027. Bahkan, target tersebut berpotensi tercapai lebih cepat apabila faktor pendukung emas semakin kuat. Permintaan safe haven, ketidakpastian geopolitik, kebijakan moneter, pembelian emas oleh bank sentral, serta dinamika pasar obligasi menjadi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi arah harga. Namun, investor perlu memperhitungkan volatilitas yang kemungkinan tetap tinggi. Kenaikan emas menuju level yang lebih tinggi tidak akan selalu berlangsung secara linear karena koreksi tajam dapat terjadi ketika pasar melakukan aksi ambil untung.

Analisis Teknikal: US$4.500 Jadi Level Penting

Dari perspektif teknikal, emas masih menunjukkan bias bullish tetapi dengan volatilitas yang tinggi. Rebound dari area US$4.450 menuju US$4.516 memperlihatkan bahwa buyer masih aktif mempertahankan harga ketika terjadi penurunan. Level US$4.500 menjadi area penting untuk diperhatikan. Selama harga mampu bertahan di atas level tersebut, peluang emas untuk kembali menguji area US$4.540 hingga US$4.570 masih terbuka. Sebaliknya, apabila tekanan jual kembali meningkat dan harga menembus US$4.500 secara meyakinkan, risiko koreksi lebih dalam perlu diwaspadai. Kenaikan yield Treasury, penguatan dolar AS, serta pernyataan hawkish dari pejabat The Fed dapat menjadi pemicu tambahan bagi koreksi tersebut.

Emas Masih Bullish, tetapi Risiko Koreksi Tetap Terbuka

Secara keseluruhan, pergerakan emas saat ini menunjukkan kombinasi antara tren bullish dan volatilitas tinggi. Reli besar pada sesi sebelumnya telah memperkuat momentum kenaikan, tetapi aksi profit taking membuat harga kembali terkoreksi. Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada arah yield Treasury, perkembangan harga minyak, ekspektasi suku bunga The Fed, serta risiko geopolitik. Selama emas mampu mempertahankan area US$4.500, peluang untuk kembali menguji US$4.540–US$4.570 masih cukup terbuka. Namun, investor tetap perlu berhati-hati terhadap perubahan sentimen yang cepat. Nada hawkish The Fed dan kenaikan yield dapat memicu tekanan jual sewaktu-waktu. Dengan demikian, emas masih memiliki prospek bullish, tetapi perjalanan menuju level yang lebih tinggi kemungkinan akan disertai volatilitas dan koreksi yang cukup tajam.