Bestprofit | Harga Minyak Diprediksi Turun sampai 2026
Bestprofit (18/11) – Harga minyak mentah diperkirakan akan mengalami tekanan signifikan dalam dua tahun ke depan. Dalam laporan terbarunya pada hari Senin, Goldman Sachs memperingatkan bahwa pasar minyak global kemungkinan memasuki periode surplus besar akibat lonjakan produksi dari berbagai negara produsen. Kondisi ini akan menekan harga hingga tahun 2026, sebelum akhirnya diperkirakan pulih kembali pada 2027–2028.
Dalam proyeksi tersebut, Goldman Sachs menyebut pasar berpotensi mengalami surplus sekitar 2 juta barel per hari (bpd), dengan harga minyak mentah Brent turun ke rata-rata $56 per barel pada 2026 dan West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar $52 per barel, jauh lebih rendah dibandingkan harga forward market saat ini.
Prediksi Goldman Sachs: Harga Brent ke $56 dan WTI $52 pada 2026
Menurut laporan Goldman Sachs, harga minyak mentah global hampir pasti akan bergerak turun dalam jangka menengah, terutama karena pasokan yang meningkat lebih cepat daripada permintaan. Bank tersebut menyoroti bahwa kurva forward saat ini, yakni Brent di angka $63 dan WTI di $60, terlalu optimistis mengingat potensi surplus besar di pasar.
Goldman Sachs memperkirakan bahwa pada tahun 2026, pasar minyak akan memasuki kondisi keseimbangan baru dengan harga yang jauh lebih rendah. Jika prediksi ini terbukti, maka harga Brent dan WTI akan berada di titik terendah dalam beberapa tahun terakhir, berpotensi menciptakan tantangan besar bagi negara-negara produsen maupun perusahaan eksplorasi energi.
Bestprofit | Minyak Turun Setelah Novorossiysk Pulih
Lonjakan Pasokan 2025–2026 Menjadi Faktor Utama Penurunan Harga
Proyek-Proyek Siklus Panjang yang Sempat Tertunda Kini Mulai Beroperasi
Salah satu alasan terbesar di balik proyeksi penurunan harga ini adalah masuknya “gelombang pasokan” baru di pasar global. Goldman Sachs mencatat bahwa banyak proyek siklus panjang—termasuk eksplorasi lepas pantai, lapangan minyak konvensional, dan proyek investasi besar lainnya—yang telah mendapatkan Final Investment Decision (FID) sebelum pandemi, sempat tertunda selama Covid-19, dan kini semuanya mulai beroperasi secara bersamaan.
Proyek-proyek ini mencakup kapasitas produksi yang sangat besar dan bersifat long-term, sehingga tidak mudah dihentikan atau ditahan meskipun harga minyak sedang dalam tren menurun.
Keputusan OPEC untuk Mengakhiri Pemangkasan Produksi
Selain itu, OPEC+, yang terdiri dari negara-negara OPEC, Rusia, dan beberapa produsen besar lainnya, telah mulai meningkatkan produksi sejak April. Keputusan strategis ini merupakan bagian dari upaya menormalkan pasokan setelah periode pemangkasan besar-besaran selama pandemi dan awal pemulihan ekonomi global.
Dengan OPEC+ membuka kembali keran produksi, pasar semakin dibanjiri pasokan baru yang menekan harga.
Kontribusi dari AS, Brasil, dan Produsen Non-OPEC Lainnya
Selain OPEC+, negara-negara produsen lain, terutama Amerika Serikat dan Brasil, juga terus meningkatkan produksi minyak. AS tetap menjadi salah satu penghasil minyak terbesar di dunia, terutama melalui produksi shale oil yang sangat sensitif terhadap harga namun tetap mampu bertahan pada kondisi tertentu.
Brasil, dengan proyek-proyek laut dalamnya (deepwater), juga terus menambah volume pasokan. Lonjakan produksi ini memperburuk kekhawatiran pasar akan kelebihan suplai global yang semakin meluas.
Hasilnya, tekanan terhadap harga minyak semakin kuat, terutama jika permintaan global tidak tumbuh cukup cepat untuk menyerap kelebihan pasokan tersebut.
IEA: Surplus Pasokan Bisa Mencapai 4,09 Juta Barel per Hari Tahun Depan
Jika proyeksi Goldman Sachs masih terasa konservatif, laporan terbaru dari International Energy Agency (IEA) memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai potensi kelebihan pasokan.
IEA menyatakan bahwa pasar minyak global pada tahun depan kemungkinan menghadapi surplus 4,09 juta barel per hari (mbpd). Angka ini bahkan dua kali lipat dari surplus 2 juta bpd yang diperkirakan Goldman Sachs.
Surplus sebesar itu dapat memaksa harga minyak untuk terus terkoreksi apabila tidak diimbangi oleh pemangkasan produksi atau pertumbuhan permintaan yang lebih kuat.
Pemulihan Harga Diperkirakan Mulai Terjadi pada 2027
Produksi Non-OPEC Diprediksi Melemah
Meski proyeksi jangka pendek terlihat bearish, Goldman Sachs memprediksi bahwa harga minyak mulai pulih pada tahun 2027. Alasannya adalah tekanan harga rendah sepanjang 2025–2026 diperkirakan akan memangkas investasi baru dari produsen non-OPEC, terutama dari proyek-proyek eksplorasi dan pengembangan minyak yang memerlukan biaya tinggi.
Ketika harga rendah, produksi tidak berkelanjutan bagi banyak produsen non-OPEC, sehingga mereka cenderung menunda investasi dan memperlambat output. Ini pada akhirnya akan memperketat pasar dan membantu harga naik kembali.
Keterbatasan Proyek Baru Setelah 15 Tahun Minim Investasi
Goldman Sachs juga menyoroti bahwa dalam 15 tahun terakhir, industri minyak mengalami kekurangan investasi yang signifikan. Artinya, setelah gelombang proyek yang siap beroperasi pada 2025–2026 selesai, hanya sedikit proyek besar baru yang akan memasuki tahap produksi.
Kondisi ini akan menciptakan kekurangan pasokan mulai akhir dekade ini, sehingga mendukung pemulihan harga.
Goldman Sachs memprediksi bahwa pada akhir 2028, harga Brent/WTI akan mencapai sekitar $80 dan $76—level yang mencerminkan keseimbangan jangka panjang bagi pasar minyak global.
Risiko dan Skenario Alternatif: Minyak Bisa Turun ke $40 atau Naik di Atas $70
Goldman Sachs juga menekankan bahwa pasar minyak tetap menghadapi ketidakpastian tinggi. Pada 2026–2027, harga Brent berpotensi jatuh hingga ke level $40-an per barel apabila:
-
Pasokan non-OPEC, khususnya dari AS, lebih kuat dari perkiraan
-
Produsen shale terus meningkatkan output meskipun harga rendah
-
Ekonomi global memasuki resesi sehingga permintaan energi melemah
Namun, skenario bullish juga tetap terbuka. Harga minyak dapat naik di atas $70 per barel jika:
-
Pasokan minyak Rusia menurun lebih cepat atau lebih tajam dari ekspektasi
-
OPEC+ kembali memangkas produksi secara agresif
-
Permintaan global meningkat, terutama dari Asia
Kondisi Terkini Harga Minyak di Pasar Global
Sejalan dengan sentimen bearish yang mulai menguat, harga minyak berjangka kini bergerak lebih rendah. Pada pukul 18.09 GMT:
-
Minyak mentah Brent diperdagangkan di sekitar $64,31 per barel
-
WTI berada di kisaran $60,02 per barel
Harga ini masih berada di atas level proyeksi Goldman Sachs untuk 2026, namun tren pelemahan telah terlihat jelas seiring meningkatnya pasokan global.
Kesimpulan: Periode Tekanan Harga Menanti Pasar Minyak Dunia
Laporan Goldman Sachs menjadi peringatan penting bagi industri minyak global. Dengan gelombang pasokan besar dan surplus yang diperkirakan mencapai 2–4 juta barel per hari, harga minyak kemungkinan menghadapi tekanan berlanjut hingga 2026.
Meski begitu, pasar diperkirakan akan mulai pulih pada 2027–2028 karena menurunnya produksi non-OPEC dan minimnya proyek baru dalam pipeline produksi global.
Bagi negara produsen dan perusahaan energi, periode 2025–2026 dapat menjadi fase yang menguji ketahanan finansial dan kemampuan adaptasi terhadap harga rendah yang berkepanjangan. Sementara bagi konsumen dan sektor transportasi, tren ini mungkin menjadi kabar baik karena biaya energi berpotensi lebih rendah dalam dua tahun ke depan.















