BPF Malang

Image

Bestprofit | Konflik AS-Iran Memanas, Hormuz Disorot

Bestprofit (2/9) – Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki fase yang lebih berbahaya setelah pasukan AS melancarkan gelombang serangan baru terhadap sejumlah target yang terkait dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC. Tidak lama setelah serangan tersebut, Teheran menyatakan telah melakukan serangan balasan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan. Eskalasi terbaru ini kembali menempatkan Timur Tengah sebagai pusat perhatian pasar global. Investor mulai menghitung risiko gangguan pasokan energi, terutama karena ketegangan kembali berpusat di sekitar Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran paling penting bagi perdagangan minyak dunia. Kenaikan harga energi menjadi reaksi pertama pasar. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak hingga menembus US$90 per barel, sementara kontrak berjangka gas alam Eropa naik ke level tertinggi sejak Januari 2023. Pergerakan tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran bahwa konflik berkepanjangan dapat mengganggu arus energi dari kawasan Teluk Persia.
Bestprofit | Hormuz Membara, Minyak Melaju Cepat!

AS Serang Target Milik IRGC

Komando Pusat AS atau US Central Command (CENTCOM) menyatakan operasi militer terbaru terhadap Iran telah rampung. Serangan tersebut menyasar berbagai fasilitas dan kemampuan militer yang dikaitkan dengan IRGC. Target yang diserang mencakup lokasi pertahanan udara, sistem radar, fasilitas maritim, kemampuan penebaran ranjau, hingga lokasi komunikasi. Washington menyatakan operasi tersebut dilakukan sebagai respons terhadap aktivitas IRGC yang dianggap mengancam kapal komersial di Selat Hormuz serta personel militer AS di kawasan. Serangan tersebut menandai peningkatan signifikan dalam ketegangan antara Washington dan Teheran. Fokus terhadap kemampuan penebaran ranjau menjadi perhatian khusus karena setiap gangguan terhadap Selat Hormuz berpotensi berdampak langsung terhadap perdagangan energi global. Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran regional. Perairan tersebut merupakan salah satu pintu utama bagi pengiriman minyak dan produk energi dari negara-negara Teluk Persia menuju pasar dunia. Karena itu, gangguan keamanan di kawasan tersebut dapat dengan cepat meningkatkan premi risiko dalam harga komoditas.
Kunjungi juga : bestprofit futures

Trump Beri Peringatan Serangan Lanjutan

Presiden Donald Trump mengatakan serangan terbaru AS merupakan respons atas dugaan upaya Iran menebar ranjau di Selat Hormuz serta serangan sebelumnya terhadap pangkalan militer Amerika. Trump juga memperingatkan bahwa Washington dapat kembali melancarkan serangan apabila Teheran melakukan tindakan balasan lebih lanjut. Pernyataan tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik dapat memasuki siklus serangan dan serangan balasan. Bagi pasar, persoalan utamanya bukan hanya skala serangan saat ini, tetapi apakah konflik akan berkembang menjadi konfrontasi yang lebih panjang dan melibatkan infrastruktur energi maupun jalur perdagangan utama. Jika pola tersebut berlanjut, investor akan memperhitungkan kemungkinan meningkatnya biaya transportasi, premi asuransi kapal, serta risiko keterlambatan pengiriman minyak dan gas.

Iran Klaim Balas Serang Pangkalan AS

Iran kemudian menyatakan telah menjalankan apa yang disebut sebagai “operasi tegas” terhadap pangkalan-pangkalan Amerika di kawasan. Kantor berita semi-resmi Tasnim melaporkan bahwa Teheran menembakkan rudal ke sebuah pangkalan Amerika di Yordania. Namun, hingga perkembangan tersebut, belum terdapat konfirmasi langsung dari pihak AS mengenai klaim serangan tersebut. Terlepas dari belum adanya konfirmasi atas sejumlah detail, pernyataan Iran menunjukkan bahwa Teheran tidak ingin membiarkan serangan AS berlalu tanpa respons. Bagi investor, situasi ini meningkatkan ketidakpastian. Setiap serangan balasan berpotensi memicu tindakan militer berikutnya dari Washington, sementara eskalasi yang semakin luas dapat memperbesar risiko terhadap infrastruktur energi dan jalur pelayaran di kawasan.

Harga Minyak WTI Tembus US$90

Pasar energi langsung merespons peningkatan ketegangan tersebut. Harga minyak mentah WTI melonjak hingga melewati US$90 per barel. Kenaikan ini menunjukkan bahwa risiko geopolitik kembali menjadi faktor dominan dalam pembentukan harga minyak. Investor tidak hanya melihat kondisi permintaan dan pasokan fundamental, tetapi juga memasukkan kemungkinan gangguan fisik terhadap distribusi energi. Kenaikan harga gas alam Eropa ke level tertinggi sejak Januari 2023 semakin memperlihatkan luasnya dampak kekhawatiran pasar. Gangguan pasokan dari Timur Tengah dapat memengaruhi pasar energi global, terutama jika konflik menghambat jalur pengiriman atau meningkatkan persaingan untuk mendapatkan pasokan alternatif. Jika harga minyak dan gas bertahan pada level tinggi, tekanan terhadap inflasi global juga berpotensi meningkat.

Selat Hormuz Jadi Titik Rawan

Selat Hormuz kembali menjadi pusat perhatian dalam konflik terbaru AS-Iran. Jalur laut tersebut memiliki arti strategis bagi pasar energi global karena menjadi rute penting bagi pengiriman minyak dari kawasan Teluk Persia. Setiap gangguan terhadap lalu lintas kapal di wilayah tersebut dapat berdampak lebih luas daripada sekadar persoalan keamanan regional. Sebelum eskalasi terbaru, volume pengiriman melalui Selat Hormuz sempat pulih hingga sekitar setengah dari level sebelum perang. Pemulihan tersebut didukung oleh menurunnya serangan serta adanya operasi pengangkutan terselubung yang dilakukan sejumlah produsen utama Timur Tengah. Namun, peningkatan kembali aktivitas militer AS dan Iran berpotensi membalikkan tren tersebut. Apabila kapal tanker mulai menghindari jalur tersebut atau perusahaan pelayaran mengurangi aktivitas karena pertimbangan keamanan, pasokan minyak ke pasar global dapat kembali mengetat.

Risiko Inflasi Global Kembali Meningkat

Kenaikan harga energi menjadi persoalan penting bagi bank sentral dunia. Harga minyak yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya transportasi, produksi, dan distribusi berbagai barang. Jika kenaikan berlangsung cukup lama, tekanan tersebut dapat diteruskan kepada konsumen dalam bentuk harga barang dan jasa yang lebih mahal. Kondisi ini dapat memperumit upaya bank sentral dalam menurunkan inflasi. Bagi Federal Reserve atau The Fed, lonjakan harga energi dapat menjadi alasan untuk lebih berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneter. Bahkan, apabila inflasi kembali meningkat secara signifikan, pasar dapat mulai memperhitungkan kebijakan suku bunga yang lebih ketat untuk waktu yang lebih lama. Dampaknya tidak hanya terasa di pasar minyak. Kenaikan yield obligasi, penguatan dolar AS, hingga tekanan terhadap aset berisiko dapat terjadi apabila investor kembali mengantisipasi kebijakan moneter ketat.

Tekanan Ekonomi Iran Bisa Buka Jalan Negosiasi

Di tengah meningkatnya ketegangan militer, terdapat pula sinyal bahwa tekanan ekonomi domestik dapat menjadi faktor yang mendorong Iran kembali ke meja perundingan. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pemimpin Iran mulai menghadapi tekanan dari persoalan ekonomi domestik. Ia memperkirakan Teheran pada akhirnya akan bersedia merundingkan kesepakatan untuk mengakhiri perang. Pernyataan tersebut memberikan kemungkinan adanya jalur diplomatik di tengah eskalasi militer. Namun, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa risiko konflik masih sangat tinggi. Selama serangan dan aksi balasan terus berlangsung, pasar akan tetap memasukkan premi risiko geopolitik ke dalam harga minyak dan aset energi lainnya.

Prospek Harga Minyak Bergantung pada Konflik

Arah harga minyak selanjutnya akan sangat bergantung pada perkembangan konflik AS-Iran dan kondisi Selat Hormuz. Jika serangan berlanjut dan aktivitas pelayaran kembali terganggu, harga minyak berpotensi bertahan di level tinggi atau bahkan meningkat lebih jauh. Dalam skenario tersebut, kekhawatiran terhadap inflasi global akan semakin besar dan dapat memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral, termasuk The Fed, perlu mempertahankan kebijakan moneter ketat. Sebaliknya, apabila tekanan ekonomi membuat Iran kembali membuka ruang negosiasi, premi risiko geopolitik dapat berkurang. Investor kemungkinan akan kembali memusatkan perhatian pada faktor fundamental seperti permintaan global, produksi minyak, dan persediaan energi. Dengan demikian, konflik AS-Iran kini menjadi salah satu katalis utama yang menentukan arah pasar energi. Selama Selat Hormuz tetap menjadi titik rawan dan risiko serangan masih tinggi, harga minyak berpotensi mendapatkan dukungan dari premi geopolitik.