BPF Malang

Image

Bestprofit | Minyak Naik, Konflik Timur Tengah Memanas

Bestprofit (9/9) – Harga minyak kembali menunjukkan taringnya. Pada perdagangan Selasa (8/9), harga minyak mentah melanjutkan penguatan di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang kembali mengancam stabilitas pasokan energi global. Minyak West Texas Intermediate (WTI) ditutup melonjak 1,9% menjadi US$93,03 per barel, sekaligus mencatat level penutupan tertinggi dalam sekitar tiga bulan. Sementara itu, minyak Brent naik 0,9% menjadi US$97,92 per barel, level tertinggi sejak 23 Juli. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa premi risiko geopolitik kembali masuk secara signifikan ke dalam harga minyak. Kekhawatiran pasar semakin besar setelah kelompok Houthi yang didukung Iran menyerang sejumlah fasilitas dan kota di Arab Saudi. Serangan tersebut tidak hanya meningkatkan risiko konflik regional, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran baru terhadap fasilitas energi di salah satu kawasan produksi minyak terpenting dunia.
Kunjungi juga : bestprofit futures

Serangan Houthi Mengancam Jantung Energi Teluk

Pasar minyak kembali berada dalam mode waspada setelah serangan Houthi menargetkan sejumlah fasilitas dan wilayah di Arab Saudi. Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan puluhan orang terluka dan mengganggu operasional pada sejumlah fasilitas energi. Bagi pasar global, perkembangan ini memiliki arti penting karena Arab Saudi merupakan salah satu pemain utama dalam produksi dan ekspor minyak dunia. Gangguan terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk dapat dengan cepat meningkatkan kekhawatiran mengenai pasokan. Bahkan ketika produksi belum mengalami penurunan besar, risiko terhadap fasilitas produksi, jaringan distribusi, dan terminal ekspor sudah cukup untuk mendorong pedagang memasukkan premi risiko ke dalam harga. Inilah yang terlihat pada perdagangan Selasa. Investor tidak hanya memperhitungkan kondisi fundamental minyak saat ini, tetapi juga mengantisipasi kemungkinan eskalasi yang lebih luas. Jika serangan terus berlanjut dan semakin banyak fasilitas energi menjadi sasaran, risiko gangguan pasokan fisik akan meningkat. Kondisi tersebut dapat menjadi katalis yang lebih kuat bagi harga minyak untuk bergerak lebih tinggi.
Bestprofit | Harga Minyak Mendekati US$100, Risiko Hormuz

Selat Hormuz Jadi Titik Paling Rawan

Selain fasilitas energi Arab Saudi, perhatian terbesar pasar kini tertuju pada Selat Hormuz. Jalur perairan yang berada di antara Iran dan Oman tersebut merupakan salah satu titik strategis bagi perdagangan energi global. Sebagian besar ekspor minyak dari kawasan Teluk melewati jalur tersebut sebelum dikirim ke berbagai pasar dunia. Dalam beberapa waktu terakhir, lalu lintas kapal melalui Hormuz terus melambat. Kondisi tersebut memperbesar kekhawatiran bahwa konflik dapat mengganggu arus tanker dan pada akhirnya memengaruhi pasokan minyak global. Iran juga kembali memperingatkan bahwa infrastruktur minyak dan gas di kawasan Teluk dapat menjadi sasaran apabila serangan terhadap asetnya terus berlanjut. Ancaman tersebut membuat pasar semakin sensitif terhadap setiap perkembangan geopolitik. Bahkan tanpa adanya penghentian total lalu lintas kapal, perlambatan pelayaran dan meningkatnya risiko bagi kapal tanker sudah cukup untuk meningkatkan biaya dan premi risiko. Selama ketidakpastian di Hormuz bertahan, harga minyak berpotensi tetap mendapatkan dukungan.

Tidak Ada Jalan Keluar Cepat dari Konflik

David Grumhaus, Chief Investment Officer Duff & Phelps Investment Management, menilai belum terlihat jalan keluar yang jelas untuk mengakhiri konflik dalam waktu dekat. Menurutnya, posisi negosiasi Iran masih cukup kuat sementara konflik terus berlangsung. Kondisi tersebut membuat pasar sulit mengabaikan kemungkinan bahwa ketegangan geopolitik akan bertahan lebih lama. Bagi pasar minyak, durasi konflik menjadi faktor yang sangat penting. Konflik yang berlangsung singkat mungkin hanya menciptakan lonjakan harga sementara. Namun, jika berlangsung selama berminggu-minggu atau bahkan lebih lama, perusahaan pelayaran, produsen, konsumen, dan pemerintah akan mulai menyesuaikan strategi mereka terhadap risiko pasokan. Semakin lama ketidakpastian bertahan, semakin besar kemungkinan premi risiko tetap tertanam dalam harga minyak. Itulah sebabnya penguatan WTI menuju US$93 dan Brent mendekati US$98 tidak semata-mata mencerminkan perubahan pasokan aktual. Pasar juga sedang membeli perlindungan terhadap risiko gangguan pasokan di masa depan.

Cadangan Minyak AS Tidak Lagi Sebebas Dulu

Faktor lain yang memperkuat kenaikan harga minyak adalah semakin terbatasnya ruang Amerika Serikat untuk menggunakan Strategic Petroleum Reserve (SPR) sebagai alat untuk meredam lonjakan harga. Cadangan minyak strategis AS telah terkuras cukup besar dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Artinya, kemampuan pemerintah untuk merespons kenaikan harga minyak melalui pelepasan cadangan kini tidak sebesar sebelumnya. Situasi ini menjadi perhatian investor karena SPR secara historis dapat digunakan sebagai salah satu instrumen ketika pasar energi mengalami tekanan besar. Dengan cadangan yang lebih terbatas, pasar harus lebih bergantung pada mekanisme produksi dan permintaan untuk menyeimbangkan kondisi energi global. Jika pada saat yang sama terjadi gangguan pasokan dari Timur Tengah, ruang untuk mengompensasi kekurangan tersebut menjadi lebih sempit. Kombinasi antara risiko geopolitik dan keterbatasan cadangan strategis inilah yang membuat reli minyak kali ini memiliki dasar yang cukup kuat.

Mengapa Brent Belum Menembus US$100?

Meski tekanan meningkat, harga Brent masih belum mampu menembus level psikologis US$100 per barel. Ada beberapa alasan yang membuat kenaikan harga belum berlangsung lebih ekstrem. Pertama, pasokan minyak melalui Selat Hormuz memang mengalami perlambatan, tetapi belum berhenti sepenuhnya. Selama tanker masih dapat melewati jalur tersebut, pasar belum menghadapi kehilangan pasokan dalam skala penuh. Kedua, sejumlah produsen minyak di kawasan Teluk masih dapat menggunakan jalur ekspor alternatif. Infrastruktur tersebut memberikan sedikit ruang bagi produsen untuk mengalihkan sebagian arus ekspor apabila kondisi Hormuz semakin memburuk. Ketiga, tambahan produksi dari negara-negara non-OPEC turut membantu menjaga keseimbangan pasar. Pasokan tambahan tersebut menjadi bantalan terhadap risiko gangguan di kawasan Timur Tengah. Stok minyak China yang masih tinggi juga memberikan faktor penahan. Persediaan yang besar berarti salah satu konsumen energi terbesar dunia memiliki cadangan untuk memenuhi kebutuhan dalam jangka tertentu tanpa harus meningkatkan pembelian secara agresif. Karena itu, pasar belum melihat alasan yang cukup kuat untuk mempertahankan Brent jauh di atas US$100.

Pasar Menunggu Gangguan Pasokan Fisik

Kunci berikutnya bagi harga minyak adalah apakah ketegangan geopolitik akan berubah menjadi gangguan pasokan secara nyata. Selama serangan hanya meningkatkan risiko tanpa mengurangi produksi dan ekspor secara signifikan, kenaikan harga kemungkinan tetap dibatasi oleh fundamental pasokan. Namun, situasinya akan berbeda jika serangan mulai merusak fasilitas produksi utama, terminal ekspor, jaringan pipa, atau menyebabkan penghentian besar-besaran lalu lintas tanker. Dalam skenario tersebut, pasar dapat dengan cepat menaikkan estimasi risiko kekurangan pasokan. Brent berpotensi menembus US$100 dan mempertahankan level tersebut lebih lama. Sebaliknya, tanda-tanda deeskalasi akan memberikan efek berlawanan. Jika negosiasi mulai menunjukkan kemajuan atau lalu lintas kapal melalui Hormuz kembali normal, premi risiko geopolitik dapat terpangkas dengan cepat.

Analisis Newsmaker: Minyak Masih Bullish, Tapi US$100 Bukan Tanpa Syarat

Secara fundamental, prospek minyak masih cenderung bullish selama eskalasi Timur Tengah terus mengancam infrastruktur energi dan arus tanker melalui Selat Hormuz. Kenaikan WTI ke level US$93,03 menunjukkan bahwa pasar kembali memberikan premi yang cukup besar terhadap risiko geopolitik. Brent yang mendekati US$98 juga memperlihatkan bahwa level US$100 kini bukan lagi target yang jauh. Namun, menembus dan bertahan jauh di atas US$100 membutuhkan lebih dari sekadar ketegangan geopolitik. Pasar kemungkinan membutuhkan gangguan pasokan fisik yang lebih besar dan berkelanjutan. Tanpa itu, kenaikan harga berpotensi tertahan oleh pasokan alternatif, produksi non-OPEC, serta stok minyak yang masih tersedia di sejumlah negara konsumen utama. Sebaliknya, apabila terjadi kerusakan besar terhadap infrastruktur energi atau lalu lintas tanker melalui Hormuz benar-benar terganggu, harga minyak dapat memasuki fase kenaikan yang jauh lebih agresif.