BPF Malang

Image

Bestprofit | Minyak Naik Lagi Akibat Tensi Hormuz

Bestprofit (18/5) – Pasar energi global kembali terbakar. Harga minyak mentah dunia memperpanjang tren kenaikan selama dua pekan berturut-turut pada perdagangan hari Senin (18/05). Lonjakan ini dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran akut akan terjadinya gangguan pasokan energi secara masif.

Minyak mentah mematok angka tinggi baru yang belum pernah terlihat dalam beberapa pekan terakhir. Minyak mentah berjangka Brent melonjak sebesar 1,84% ke level $111,27 per barel, setelah sebelumnya sempat menyentuh $112, yang merupakan level tertinggi sejak 5 Mei.

Sementara itu, patokan pasar Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), melesat 2,21% ke posisi $107,75 per barel dan sempat mencicipi level tertinggi sejak 30 April di angka $108,70. Kenaikan beruntun ini mencerminkan betapa gugupnya para pelaku pasar dalam mengalkulasi risiko pasokan dari salah satu kawasan penghasil minyak terbesar di dunia.

Bestprofit | Minyak Melambung, Ekspor Iran Tercekik

Serangan Drone di Fasilitas Strategis Teluk Memperburuk Sentimen

Sentimen pasar memburuk secara drastis menyusul laporan adanya serangan drone (pesawat tanpa awak) terkoordinasi yang menargetkan fasilitas-fasilitas strategis di kawasan Teluk. Langkah ini langsung menaikkan alarm bahaya di meja para trader komoditas.

Otoritas Uni Emirat Arab (UEA) mengonfirmasi bahwa mereka sedang melakukan penyelidikan intensif mengenai sumber serangan drone yang diarahkan ke Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Barakah. Pemerintah UEA menegaskan bahwa mereka memiliki hak penuh untuk merespons tindakan yang mengancam keamanan nasional tersebut.

Pada saat yang sama, Arab Saudi melaporkan telah berhasil mencegat tiga drone bersenjata yang menyusup dari wilayah udara Irak. Kerajaan Arab Saudi mengeluarkan peringatan keras bahwa mereka akan mengambil langkah operasional yang diperlukan demi menjaga kedaulatan, keamanan, serta stabilitas infrastruktur mereka. Ancaman langsung terhadap infrastruktur energi dan nuklir ini membuat pasar menyadari bahwa risiko kerusakan fisik pada rantai pasok bukan lagi sekadar teori.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Jalan Buntu Diplomasi Iran dan Dinginnya Sikap China

Reli harga minyak mendapatkan bahan bakar tambahan dari macetnya jalur diplomasi. Pasar melihat tidak ada kemajuan berarti dalam upaya mengakhiri ketegangan dengan Iran. Retorika yang saling memanas antara Washington dan Teheran mengindikasikan bahwa risiko eskalasi militer jauh lebih besar ketimbang peluang damai.

Ketidakpastian makin diperparah oleh hasil pertemuan tingkat tinggi antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pekan lalu. Pertemuan kedua pemimpin negara adidaya tersebut gagal menghasilkan sinyal positif.

China, sebagai salah satu importir minyak terbesar, tampaknya tidak berniat atau belum memberikan indikasi akan membantu meredakan konflik di sekitar Selat Hormuz. Padahal, selat vital tersebut masih terus dihantui oleh aksi serangan, sabotase, dan penyitaan kapal-kapal tanker komersial yang melintas. Tanpa adanya mediator kuat, pasar menilai Selat Hormuz akan tetap menjadi zona merah yang mencekam.

Pasar Mengunci ‘Premi Risiko’ Jelang Rapat Keamanan AS

Dari sisi kebijakan internal Amerika Serikat, tensi diperkirakan akan tetap tinggi dalam beberapa hari ke depan. Presiden Donald Trump dijadwalkan akan menggelar pertemuan tertutup dengan para penasihat keamanan nasionalnya pada hari Selasa untuk membahas opsi-opsi strategis terkini terkait penanganan isu Iran.

Ketidakpastian mengenai langkah apa yang akan diambil oleh Gedung Putih—apakah opsi sanksi ekonomi yang lebih berat atau tindakan militer terbatas—membuat para pelaku pasar kompak memasang “premi risiko” (risk premium) yang tinggi pada harga minyak.

Ketakutan terbesar pasar adalah terjadinya efek domino: jika AS atau sekutunya melancarkan aksi balasan, hal itu bisa memicu serangan balasan lanjutan dari Iran atau kelompok proksinya yang secara spesifik menyasar infrastruktur hulu energi serta jalur pengiriman kapal tanker di Teluk Persia.

Berakhirnya Pengecualian Sanksi Rusia Memperketat Pasokan Global

Di luar ketegangan geopolitik Timur Tengah yang membara, pasokan minyak mentah global juga menghadapi tekanan serius dari faktor non-geopolitik di belahan dunia lain. Kebijakan sanksi pemerintahan Trump kembali mempersempit ruang gerak pasokan minyak mentah.

Pemerintah AS memutuskan untuk membiarkan masa berlaku pengecualian sanksi (sanctions waivers) berakhir. Pengecualian ini sebelumnya memungkinkan sejumlah negara tertentu, termasuk India, untuk tetap membeli minyak mentah Rusia yang dikirim melalui jalur laut (seaborne oil).

Dengan berakhirnya kelonggaran tersebut, India dan beberapa negara importir lainnya terpaksa harus mencari sumber pasokan alternatif di pasar internasional yang saat ini sudah sangat ketat. Berkurangnya opsi pembelian minyak dari Rusia ini secara otomatis menggeser kurva penawaran global ke arah yang lebih ketat, yang pada gilirannya mendorong harga minyak dunia merangkak naik.

Fokus Pasar ke Depan: Menakar Volatilitas Sektor Energi

Melihat lanskap yang ada, volatilitas harga minyak diprediksi masih akan sangat tinggi dalam jangka pendek hingga menengah. Para pelaku pasar dan investor komoditas kini akan memfokuskan perhatian penuh mereka pada tiga indikator utama:

  • Perkembangan Keamanan Regional: Setiap laporan intelijen atau insiden fisik baru di kawasan Teluk akan langsung direspons secara instan oleh pergerakan harga.

  • Navigasi Selat Hormuz: Kelancaran arus lalu lintas kapal tanker di selat ini memegang kunci volume pasokan harian global.

  • Arah Kebijakan Washington: Hasil rapat keamanan nasional AS dan ketegasan implementasi sanksi terhadap Rusia akan menjadi kompas utama bagi proyeksi pasokan global.

Selama parameter-parameter di atas masih dipenuhi ketidakpastian, lantai bursa komoditas harus bersiap menghadapi era baru harga minyak yang mahal, yang pada akhirnya dapat memicu tekanan inflasi global yang lebih luas.