Bestprofit | Minyak Naik Tipis, Pasar Pantau AS-Iran
Bestprofit (1/7) – Harga minyak dunia bergerak menguat tipis pada awal perdagangan setelah mengalami penurunan kuartalan terbesar sejak masa pandemi Covid-19. Meski terjadi rebound, kenaikan harga masih sangat terbatas karena pelaku pasar memilih bersikap hati-hati sambil menunggu perkembangan pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran serta pemulihan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.
Investor saat ini menghadapi dua kekuatan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, risiko geopolitik di Timur Tengah masih menjadi faktor yang menopang harga minyak. Namun di sisi lain, meningkatnya pasokan global dan mulai pulihnya jalur distribusi energi membuat kekhawatiran terhadap gangguan pasokan perlahan mereda.
Kondisi tersebut membuat pergerakan harga minyak cenderung terbatas meskipun sempat mengalami kenaikan pada perdagangan terbaru.
Morgan Stanley: Ini Prediksi Harga Minyak!
Brent dan WTI Mencatat Kenaikan Terbatas
Pada perdagangan pagi di Singapura, minyak mentah Brent untuk pengiriman September diperdagangkan di kisaran US$73,45 per barel atau naik sekitar 0,7 persen. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus menguat sekitar 0,9 persen menjadi US$70,11 per barel.
Penguatan ini terjadi setelah harga minyak mengalami tekanan besar dalam tiga bulan terakhir. Brent bahkan tercatat kehilangan hampir sepertiga nilainya sepanjang kuartal, menjadikannya penurunan kuartalan terdalam sejak pandemi.
Meski demikian, pelaku pasar menilai kenaikan saat ini lebih bersifat teknikal atau rebound setelah koreksi tajam sebelumnya. Belum ada faktor fundamental yang cukup kuat untuk mengubah sentimen pasar menjadi sepenuhnya positif.
Kunjungi juga : bestprofit futures
Diplomasi AS-Iran Menjadi Fokus Utama Pasar
Perhatian investor kini tertuju pada perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Doha, Qatar.
Utusan Amerika Serikat, Jared Kushner dan Steve Witkoff, dilaporkan menggelar pembicaraan yang berlangsung secara positif. Selain itu, diskusi teknis dengan Iran juga disebut mengalami kemajuan, meskipun dilakukan secara tidak langsung melalui mediator.
Tujuan utama pembicaraan tersebut adalah meredakan ketegangan di kawasan Teluk Persia, khususnya di sekitar Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur distribusi minyak paling penting di dunia.
Bagi pasar energi, keberhasilan diplomasi akan mengurangi risiko terganggunya pasokan minyak global. Sebaliknya, jika negosiasi menemui jalan buntu, harga minyak berpotensi kembali melonjak karena meningkatnya kekhawatiran terhadap keamanan jalur distribusi energi.
Selat Hormuz Tetap Menjadi Jalur Strategis Dunia
Selat Hormuz memiliki peran yang sangat vital dalam perdagangan energi internasional. Jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut menjadi lintasan utama ekspor minyak dari sejumlah negara produsen besar seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Irak, hingga Iran.
Setiap gangguan yang terjadi di kawasan tersebut dapat langsung memengaruhi keseimbangan pasokan minyak dunia.
Dalam beberapa pekan terakhir, ketegangan militer sempat memicu kekhawatiran bahwa distribusi minyak melalui Hormuz akan terganggu. Namun, data terbaru menunjukkan lalu lintas kapal tanker mulai kembali normal setelah sempat mengalami hambatan akibat meningkatnya eskalasi konflik.
Pulihnya aktivitas pelayaran menjadi salah satu alasan mengapa pasar mulai mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya melekat pada harga minyak.
Goldman Sachs: Pasar Mulai Lebih Tenang
Co-Head of Global Commodities Research Goldman Sachs, Samantha Dart, menilai pasar minyak saat ini tidak lagi bereaksi secara berlebihan terhadap berbagai ketegangan baru di kawasan Timur Tengah.
Menurutnya, ekspor energi Amerika Serikat maupun impor minyak China sejauh ini masih berlangsung relatif stabil. Artinya, belum ada gangguan besar terhadap keseimbangan pasokan dan permintaan global.
Kondisi tersebut memberikan sinyal bahwa pasar mulai percaya risiko gangguan pasokan dalam jangka pendek semakin mengecil.
Dart juga memperkirakan konflik yang melibatkan Iran berpotensi mereda pada akhir Juli apabila proses diplomasi berjalan sesuai harapan.
Jika skenario tersebut terjadi, harga minyak diperkirakan akan kehilangan salah satu faktor pendukung utamanya, yaitu premi risiko akibat ketidakpastian geopolitik.
Ancaman Surplus Pasokan Mulai Mengemuka
Selain perkembangan diplomatik, investor juga mulai mengalihkan perhatian pada potensi kelebihan pasokan minyak global.
Normalisasi distribusi energi dari Timur Tengah diperkirakan akan membuat lebih banyak minyak kembali masuk ke pasar internasional. Pada saat yang sama, produksi dari negara-negara di luar kawasan juga masih berada pada level tinggi.
Apabila pasokan terus meningkat sementara permintaan tidak mengalami pertumbuhan yang signifikan, harga minyak berpotensi menghadapi tekanan yang lebih besar dalam beberapa bulan mendatang.
Inilah sebabnya mengapa banyak analis menilai kenaikan harga minyak saat ini masih sulit berlanjut tanpa adanya gangguan pasokan baru.
Morgan Stanley Pangkas Proyeksi Harga Minyak
Pandangan serupa juga disampaikan Morgan Stanley.
Bank investasi tersebut memperingatkan bahwa pasar minyak global mulai mengarah pada kondisi surplus pasokan. Salah satu alasan utamanya adalah pemulihan arus kapal tanker melalui Selat Hormuz yang berlangsung lebih cepat dibandingkan perkiraan sebelumnya.
Selain itu, produksi minyak Amerika Serikat tetap tinggi, sementara permintaan dari China sebagai importir minyak terbesar dunia belum menunjukkan pemulihan yang kuat.
Melihat kondisi tersebut, Morgan Stanley kembali memangkas proyeksi harga minyak untuk kedua kalinya dalam waktu sekitar dua pekan.
Langkah tersebut mencerminkan meningkatnya keyakinan bahwa tekanan terhadap harga minyak kemungkinan masih akan berlanjut apabila kondisi fundamental pasar tidak berubah.
Pasokan dari Iran dan Rusia Terus Bertambah
Tekanan terhadap harga minyak juga berasal dari meningkatnya pasokan dari Iran dan Rusia.
Iran menyatakan telah berhasil mengekspor lebih dari 40 juta barel minyak sejak Amerika Serikat mencabut blokade laut yang sebelumnya membatasi distribusi minyak negara tersebut.
Di sisi lain, pengiriman minyak Rusia juga dilaporkan meningkat hingga mencapai level tertinggi dalam beberapa waktu terakhir.
Melimpahnya pasokan dari kedua negara tersebut menyebabkan penumpukan minyak di berbagai jalur pelayaran internasional. Kondisi ini memperbesar peluang terjadinya surplus pasokan apabila permintaan global tidak mampu mengimbanginya.
Bagi pasar, peningkatan pasokan dari Iran dan Rusia menjadi faktor penting yang membatasi ruang kenaikan harga minyak.
Risiko Geopolitik Belum Sepenuhnya Hilang
Meski sentimen pasar mulai membaik, risiko geopolitik belum sepenuhnya menghilang.
Iran kembali menegaskan tekadnya untuk tetap mengendalikan lalu lintas maritim di Selat Hormuz. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kawasan tersebut masih memiliki potensi menjadi titik ketegangan apabila pembicaraan diplomatik gagal mencapai kesepakatan.
Selain persoalan keamanan pelayaran, masih terdapat sejumlah isu yang belum terselesaikan, termasuk program nuklir Iran serta upaya menghentikan konflik di Lebanon.
Kedua isu tersebut diperkirakan akan menjadi bagian penting dalam proses negosiasi selama masa gencatan senjata yang berlangsung selama 60 hari.
Apabila salah satu isu tersebut memicu ketegangan baru, harga minyak berpotensi kembali mengalami lonjakan akibat meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan global.
Prospek Harga Minyak Masih Dipenuhi Ketidakpastian
Dalam jangka pendek, arah harga minyak akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Apabila pembicaraan menghasilkan kemajuan yang signifikan dan aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz benar-benar kembali normal, pasar kemungkinan akan lebih fokus pada kondisi fundamental berupa meningkatnya pasokan global. Situasi tersebut dapat memberikan tekanan lanjutan terhadap harga minyak.
Sebaliknya, jika proses negosiasi mengalami hambatan atau muncul kembali konflik militer di kawasan Timur Tengah, premi risiko geopolitik dapat kembali meningkat sehingga mendorong harga minyak naik.
Selain faktor geopolitik, investor juga akan terus mencermati kondisi ekonomi global, terutama permintaan energi dari China, kebijakan produksi negara-negara pengekspor minyak, serta arah pertumbuhan ekonomi dunia.
Secara keseluruhan, kenaikan harga minyak saat ini masih lebih mencerminkan proses pemulihan teknikal setelah koreksi tajam sebelumnya dibandingkan perubahan tren yang kuat. Selama pasar masih dihadapkan pada potensi surplus pasokan dan belum adanya kepastian mengenai hasil pembicaraan AS-Iran, pergerakan harga minyak diperkirakan tetap fluktuatif dengan ruang kenaikan yang relatif terbatas.















