BPF Malang

Image

Bestprofit | Minyak Terkoreksi, Stok Naik

Bestprofit (20/10) – Harga minyak mencatat sedikit kenaikan pada perdagangan Jumat, 17 Oktober, namun tetap menutup pekan dengan kerugian hampir 3%. Sentimen pasar minyak global ditekan oleh sejumlah faktor, mulai dari proyeksi kelebihan pasokan oleh Badan Energi Internasional (IEA), peningkatan stok minyak mentah AS, hingga meredanya risiko geopolitik setelah inisiatif damai antara negara-negara besar.

Kekhawatiran terhadap permintaan energi global juga membayangi pasar, dengan ketegangan dagang AS–Tiongkok kembali meningkat, serta tanda-tanda perlambatan ekonomi dunia.

Kenaikan Tipis di Tengah Tren Penurunan Mingguan

Harga minyak mentah Brent berjangka ditutup pada $61,29 per barel, naik 23 sen atau 0,38%, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 8 sen atau 0,14%, menjadi $57,54 per barel. Kenaikan ini tergolong ringan dan tidak cukup untuk menutupi penurunan harga selama pekan berjalan.

Meskipun ada penguatan pada hari Jumat, secara mingguan harga minyak melemah hampir 3%, menjadikan pekan ini sebagai salah satu yang terburuk sejak awal kuartal keempat. Faktor utama penurunan ini adalah prediksi IEA tentang kelebihan pasokan minyak global dalam beberapa tahun ke depan, serta peningkatan tajam stok minyak mentah AS.

IEA: Kelebihan Pasokan Akan Semakin Membesar hingga 2026

Dalam laporan terbarunya, Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan bahwa pasar minyak global akan menghadapi kelebihan pasokan struktural dalam beberapa tahun mendatang. Diperkirakan, kelebihan pasokan akan terus meningkat hingga tahun 2026, seiring dengan pertumbuhan produksi dari negara-negara non-OPEC dan perlambatan permintaan global.

Prospek ini menekan sentimen pasar, karena menandakan bahwa harga minyak kemungkinan akan tetap tertekan, bahkan jika ketegangan geopolitik mereda. Laporan tersebut juga memperkirakan bahwa transisi energi dan peningkatan efisiensi akan semakin mengurangi permintaan jangka panjang terhadap bahan bakar fosil.

Trump–Putin Sepakat Bertemu, Risiko Geopolitik Mereda

Salah satu faktor yang meredakan ketegangan pasar adalah pengumuman pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin yang direncanakan dalam dua minggu ke depan di Hungaria, dengan agenda utama membahas konflik Ukraina.

Pertemuan ini menyusul kesepakatan gencatan senjata di Gaza antara Israel dan Hamas yang difasilitasi oleh kekuatan-kekuatan besar dunia. Analis menilai bahwa meredanya konflik di dua kawasan geopolitik utama telah menghilangkan sebagian risiko pasokan minyak yang sebelumnya mendorong harga naik.

“Kita telah mencapai kesepakatan damai yang jarang terjadi di Timur Tengah, Iran dinetralkan, dan sekarang Ukraina; risiko yang belum pernah terjadi sebelumnya telah keluar dari pasar,” kata Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group.

Dengan meredanya risiko konflik di Timur Tengah dan Eropa Timur, pasar kehilangan sebagian faktor pendorong harga naik, yang biasanya berasal dari ketidakpastian geopolitik dan potensi gangguan pasokan minyak.

AS Desak India dan Tiongkok Hentikan Pembelian Minyak Rusia

Sementara itu, pemerintah AS juga terus menekan India dan Tiongkok untuk menghentikan pembelian minyak dari Rusia, sebagai bagian dari upaya menekan pendanaan militer Moskow. Hal ini berkaitan erat dengan kunjungan delegasi Ukraina ke Gedung Putih pada hari Jumat, yang bertujuan untuk meminta dukungan militer lebih lanjut, termasuk sistem rudal jarak jauh Tomahawk buatan AS.

Namun, belum ada tanda-tanda bahwa India maupun Tiongkok akan mengubah kebijakan energinya dalam waktu dekat. Bahkan, kedua negara tersebut secara konsisten membeli minyak Rusia dengan harga diskon, sehingga membantu menjaga pasokan global tetap stabil meskipun ada sanksi Barat.

Kebakaran Kilang BP Berdampak Terbatas namun Dorong Harga Regional

Di dalam negeri, pasar energi AS juga menerima tekanan dari kebakaran kilang BP di Indiana, yang terjadi pada malam sebelumnya. Namun, menurut Flynn, dampaknya kemungkinan hanya akan terasa di wilayah Midwest.

Patrick DeHaan, kepala analisis perminyakan untuk GasBuddy, menyebut bahwa kebakaran ini telah menyebabkan lonjakan harga bensin spot di kawasan Great Lakes.

“Harga bensin spot Great Lakes melonjak akibat kebakaran kilang BP semalam, dapat menyebabkan siklus harga segera,” tulis DeHaan di X (sebelumnya Twitter). “Untuk saat ini, harga grosir menunjukkan kenaikan sekitar 20 sen per galon.”

Meski berdampak lokal, gangguan ini menambah tekanan jangka pendek pada harga bahan bakar regional, sekaligus menyoroti kerentanan infrastruktur minyak dan gas AS terhadap kejadian tak terduga.

Persediaan Minyak Mentah AS Meningkat Tajam

Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan bahwa persediaan minyak mentah meningkat sebesar 3,5 juta barel, jauh di atas ekspektasi analis yang hanya memperkirakan kenaikan 288.000 barel. Total stok kini berada di angka 423,8 juta barel, mendekati rata-rata lima tahun terakhir.

Peningkatan stok ini terjadi akibat penurunan aktivitas kilang, yang umum terjadi di musim gugur ketika banyak fasilitas menjalani perawatan. Namun, peningkatan ini tetap memberi tekanan pada harga karena menunjukkan bahwa pasokan melebihi permintaan.

Selain itu, data EIA juga menunjukkan bahwa produksi minyak AS naik menjadi 13,636 juta barel per hari, rekor tertinggi sepanjang sejarah. Lonjakan produksi ini memperkuat kekhawatiran akan over-supply di pasar global.

Perlambatan Ekonomi dan Ketegangan Dagang Bayangi Permintaan Energi

Tak hanya sisi pasokan yang menjadi perhatian, sisi permintaan juga terus dipertanyakan. Ketegangan dagang antara AS dan Tiongkok kembali mencuat, menciptakan kekhawatiran akan potensi perlambatan ekonomi global. Analis memperkirakan bahwa permintaan energi bisa menurun jika ketidakpastian ekonomi terus berlanjut.

“Ini benar-benar menghancurkan kepercayaan,” kata Jorge Montepeque, direktur pelaksana di Onyx Capital Group. Ia menambahkan bahwa ekonomi AS pun bisa terdampak jika tekanan perdagangan dan risiko eksternal terus meningkat.

Kombinasi antara kelebihan pasokan dan lemahnya proyeksi permintaan menjadi penekan utama harga minyak dalam jangka pendek.

Kesimpulan: Harga Minyak Rentan Tekanan Lebih Lanjut

Meskipun mencatat sedikit kenaikan pada akhir pekan, harga minyak mentah tetap rentan terhadap tekanan penurunan lebih lanjut. Kombinasi dari peningkatan stok, rekor produksi AS, dan prospek kelebihan pasokan global, ditambah dengan meredanya ketegangan geopolitik, telah melemahkan posisi harga minyak di pasar global.

Fokus ke depan akan tertuju pada pertemuan Trump–Putin, perkembangan hubungan dagang AS–Tiongkok, serta data ekonomi global yang bisa mengindikasikan arah permintaan energi. Jika ketiga faktor tersebut menunjukkan tren yang tidak mendukung, maka harga minyak berpotensi turun lebih dalam dalam beberapa pekan mendatang.