Bestprofit (3/7) – Pergerakan dolar Amerika Serikat (AS) menjadi sorotan pelaku pasar global setelah mata uang tersebut mengalami pelemahan tajam pada perdagangan Kamis (2/7). Penurunan ini bahkan menjadi salah satu pelemahan harian terbesar sejak akhir April, seiring munculnya data ekonomi terbaru yang menunjukkan perlambatan di sektor ketenagakerjaan Amerika Serikat.
Indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, turun sekitar 0,5% ke level 100,86. Penurunan tersebut mencerminkan perubahan sentimen investor yang mulai mengurangi ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
Pasar menilai bahwa perlambatan pasar tenaga kerja menjadi sinyal awal bahwa kebijakan moneter ketat yang diterapkan selama beberapa tahun terakhir mulai memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi. Akibatnya, investor mulai mengalihkan perhatian pada kemungkinan The Fed mempertahankan suku bunga lebih lama dibandingkan kembali melakukan pengetatan.
Bestprofit | Dolar AS Bertahan di Level 101,4, Investor Tunggu Data Tenaga Kerja AS
Data Nonfarm Payrolls Menjadi Pemicu Utama
Faktor terbesar yang memicu pelemahan dolar berasal dari laporan Nonfarm Payrolls (NFP) bulan Juni. Data tersebut menunjukkan ekonomi Amerika Serikat hanya mampu menambah sekitar 57.000 lapangan kerja baru sepanjang bulan tersebut.
Angka tersebut jauh di bawah ekspektasi pasar yang sebelumnya memperkirakan penambahan sekitar 114.000 pekerjaan. Selain itu, data bulan Mei juga direvisi turun menjadi 129.000 dari laporan sebelumnya, sehingga memperkuat gambaran bahwa pasar tenaga kerja mulai kehilangan momentum.
Meskipun penciptaan lapangan kerja masih terjadi, kecepatannya semakin melambat dibandingkan beberapa bulan sebelumnya. Hal ini menjadi indikator bahwa perusahaan mulai lebih berhati-hati dalam melakukan perekrutan di tengah tingginya biaya pendanaan akibat suku bunga yang masih berada pada level tinggi.
Perlambatan Tidak Terjadi di Semua Sektor
Laporan ketenagakerjaan juga menunjukkan bahwa perlambatan tidak terjadi secara merata di seluruh sektor ekonomi. Beberapa sektor masih mencatat penambahan tenaga kerja yang cukup baik.
Lapangan kerja bertambah di sektor jasa profesional dan bisnis, layanan kesehatan, serta bantuan sosial. Ketiga sektor tersebut masih menjadi penopang utama penciptaan lapangan kerja di Amerika Serikat.
Sebaliknya, sektor leisure dan hospitality justru mengalami penurunan jumlah pekerja. Sektor yang sangat bergantung pada belanja konsumen ini mulai merasakan dampak dari perlambatan aktivitas ekonomi dan tingginya biaya operasional.
Perbedaan kinerja antar sektor menunjukkan bahwa ekonomi Amerika belum memasuki fase resesi, tetapi pertumbuhannya mulai melambat secara bertahap.
Tingkat Pengangguran Masih Menunjukkan Ketahanan
Di tengah melemahnya pertumbuhan lapangan kerja, tingkat pengangguran justru turun menjadi 4,2% setelah sebelumnya bertahan di level 4,3% selama tiga bulan berturut-turut.
Penurunan tingkat pengangguran ini menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja masih memiliki ketahanan meskipun laju perekrutan mulai melambat. Jika dilihat dari rata-rata tiga bulan terakhir, penambahan payroll Amerika berada di kisaran 111.000 pekerjaan per bulan.
Angka tersebut memang lebih rendah dibandingkan rata-rata tahun lalu, tetapi masih menunjukkan bahwa ekonomi belum mengalami kontraksi yang signifikan.
Kondisi ini membuat The Fed berada dalam posisi yang cukup kompleks. Di satu sisi, perlambatan tenaga kerja mengurangi kebutuhan untuk menaikkan suku bunga. Namun di sisi lain, pasar kerja yang masih relatif solid berarti tekanan terhadap inflasi belum sepenuhnya hilang.
Serangkaian Data Tenaga Kerja Memberikan Sinyal Beragam
Sepanjang pekan ini, investor sebenarnya telah menerima berbagai laporan yang menggambarkan kondisi pasar tenaga kerja Amerika dari berbagai sisi.
Data lowongan pekerjaan atau Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) menunjukkan jumlah lowongan kerja pada Mei sempat meningkat ke level tertinggi dalam dua tahun terakhir. Temuan tersebut sempat memberikan optimisme bahwa permintaan tenaga kerja masih cukup kuat.
Selain itu, laporan Challenger juga menunjukkan jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK) selama Juni mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya.
Namun optimisme tersebut mulai memudar setelah laporan ADP menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja sektor swasta melambat. Kondisi tersebut akhirnya dikonfirmasi oleh data NFP yang jauh lebih lemah dari perkiraan pasar.
Kombinasi berbagai data tersebut menggambarkan bahwa pasar tenaga kerja belum memasuki fase krisis, tetapi jelas mulai kehilangan momentum pertumbuhannya.
The Fed Kini Semakin Bergantung pada Data Ekonomi
Perubahan ekspektasi pasar juga dipengaruhi oleh pernyataan sejumlah pejabat Federal Reserve mengenai arah kebijakan moneter.
The Fed sebelumnya menegaskan bahwa fokus utama bank sentral tetap pada upaya mengembalikan inflasi menuju target 2%. Namun, dalam beberapa kesempatan terbaru, para pejabat The Fed menekankan bahwa seluruh keputusan kebijakan akan sangat bergantung pada perkembangan data ekonomi.
Ketua The Fed Kevin Warsh menyatakan bahwa bank sentral akan mengurangi pendekatan forward guidance dan lebih mengandalkan data yang masuk sebelum menentukan arah kebijakan berikutnya.
Dalam forum bank sentral di Portugal, Warsh juga menyampaikan bahwa risiko inflasi mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan dalam beberapa pekan terakhir. Pernyataan tersebut memberikan keyakinan tambahan kepada investor bahwa peluang kenaikan suku bunga semakin kecil dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.
Penurunan Harga Minyak Turut Meredakan Tekanan Inflasi
Selain perlambatan pasar tenaga kerja, faktor lain yang ikut memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter adalah penurunan harga minyak dunia.
Harga energi sebelumnya sempat melonjak akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Namun, situasi mulai mereda setelah tercapainya kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran.
Kembalinya aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz membantu memulihkan pasokan minyak global sehingga harga energi kembali turun.
Penurunan harga minyak menjadi kabar baik bagi The Fed karena biaya energi merupakan salah satu komponen penting yang memengaruhi tingkat inflasi. Jika harga energi terus stabil, tekanan inflasi diperkirakan akan semakin berkurang dalam beberapa bulan mendatang.
Ekspektasi Pasar terhadap Suku Bunga Berubah
Gabungan antara perlambatan pasar tenaga kerja dan meredanya tekanan energi membuat pelaku pasar mulai menyesuaikan proyeksi terhadap kebijakan The Fed.
Peluang kenaikan suku bunga dalam waktu dekat semakin menurun, sementara probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan berikutnya meningkat.
Perubahan ekspektasi tersebut juga tercermin pada pergerakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat, khususnya tenor pendek yang sangat sensitif terhadap perubahan kebijakan moneter.
Turunnya yield Treasury menunjukkan bahwa investor mulai memperkirakan suku bunga akan bertahan pada level saat ini lebih lama dibandingkan sebelumnya.
Yen Jepang dan Dolar Australia Ikut Menjadi Sorotan
Di tengah pelemahan dolar AS, yen Jepang menjadi salah satu mata uang dengan penguatan paling signifikan.
Pasangan USD/JPY sempat turun hingga ke area 160,64 sebelum kembali bergerak di sekitar 161,12. Penguatan yen dipicu oleh spekulasi bahwa otoritas Jepang melakukan rate checks, yaitu langkah yang sering dipandang sebagai sinyal awal menuju intervensi di pasar valuta asing.
Hingga saat ini belum ada konfirmasi resmi dari Bank of Japan maupun Kementerian Keuangan Jepang mengenai langkah tersebut. Namun, pemerintah Jepang sebelumnya telah berulang kali menyatakan siap mengambil tindakan apabila pelemahan yen dianggap terlalu berlebihan atau bersifat spekulatif.
Sementara itu, dolar Australia juga berhasil menguat sekitar 0,4% terhadap dolar AS hingga berada di kisaran US$0,6920.
Meskipun demikian, penguatan mata uang Australia masih terbatas karena negara tersebut mencatat defisit perdagangan terbesar dalam 11 tahun pada Mei. Penurunan ekspor emas dan bijih besi akibat melemahnya permintaan komoditas global menjadi penyebab utama memburuknya neraca perdagangan Australia.
Prospek Dolar AS Masih Bergantung pada Data Berikutnya
Secara keseluruhan, pelemahan dolar AS saat ini mencerminkan perubahan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter Federal Reserve. Investor mulai menilai bahwa peluang kenaikan suku bunga semakin kecil setelah data ketenagakerjaan menunjukkan perlambatan yang cukup nyata.
Meski demikian, arah pergerakan dolar dalam beberapa pekan ke depan masih akan sangat dipengaruhi oleh data ekonomi berikutnya, terutama inflasi, pertumbuhan upah, konsumsi masyarakat, dan aktivitas sektor manufaktur maupun jasa.
Apabila data-data tersebut terus menunjukkan perlambatan, tekanan terhadap dolar kemungkinan masih akan berlanjut. Sebaliknya, jika inflasi kembali meningkat atau pejabat The Fed memberikan sinyal yang lebih hawkish, greenback masih memiliki peluang untuk kembali menguat.
Oleh karena itu, investor diperkirakan akan terus mencermati setiap rilis data ekonomi Amerika Serikat karena setiap perubahan kecil dalam indikator makro dapat memengaruhi ekspektasi suku bunga sekaligus menentukan arah pergerakan pasar keuangan global.