BPF Malang

Image

Bestprofit | Risk-Off Dorong Dolar ke Level Tertinggi Sejak Januari

Bestprofit (4/3) – Dolar AS kembali menunjukkan tajinya pada Selasa ketika konflik di Timur Tengah semakin melebar dan meningkatkan ketidakpastian global. Dalam situasi pasar yang memasuki mode risk-off, investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap paling aman dan likuid—dan dolar AS kembali menegaskan statusnya sebagai safe haven utama dunia.

Penguatan ini bukan sekadar respons sesaat, melainkan bagian dari tren reli yang berlanjut sejak awal pekan. Ketika risiko geopolitik meningkat dan ketegangan militer meluas, mata uang AS menjadi tujuan utama arus modal global yang mencari perlindungan dari gejolak pasar.

Dolar Menguat, Safe Haven Dominan

Dollar Index Sentuh Level Tertinggi Sejak Januari

Penguatan dolar tercermin dari kenaikan U.S. Dollar Index (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama dunia. Indeks tersebut naik sekitar 0,5% ke level 99,04—menjadi posisi tertinggi sejak Januari.

Kenaikan ini memperpanjang reli setelah DXY juga melonjak hampir 1% pada Senin. Lonjakan dua hari berturut-turut menandakan bahwa arus permintaan terhadap dolar tidak hanya bersifat reaktif, melainkan juga didorong oleh perubahan sentimen global yang lebih mendalam.

Saat indeks dolar naik, mata uang lain seperti euro, yen, dan pound sterling cenderung tertekan. Investor global, termasuk manajer dana dan pelaku pasar institusional, memilih meningkatkan eksposur terhadap aset berbasis dolar sebagai langkah defensif menghadapi potensi ketidakstabilan yang lebih luas.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Konflik Meluas, Safe Haven Diburu

Ketegangan yang awalnya terfokus antara AS dan Iran kini mulai merembet ke negara-negara sekitar. Perluasan konflik inilah yang memperkuat dorongan risk-off di pasar global.

Laporan menyebut Kedutaan Besar AS di Riyadh menjadi sasaran serangan rudal. Selain itu, pusat data milik Amazon di Uni Emirat Arab dan Bahrain juga dilaporkan terkena dampak serangan saat Iran melancarkan aksi balasan di beberapa negara Timur Tengah.

Di tengah eskalasi ini, Departemen Luar Negeri AS memerintahkan pemulangan personel pemerintah non-darurat serta anggota keluarga dari Bahrain, Irak, dan Yordania. Langkah tersebut mempertegas bahwa Washington melihat situasi keamanan regional berada dalam kondisi serius dan berpotensi memburuk.

Ketika risiko meningkat dan ketidakpastian membayangi, investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko seperti saham pasar berkembang, obligasi berimbal hasil tinggi, dan mata uang komoditas. Sebaliknya, mereka menambah posisi pada aset yang memiliki likuiditas tinggi dan stabilitas relatif—dolar AS menjadi pilihan utama.

Israel, Iran, dan Hizbullah: Ketegangan Multi-Front

Dari sisi regional, Israel menyatakan melakukan operasi yang menargetkan Iran dan Lebanon secara bersamaan. Pernyataan ini muncul setelah kelompok Hizbullah—yang didukung Teheran—meluncurkan serangan ke Tel Aviv menggunakan rudal dan drone.

Hizbullah sendiri merupakan kelompok militan dan partai politik yang berbasis di Lebanon, yakni Hezbollah. Keterlibatan kelompok ini memperluas cakupan konflik dan meningkatkan risiko perang regional berskala besar.

Dengan konflik yang terjadi di berbagai front secara simultan, pasar global mulai memperhitungkan skenario terburuk: terganggunya jalur perdagangan, distribusi energi, hingga rantai pasok teknologi. Premi risiko pun meningkat, tercermin dari penguatan dolar, kenaikan harga energi, dan tekanan pada pasar saham global.

Ancaman Perang Inflationary

Menurut Thierry Wizman, Global FX & Rates Strategist di Macquarie Group, faktor yang paling memicu kepanikan pasar saat ini adalah potensi perang yang bersifat inflationary.

Perang yang memicu lonjakan harga energi dan komoditas dapat menciptakan tekanan inflasi baru—mirip dengan periode 2022–2023 setelah invasi Rusia ke Ukraina. Saat itu, dunia mengalami kenaikan tajam harga energi dan pangan yang berdampak pada perlambatan pertumbuhan global.

Jika konflik Timur Tengah mengganggu pasokan minyak dan gas, harga energi berpotensi melonjak kembali. Kenaikan biaya energi akan membebani industri manufaktur, transportasi, dan sektor teknologi yang sangat bergantung pada listrik murah.

Wizman menilai bahwa banyak teknologi pendorong pertumbuhan saat ini—termasuk yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI)—membutuhkan infrastruktur data center dengan konsumsi energi besar. Jika energi menjadi langka atau mahal, pemerintah dapat menerapkan kebijakan pembatasan listrik yang kemungkinan besar akan memprioritaskan sektor esensial terlebih dahulu.

Sektor yang dianggap “non-esensial” bisa menghadapi pembatasan operasional, sehingga menekan pertumbuhan ekonomi lebih lanjut.

Dampak pada Pasar Global

Mode risk-off biasanya ditandai dengan pola yang cukup jelas: penguatan dolar, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (tergantung ekspektasi inflasi), pelemahan mata uang negara berkembang, dan tekanan pada pasar saham.

Penguatan dolar juga dapat memperburuk tekanan eksternal bagi negara-negara dengan utang dalam denominasi dolar. Ketika mata uang lokal melemah, beban pembayaran utang meningkat, menciptakan risiko stabilitas finansial.

Selain itu, lonjakan harga energi berpotensi mengganggu upaya bank sentral dalam mengendalikan inflasi. Jika inflasi kembali meningkat, bank sentral mungkin harus mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, yang pada akhirnya dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi global.

Dolar sebagai Safe Haven Global

Status dolar sebagai mata uang cadangan dunia memberinya keunggulan unik. Dalam situasi krisis, likuiditas pasar dolar yang dalam dan luas menjadi daya tarik utama. Investor tahu bahwa mereka dapat dengan mudah membeli atau menjual aset berbasis dolar tanpa menghadapi gangguan likuiditas yang berarti.

Selain itu, pasar obligasi pemerintah AS yang besar dan relatif aman memperkuat posisi dolar sebagai tempat berlindung. Kombinasi likuiditas, stabilitas institusional, dan ukuran ekonomi AS membuat greenback tetap menjadi pilihan utama saat badai melanda pasar global.

Penguatan dolar kali ini mempertegas pola klasik tersebut: ketika ketidakpastian meningkat, arus modal global cenderung mengalir kembali ke AS.

Risiko ke Depan: Inflasi dan Pertumbuhan

Ke depan, arah dolar akan sangat bergantung pada perkembangan konflik dan dampaknya terhadap harga energi. Jika eskalasi berlanjut dan memicu lonjakan inflasi global, dolar kemungkinan tetap kuat dalam jangka pendek.

Namun, skenario perang berkepanjangan yang menekan pertumbuhan global juga bisa menciptakan dinamika baru. Jika ekonomi AS turut terdampak signifikan, investor mungkin mulai mempertimbangkan ulang posisi mereka.

Untuk saat ini, pasar tampaknya masih berada dalam fase defensif. Ketidakpastian geopolitik, potensi gangguan energi, dan ancaman inflasi baru menjadi kombinasi yang cukup untuk menjaga dolar tetap berada di atas angin.

Selama ketegangan di Timur Tengah belum mereda dan risiko perang berskala luas masih membayangi, status dolar sebagai safe haven global tampaknya akan terus terjaga—setidaknya dalam jangka pendek hingga menengah.