BPF Malang

Image

Bestprofit | Trump Tekan Iran, Harga Minyak Dekati Level Tertinggi 3 Pekan

Bestprofit (24/8) – Harga minyak mentah bergerak menguat dalam perdagangan Jumat (21/8), di tengah ketidakpastian konflik di Timur Tengah yang kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Ketegangan geopolitik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda membuat pelaku pasar kembali memperhitungkan potensi gangguan terhadap jalur ekspor minyak utama dunia. West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di sekitar US$86,50 per barel, naik sekitar 0,63%. Harga tersebut masih berada dekat level tertinggi tiga pekan sebesar US$87,38 per barel yang dicapai pada sesi perdagangan sebelumnya. Sementara itu, minyak Brent melanjutkan tren positif dengan bergerak di sekitar US$93,50 per barel setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi sejak akhir Juli. Brent berada di jalur untuk membukukan kenaikan mingguan lebih dari 5%, didorong meningkatnya risiko gangguan pasokan akibat ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Kunjungi juga : bestprofit futures

Ketegangan Timur Tengah Jadi Fokus Utama Pasar

Perhatian pasar energi saat ini tertuju pada perkembangan geopolitik di Timur Tengah, terutama ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terkait pembukaan kembali jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia. Gangguan terhadap jalur tersebut berpotensi memberikan dampak besar terhadap arus pengiriman minyak mentah dan produk energi global. Situasi menjadi semakin kompleks karena gangguan juga terjadi di kawasan Selat Bab el-Mandeb. Kombinasi gangguan pada dua jalur strategis tersebut membuat pelaku pasar menaikkan premi risiko pada harga minyak. Premi risiko merupakan tambahan harga yang tercermin dalam pasar ketika investor memperhitungkan kemungkinan terjadinya gangguan pasokan akibat faktor geopolitik. Semakin tinggi tingkat ketidakpastian, semakin besar pula potensi premi yang diminta pasar.
Bestprofit | Minyak Tembus Tertinggi 3 Pekan

Risiko Gangguan Pasokan Semakin Meningkat

Kekhawatiran terhadap pasokan energi juga meningkat akibat ketegangan di kawasan Laut Merah. Kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap sejumlah kapal tanker minyak Arab Saudi sejak akhir Juli. Perkembangan tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa eskalasi konflik dapat mengganggu jalur ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah menuju pasar global. Bagi pasar minyak, ancaman terhadap kapal tanker memiliki konsekuensi yang cukup besar. Perusahaan pelayaran dapat menghadapi biaya asuransi yang lebih tinggi, perubahan rute, hingga penundaan pengiriman. Jika gangguan berlangsung dalam waktu lama, kondisi tersebut dapat memperketat pasokan dan mendorong harga minyak lebih tinggi. Investor pun kini tidak hanya memantau tingkat produksi minyak negara-negara eksportir, tetapi juga keamanan jalur transportasi yang digunakan untuk membawa komoditas tersebut ke berbagai wilayah dunia.

Tekanan Amerika Serikat terhadap Iran

Dari sisi geopolitik, tekanan terhadap Iran juga semakin meningkat. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan menerapkan kampanye sanksi ekonomi besar-besaran terhadap Teheran. Ancaman tersebut mencakup kemungkinan pemberian sanksi kepada negara, perusahaan, maupun lembaga keuangan yang masih melakukan transaksi atau menjalankan bisnis dengan Iran. Kebijakan tersebut berpotensi memberikan dampak terhadap perdagangan minyak Iran. Jika sanksi diperketat dan ekspor minyak Iran terganggu, pasokan yang tersedia di pasar global dapat berkurang. Namun, tekanan tersebut juga berisiko memperburuk ketegangan antara Washington dan Teheran. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengecam ancaman tersebut sebagai tindakan ilegal dan tidak manusiawi. Respons tersebut menunjukkan bahwa upaya diplomatik masih menghadapi berbagai hambatan. Selama belum terdapat kesepakatan yang dapat meredakan ketegangan, pasar minyak berpotensi mempertahankan premi risiko geopolitik.

Selat Hormuz Jadi Kunci Pergerakan Harga

Salah satu faktor paling penting yang akan menentukan arah harga minyak berikutnya adalah perkembangan terkait Selat Hormuz. Jalur pelayaran ini memiliki posisi strategis dalam perdagangan energi global. Karena itu, setiap indikasi bahwa jalur tersebut akan tetap tertutup atau mengalami gangguan berkepanjangan dapat meningkatkan kekhawatiran mengenai pasokan. Sebaliknya, jika Amerika Serikat dan Iran berhasil mencapai kesepakatan mengenai pembukaan kembali jalur pelayaran komersial, premi risiko pada harga minyak dapat berkurang dengan cepat. Pasar biasanya merespons perkembangan geopolitik secara agresif. Karena itu, berita mengenai gencatan senjata, kesepakatan diplomatik, atau pembukaan jalur pelayaran dapat memicu penurunan harga minyak meskipun kondisi fundamental belum berubah secara signifikan.

Persediaan Minyak AS Menjadi Penahan Kenaikan

Meskipun risiko geopolitik memberikan dukungan kuat terhadap harga minyak, pasar tetap menghadapi tekanan dari sisi fundamental Amerika Serikat. Data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah AS meningkat sebesar 4,405 juta barel untuk pekan yang berakhir pada 14 Agustus. Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan ekspektasi pasar yang sebelumnya memperkirakan penurunan sekitar 600.000 barel. Kenaikan persediaan tersebut menunjukkan bahwa pasokan minyak domestik AS masih cukup melimpah. Kondisi ini dapat membatasi ruang kenaikan harga apabila pertumbuhan permintaan tidak mampu menyerap tambahan persediaan. Data inventori menjadi salah satu indikator penting bagi pasar karena memberikan gambaran mengenai keseimbangan antara pasokan dan permintaan di Amerika Serikat, salah satu konsumen energi terbesar dunia. Jika persediaan terus meningkat dalam beberapa pekan mendatang, tekanan fundamental dapat semakin kuat dan mengimbangi dampak positif dari risiko geopolitik.

Brent Berpeluang Bertahan di Atas US$93

Dari sisi pergerakan harga, Brent menunjukkan momentum yang relatif kuat setelah mencatat kenaikan lebih dari 5% dalam sepekan. Harga yang bertahan di sekitar US$93,50 per barel menunjukkan bahwa pasar masih memberikan perhatian besar terhadap risiko gangguan pasokan. Brent berpotensi mempertahankan pergerakan di kisaran US$93–94 per barel selama ketegangan di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Penembusan yang konsisten di atas area tersebut dapat membuka peluang kenaikan lebih lanjut, terutama jika muncul kabar baru mengenai gangguan ekspor. Namun, investor perlu mewaspadai kemungkinan koreksi apabila risiko geopolitik mulai mereda. Penurunan premi risiko dapat menyebabkan harga minyak kehilangan sebagian kenaikan yang diperoleh dalam beberapa sesi terakhir.

WTI Mengincar Kembali US$87–88

WTI juga memiliki prospek positif dalam jangka pendek. Setelah bergerak di sekitar US$86,50 per barel, minyak acuan AS tersebut masih berpeluang menguji kembali area US$87–88 per barel. Level US$87,38 yang sebelumnya menjadi titik tertinggi tiga pekan menjadi area penting untuk diperhatikan. Jika harga mampu menembus dan bertahan di atas level tersebut, momentum bullish berpotensi semakin kuat. Sebaliknya, kegagalan mempertahankan momentum dapat mendorong harga kembali terkoreksi, terutama apabila data persediaan minyak AS terus menunjukkan peningkatan atau terdapat perkembangan positif dalam hubungan AS-Iran.

Prospek Minyak Masih Bullish, tetapi Risiko Koreksi Terbuka

Secara keseluruhan, harga minyak masih memiliki bias bullish dalam jangka pendek selama risiko geopolitik Timur Tengah tetap tinggi dan ketidakpastian mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz belum terselesaikan. Brent berpotensi bertahan di kisaran US$93–94 per barel, sementara WTI masih berpeluang menguji area US$87–88 per barel. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, ancaman terhadap kapal tanker, serta potensi gangguan jalur ekspor menjadi faktor utama yang menjaga premi risiko minyak. Namun, investor tetap perlu memperhatikan perkembangan fundamental Amerika Serikat. Lonjakan persediaan minyak mentah yang jauh melampaui ekspektasi menunjukkan bahwa pasokan domestik masih cukup besar. Selain itu, setiap kemajuan dalam diplomasi AS-Iran dapat dengan cepat mengurangi premi risiko geopolitik. Jika Selat Hormuz kembali dibuka dan ketegangan regional mereda, tekanan terhadap harga minyak dapat meningkat. Dengan demikian, arah minyak dalam perdagangan berikutnya akan sangat bergantung pada keseimbangan antara risiko geopolitik dan fundamental pasokan. Selama ketegangan Timur Tengah belum menemukan solusi, minyak masih berpeluang mempertahankan penguatan. Namun, perubahan sentimen geopolitik maupun memburuknya data persediaan AS dapat menjadi pemicu aksi ambil untung.