
Harga
Emas turun dari rekor terbaru, sekitar $70 di bawah puncak $3.707,57 per ons. Penurunan terjadi setelah The Fed memangkas
suku bunga 25 bps namun memberi sinyal hati-hati soal ruang pemotongan lebih lanjut sepanjang 2025, membuat pelaku
Pasar memilih bersikap waspada.
Meski
suku bunga yang lebih rendah biasanya menguntungkan
Emas sebagai aset tanpa imbal hasil,
Emas justru ditutup melemah 0,8% pada Rabu. Ketua Jerome Powell menekankan keputusan lanjutan akan “pertemuan demi pertemuan” dan mengingatkan risiko inflasi dari
Tarif, sehingga nada kebijakan terdengar kurang dovish dari ekspektasi
Pasar.
Penguatan Dolar AS juga menekan
Emas karena membuatnya lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Kendati begitu, kinerja tahun ini tetap impresif:
Emas masih naik nyaris 40% berkat meningkatnya permintaan aset aman di tengah gejolak perdagangan dan geopolitik, pembelian bank sentral, serta arus masuk ETF.
Faktor politik di sekitar The Fed ikut jadi sorotan—dari sengketa hukum yang melibatkan Gubernur Lisa Cook hingga dissent Stephen Miran yang memilih pemangkasan 50 bps. Di tengah ketidakpastian itu, proyeksi bullish bermunculan: Goldman Sachs menilai
Emas bisa mendekati $5.000 jika 1% kepemilikan Treasury swasta beralih ke
Emas, sementara Deutsche Bank menaikkan perkiraan rata-rata menjadi $4.000 tahun depan. Terakhir,
Emas bergerak di $3.638,41 per ons (14:47 waktu Singapura), dengan Indeks
Dolar Bloomberg naik 0,2%;
Perak dan paladium melemah, platinum sedikit menguat.
Poin penting:
Emas terkoreksi ±$70 dari rekor $3.707,57 setelah nada hati-hati The Fed.
Powell: keputusan
suku bunga berikutnya bersifat “meeting by meeting”.
Dolar menguat → tekanan tambahan untuk harga
Emas.
YTD
Emas masih naik ~40% berkat permintaan safe haven & pembelian bank sentral.
Prospek ekstrem: skenario Goldman dekat $5.000; DB proyeksi rata-rata $4.000 pada 2026.(ads)
Sumber: Bloomberg.com