
Harga
Minyak tergelincir pada Selasa setelah Presiden AS Donald Trump meningkatkan upaya diplomasi untuk mendorong tercapainya gencatan senjata di Ukraina. Trump mendorong adanya pertemuan langsung antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy setelah serangkaian pertemuan tingkat tinggi di Gedung Putih. WTI turun sekitar 1% ke bawah $63 per barel, sementara Brent melemah ke sekitar $66 per barel.
Pasar menilai, jika ada kesepakatan damai, pembatasan terhadap ekspor
Minyak Rusia bisa berkurang, meski sejauh ini aliran
Minyak Rusia relatif tetap stabil sejak perang dimulai. Trump menegaskan bahwa baik Rusia maupun Ukraina perlu menunjukkan fleksibilitas dalam pembicaraan. Namun, ketidakpastian masih tinggi karena pertempuran terus berlanjut. Ukraina mengklaim telah menyerang sistem pipa
Minyak Druzhba Rusia, sementara Moskow disebut membalas dengan menghantam kilang
Minyak di Ukraina.
Di sisi lain, harga
Minyak global juga masih tertekan oleh kekhawatiran oversupply seiring OPEC+ kembali menambah pasokan. Sepanjang tahun ini,
Minyak telah turun lebih dari 10%, diperburuk oleh ketidakpastian akibat kebijakan perdagangan AS. Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan kembali menyinggung potensi kenaikan
Tarif terhadap India karena pembelian
Minyak Rusia, menambah faktor risiko
Pasar.
Meski volatilitas relatif terbatas di musim panas, beberapa indikator menunjukkan potensi pergeseran arus perdagangan
Minyak. Di pesisir Teluk AS, harga barel
Minyak mencatat premi tertinggi dalam beberapa bulan, mengisyaratkan lebih banyak ekspor dalam waktu dekat. Sementara itu, WTI tercatat diperdagangkan dengan diskon terbesar terhadap Brent sejak April, faktor lain yang bisa mendorong pengiriman keluar negeri. Pada saat berita ini di tulis, WTI September turun 1,1% ke $62,70, kontrak Oktober lebih aktif melemah 1% ke $62,05, dan Brent Oktober turun 0,9% ke $66,02 per barel.(ayu)
Sumber:
newsmaker.id