
Harga
Minyak mulai stabil setelah turun tiga hari berturut-turut. Brent diperdagangkan di bawah $65 per barel dan WTI berada dekat $60 per barel.
Pasar lagi berhitung: seberapa besar efek sanksi Barat terhadap dua produsen
Minyak terbesar Rusia, Rosneft dan Lukoil. AS, lewat pemerintahan Donald Trump, berencana menegakkan sanksi keras itu untuk menekan Vladimir Putin agar mau negosiasi mengakhiri perang di Ukraina tapi tanpa bikin harga
Minyak meledak.
Dari sisi suplai, data industri AS menunjukkan stok
Minyak mentah nasional turun sekitar 4 juta barel, dan bensin serta distillate (bahan bakar diesel/pemanas) juga turun. Itu biasanya tanda permintaan energi masih kuat. Tapi gambarnya nggak sepenuhnya bullish: stok di hub utama Cushing, Oklahoma justru naik. Pelaku
Pasar sekarang nunggu data resmi stok
Pemerintah AS yang keluar Rabu malam waktu AS.
Tekanan lain datang dari OPEC+. Aliansi produsen
Minyak itu diperkirakan bakal terus menaikkan produksi dan bisa meresmikan tambahan suplai lagi di pertemuan akhir pekan ini.
Pasar khawatir surplus global makin besar, itu sebabnya harga
Minyak masih dalam jalur penurunan bulanan ketiga. Di Asia, kilang milik negara di India bahkan lagi mikir: masih aman nggak ambil
Minyak diskon Rusia lewat jalur pemasok yang belum kena sanksi?
Di luar isu pasokan, sentimen risiko juga digerakkan dua agenda besar minggu ini: pertemuan The Fed dan diplomasi perdagangan. The Fed diprediksi memangkas
suku bunga 0,25 poin, yang bisa mengubah selera investor terhadap aset berisiko termasuk komoditas energi. Lalu, Presiden Trump dijadwalkan ketemu Presiden China Xi Jinping pada Kamis, dengan peluang deal dagang baru. Jadi untuk sekarang
Minyak nggak jatuh lebih dalam, tapi
Pasar lagi tegang nunggu konfirmasi: stok turun beneran? Rusia bisa tetap ekspor? OPEC+ buka keran seberapa besar?(asd)
Sumber:
newsmaker.id