
Harga
Minyak menguat tipis setelah Ketua The Fed Jerome Powell membuka opsi pemangkasan
suku bunga pada September, sementara pemerintahan Trump kembali menekan India terkait pembelian
Minyak Rusia menjelang kenaikan
Tarif. WTI mendekati US$64/barel seiring melemahnya
Dolar dan reli aset berisiko. Brent $67,56/barel mengawali perdagangan Amerika.
Komentar Powell yang lebih dovish dari perkiraan mendorong saham dan
Minyak ke level intraday tinggi. Prospek
suku bunga lebih rendah dipandang menopang pertumbuhan dan permintaan BBM, sekaligus menurunkan biaya pendanaan & penyimpanan bagi pelaku
Pasar Minyak.
Di sisi geopolitik, penasihat perdagangan Gedung Putih Peter Navarro kembali mengecam India, dan Presiden Donald Trump mengancam
Tarif impor India 50%, separuhnya karena pembelian
Minyak Rusia. Meski demikian, kilang-kilang India telah kembali membeli setelah jeda singkat, dan pejabat Moskow memperkirakan aliran pasokan berlanjut.
Harapan perdamaian Rusia–Ukraina minim; Presiden Volodymyr Zelenskiy menyatakan belum ada kontak untuk perundingan. Di tengah likuiditas musim panas yang tipis, harga
Minyak cenderung bergerak datar beberapa pekan terakhir, sambil menanti katalis baru saat pelaku
Pasar kembali aktif.
Prospek ke depan: Analis Morgan Stanley memperkirakan surplus pasokan besar pada kuartal IV kemungkinan menekan harga, namun karena sudah diantisipasi luas, kecil peluang terjadi aksi jual kacau. Poin penting: Powell dovish → sentimen risk-on;
Tarif AS–India → risiko tajuk; India tetap membeli
Minyak Rusia; Q4 berpotensi oversupply.(ayu)
Sumber:
newsmaker.id