BPF Malang

Image

Bestprofit | Hormuz Belum Dibuka, Harga Minyak Naik

Bestprofit (10/8) – Harga minyak kembali menguat pada perdagangan Senin, 10 Agustus 2026, setelah harapan pembukaan kembali Selat Hormuz belum sepenuhnya terwujud. Negosiasi antara Iran dan Oman memang disebut telah mendekati tahap akhir, tetapi Teheran menegaskan bahwa kesepakatan mengenai jalur pelayaran belum otomatis berarti Selat Hormuz akan segera dibuka secara penuh.

Minyak mentah Brent naik sekitar 1% ke US$84,39 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) menguat sekitar 0,75% menjadi US$78,77 per barel. Kenaikan ini terjadi setelah kedua acuan tersebut sebelumnya anjlok lebih dari 7% sepanjang pekan lalu karena pasar sempat optimistis bahwa kesepakatan untuk membuka kembali Hormuz akan segera tercapai.

Bestprofit | Hormuz Belum Jelas, Brent Kembali Menguat

Harapan Pembukaan Hormuz Belum Menjadi Kenyataan

Selat Hormuz kembali menjadi pusat perhatian pasar minyak global. Iran dan Oman memang sedang membahas kesepakatan untuk membentuk jalur pelayaran baru di kawasan tersebut. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pembicaraan telah berada dalam tahap akhir.

Namun, persoalan utamanya bukan hanya kesepakatan antara Iran dan Oman. Teheran masih menetapkan sejumlah syarat sebelum lalu lintas kapal dapat kembali normal.

Iran menyatakan pembukaan kembali jalur strategis tersebut bergantung pada langkah Amerika Serikat, termasuk penghentian blokade laut, pencabutan sanksi, serta kompensasi atas kerusakan akibat serangan sebelumnya. Iran juga masih menolak melakukan pembicaraan langsung dengan Washington selama menganggap kesepakatan sementara yang dicapai pada Juni belum dipatuhi sepenuhnya.

Situasi tersebut membuat pasar kembali berhati-hati. Investor sebelumnya telah memasukkan skenario pembukaan Hormuz ke dalam harga minyak, sehingga ketika proses tersebut ternyata masih menghadapi hambatan, sebagian premi risiko geopolitik kembali masuk ke harga.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Brent Kembali di Atas US$84 per Barel

Pergerakan harga minyak pada Senin menunjukkan betapa sensitifnya pasar terhadap perkembangan diplomasi di Timur Tengah.

Brent sempat diperdagangkan sekitar US$84,39 per barel, sedangkan WTI berada di sekitar US$78,77. Angka tersebut masih jauh di bawah level sekitar US$100 per barel yang sempat dicapai Brent pada akhir Juli, tetapi menunjukkan pemulihan setelah harga tertekan tajam pada pekan sebelumnya.

Penurunan lebih dari 7% pada pekan lalu terjadi karena investor memperkirakan pembukaan Hormuz akan segera mengembalikan arus minyak dan gas. Jika jalur pelayaran kembali normal, pasokan energi global berpotensi meningkat dan tekanan harga dapat berkurang.

Sebaliknya, semakin lama ketidakpastian berlangsung, semakin besar kemungkinan pasar mempertahankan premi risiko pada harga minyak.

Analis melihat harga minyak saat ini berada di antara dua kekuatan. Di satu sisi, terdapat harapan diplomatik bahwa kesepakatan Iran-Oman dapat memperbaiki lalu lintas pelayaran. Di sisi lain, persyaratan Iran terhadap Amerika Serikat membuat pembukaan penuh Hormuz belum dapat dipastikan.

Selat Hormuz Sangat Penting bagi Pasokan Energi Dunia

Besarnya perhatian terhadap Selat Hormuz bukan tanpa alasan. Sebelum konflik terbaru, jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut menjadi salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia.

Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair atau LNG global biasanya melewati kawasan tersebut. Karena itu, gangguan terhadap lalu lintas kapal di Hormuz dapat langsung memengaruhi harga minyak, biaya pengiriman, premi asuransi, serta ketersediaan energi di berbagai negara.

Dampaknya juga mulai terlihat pada aktivitas pelayaran. Data yang dikutip Reuters menunjukkan hanya 33 kapal yang melewati Hormuz dari Senin hingga Kamis pekan lalu, turun dari 50 kapal pada periode yang sama pekan sebelumnya. Sebelum konflik dimulai, sekitar 130-140 kapal biasanya melintasi kawasan tersebut setiap pekan.

Penurunan aktivitas tersebut menunjukkan bahwa persoalan Hormuz bukan sekadar isu politik. Risiko keamanan yang tinggi telah mengubah keputusan operator kapal, perusahaan energi, dan perusahaan asuransi.

Ancaman terhadap Kapal dan Infrastruktur Energi Meningkat

Risiko keamanan semakin memperumit upaya mengembalikan aktivitas pelayaran ke kondisi normal.

Pada Sabtu, Uni Emirat Arab menuduh Iran melakukan serangan rudal terhadap kapal yang terkait dengan perusahaan energi milik negara, ADNOC, ketika kapal tersebut melintasi Selat Hormuz. Tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut, tetapi kejadian itu menambah daftar serangan terhadap kapal di kawasan tersebut.

ADNOC sebelumnya menyatakan bahwa 15 kapalnya telah menjadi sasaran serangan rudal dan drone sejak konflik dimulai. Serangkaian serangan tersebut telah meningkatkan biaya pengiriman dan menciptakan kekhawatiran baru mengenai keselamatan pelayaran.

Di luar Hormuz, kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran juga mengklaim telah menyerang fasilitas Saudi Aramco di Jazan. Pemerintah Arab Saudi mengonfirmasi adanya kebakaran di fasilitas tersebut, meskipun tidak memberikan penjelasan mengenai penyebab kebakaran.

Serangan terhadap infrastruktur energi membuat risiko pasokan semakin kompleks. Pasar tidak hanya harus memperhitungkan gangguan di Hormuz, tetapi juga kemungkinan meluasnya konflik ke jalur perdagangan dan fasilitas produksi minyak lainnya.

Pasar Minyak Menghadapi Dua Skenario

Pergerakan minyak selanjutnya sangat bergantung pada perkembangan negosiasi Iran dan Oman serta sikap Amerika Serikat.

Skenario pertama adalah tercapainya kesepakatan yang benar-benar dapat diterapkan. Jika jalur pelayaran kembali aman dan kapal tanker mulai melintas secara rutin, premi risiko geopolitik berpotensi turun. Kondisi tersebut kemungkinan memberikan tekanan terhadap harga minyak.

Namun, skenario kedua justru dapat mendorong harga kembali naik. Jika negosiasi mengalami kebuntuan, pembukaan Hormuz tertunda, atau serangan terhadap kapal dan infrastruktur energi meningkat, pasar dapat kembali memperhitungkan potensi gangguan pasokan.

Analis juga menilai indikator yang lebih penting bukan sekadar pernyataan politik mengenai kesepakatan, tetapi apakah lalu lintas kapal benar-benar kembali meningkat, premi asuransi perang turun, dan pengiriman minyak mulai normal.

Gangguan Pasokan Bisa Berlangsung Lebih Lama

Besarnya dampak konflik juga tercermin dari kondisi cadangan minyak global. CEO Saudi Aramco Amin Nasser sebelumnya memperkirakan pasar minyak global telah kehilangan lebih dari 2,6 miliar barel sejak konflik dimulai pada Februari 2026.

Menurut Nasser, bahkan apabila Selat Hormuz dibuka kembali, proses pemulihan persediaan minyak tidak akan berlangsung seketika. Aramco memperkirakan dibutuhkan waktu sekitar 18 bulan dengan tambahan produksi 2,1 juta barel per hari untuk memulihkan persediaan yang hilang.

Artinya, pembukaan Hormuz memang dapat mengurangi tekanan pasar, tetapi belum tentu langsung menghapus seluruh persoalan pasokan.

Kondisi tersebut menjadi semakin penting karena kapasitas sistem penyulingan global juga berada dalam tekanan. Gangguan berkepanjangan di Timur Tengah dapat membuat pasar produk minyak seperti diesel tetap ketat meskipun sebagian arus minyak mentah mulai kembali normal.

Hormuz Menjadi Penentu Harga Minyak Berikutnya

Penguatan harga minyak pada Senin menunjukkan bahwa pasar belum sepenuhnya percaya Selat Hormuz akan segera kembali normal. Harapan terhadap kesepakatan Iran dan Oman memang masih ada, tetapi berbagai persyaratan politik dan risiko keamanan membuat prosesnya jauh lebih rumit.

Untuk sementara, Brent bertahan di atas US$84 per barel dan WTI mendekati US$79. Pergerakan berikutnya kemungkinan sangat bergantung pada perkembangan diplomasi dan kondisi keamanan di kawasan.

Jika kesepakatan benar-benar menghasilkan pembukaan jalur pelayaran yang aman dan konsisten, harga minyak berpotensi kembali tertekan. Sebaliknya, kegagalan negosiasi atau meningkatnya serangan terhadap kapal dan fasilitas energi dapat menghidupkan kembali kekhawatiran mengenai pasokan global.