Bestprofit (24/8) – Harga emas kembali menjadi sorotan pada perdagangan Asia, Senin (24/8), setelah logam mulia bergerak di dekat level tertinggi dalam tiga bulan. Penguatan tersebut terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap prospek dolar AS menyusul langkah agresif Departemen Keuangan Amerika Serikat di pasar obligasi.
Bullion sempat naik hingga 0,5% ke atas US$4.620 per troy ounce. Kenaikan ini memperpanjang tren positif emas yang telah berlangsung selama tiga pekan berturut-turut. Pada pekan sebelumnya, harga emas bahkan melonjak lebih dari 5%, menunjukkan kuatnya permintaan investor terhadap aset lindung nilai.
Bestprofit | Gold Bertahan di Atas $4.500, Kenaikan Terbatas
Buyback Obligasi AS Menjadi Katalis untuk Emas
Salah satu faktor utama yang mendorong reli emas adalah keputusan Departemen Keuangan AS untuk meningkatkan program pembelian kembali atau buyback obligasi pemerintah, khususnya surat utang dengan tenor panjang.
Kebijakan tersebut mengejutkan pasar karena dilakukan ketika pemerintah AS menghadapi biaya pinjaman yang relatif tinggi. Melalui pembelian kembali obligasi, Treasury berupaya mengelola kondisi pasar surat utang sekaligus membantu mengendalikan biaya pembiayaan pemerintah.
Langkah tersebut kemudian memberikan tekanan terhadap imbal hasil Treasury. Penurunan yield obligasi AS turut menekan daya tarik dolar karena perbedaan imbal hasil dengan aset lain menjadi lebih kecil.
Bagi emas, situasi ini menjadi katalis positif. Emas tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi, sehingga ketika yield instrumen pendapatan tetap turun, biaya peluang memegang emas menjadi relatif lebih rendah.
Dolar AS Melemah, Emas Mendapat Dukungan
Pergerakan emas juga tidak dapat dipisahkan dari arah dolar AS. Komoditas seperti emas pada umumnya dihargakan dalam dolar, sehingga pelemahan greenback membuat logam mulia relatif lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang lain.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan permintaan global terhadap emas. Dalam perdagangan terbaru, bullion naik 0,4% menjadi US$4.619,17 per troy ounce pada pukul 07.53 waktu Singapura, setelah sebelumnya menguat 1,9% pada Jumat.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa investor masih mempertahankan minat terhadap emas meskipun harga telah mengalami reli yang cukup tajam. Pasar tampaknya masih melihat adanya ruang bagi emas untuk melanjutkan kenaikan selama dolar dan yield Treasury berada di bawah tekanan.
Kekhawatiran terhadap Kepercayaan pada Dolar
Selain faktor teknis dan hubungan antara emas dengan yield, kebijakan Treasury juga memunculkan persoalan yang lebih besar, yakni kepercayaan terhadap mata uang AS.
Intervensi pemerintah melalui pembelian kembali obligasi dapat dipandang sebagai upaya untuk mengelola biaya pinjaman negara. Namun, bagi sebagian investor, langkah tersebut sekaligus menghidupkan kembali kekhawatiran mengenai kondisi fiskal Amerika Serikat dan keberlanjutan utang pemerintah.
Sentimen inilah yang kemudian memperkuat tema
debasement trade. Strategi tersebut merujuk pada kecenderungan investor mengalokasikan dana ke aset yang dianggap mampu mempertahankan nilai ketika mata uang mengalami penurunan daya beli atau ketika risiko utang pemerintah meningkat.
Emas menjadi salah satu aset yang paling sering dikaitkan dengan strategi tersebut karena pasokannya terbatas dan tidak bergantung langsung pada kebijakan moneter suatu negara.
Tema Debasement Kembali Menguat
Tema pelemahan nilai mata uang sebelumnya menjadi salah satu faktor yang membantu mendorong reli emas hingga sekitar 65% pada 2025. Kini, tema tersebut kembali mendapatkan perhatian setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan kesiapan untuk memperbesar program buyback obligasi dengan biaya yang lebih mahal.
Pemerintah AS juga menyiapkan berbagai inisiatif fiskal untuk menghadapi biaya pinjaman yang berada di level tinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Bagi pasar, perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa kebijakan fiskal dan pengelolaan utang pemerintah akan terus menjadi faktor penting dalam menentukan arah dolar maupun emas.
Jika investor semakin khawatir terhadap peningkatan beban utang AS, permintaan terhadap aset alternatif berpotensi meningkat. Dalam kondisi tersebut, emas dapat memperoleh keuntungan karena dipandang sebagai penyimpan nilai yang tidak memiliki risiko kredit seperti surat utang pemerintah.
Ray Dalio Dorong Alokasi Emas
Sentimen bullish terhadap emas turut diperkuat oleh pandangan sejumlah investor besar. Pendiri Bridgewater Associates, Ray Dalio, dalam unggahan LinkedIn pada Jumat menyarankan investor untuk mengurangi kepemilikan obligasi dan mempertimbangkan alokasi hingga 15% portofolio ke emas.
Menurut Dalio, emas dapat berperan sebagai perlindungan terhadap risiko krisis utang AS. Pernyataan tersebut mendapatkan perhatian pasar karena datang ketika investor kembali memperdebatkan keberlanjutan fiskal Amerika dan besarnya kebutuhan pembiayaan pemerintah.
Rekomendasi tersebut tidak berarti seluruh investor harus mengikuti komposisi portofolio yang sama. Namun, pernyataan Dalio memperlihatkan bahwa emas semakin dipandang bukan hanya sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, tetapi juga sebagai instrumen diversifikasi menghadapi risiko fiskal dan mata uang.
Pergerakan Silver dan Logam Mulia Lain
Penguatan tidak hanya terjadi pada emas. Harga silver turut naik 0,4% menjadi US$69,29 per ounce dalam perdagangan terbaru.
Sementara itu, platinum dan palladium bergerak relatif stabil. Perbedaan performa tersebut menunjukkan bahwa faktor makroekonomi dan fungsi emas sebagai aset lindung nilai masih menjadi pendorong utama pergerakan bullion.
Emas memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan logam mulia lainnya karena permintaannya sangat dipengaruhi oleh keputusan bank sentral, arus investasi, ekspektasi suku bunga, inflasi, serta kondisi geopolitik dan fiskal.
Level US$4.600 Jadi Penentu Berikutnya
Dari perspektif teknikal, area US$4.600 per troy ounce kini menjadi level penting bagi emas. Harga yang mampu bertahan di atas area tersebut akan memperkuat indikasi bahwa momentum bullish masih terjaga setelah reli lebih dari 5% pada pekan lalu.
Jika support tersebut bertahan, emas berpotensi melanjutkan kenaikan menuju area US$4.650 hingga US$4.700 per troy ounce. Namun, pergerakan menuju target tersebut kemungkinan tidak berlangsung tanpa koreksi.
Reli yang tajam dalam waktu singkat dapat mendorong sebagian investor mengambil keuntungan. Tekanan jual juga berpotensi meningkat apabila dolar AS mulai pulih atau pasar menilai dampak program buyback Treasury sudah sepenuhnya tercermin dalam harga.
Prospek Emas Masih Positif, tetapi Waspadai Profit Taking
Secara keseluruhan, penguatan emas pada awal pekan memperlihatkan bahwa pasar kembali sensitif terhadap isu kepercayaan terhadap dolar AS, kebijakan fiskal, dan risiko utang pemerintah Amerika.
Selama yield Treasury dan dolar tetap tertekan oleh kebijakan buyback, emas memiliki fondasi yang cukup kuat untuk mempertahankan momentum positif. Dukungan dari meningkatnya perhatian investor terhadap strategi
debasement trade juga dapat menjadi faktor tambahan bagi permintaan bullion.
Meski demikian, kenaikan harga yang agresif membuat risiko koreksi jangka pendek tetap terbuka. Investor perlu mencermati apakah emas mampu mempertahankan level US$4.600 atau justru mengalami aksi profit taking.
Dengan demikian, arah emas dalam beberapa sesi mendatang akan sangat bergantung pada keseimbangan antara tekanan terhadap dolar, pergerakan yield Treasury, kebijakan Departemen Keuangan AS, serta persepsi pasar terhadap risiko fiskal Amerika. Jika tekanan terhadap greenback berlanjut, emas berpeluang menguji US$4.650–US$4.700. Sebaliknya, pemulihan dolar dan meredanya kekhawatiran fiskal dapat menjadi penghambat bagi reli berikutnya.