BPF Malang

Image

Bestprofit | Emas Tumbang, Yield dan Konflik AS-Iran Menekan

Bestprofit (2/9) – Harga emas mengalami tekanan hebat pada perdagangan Selasa (1/9), setelah investor menghadapi kombinasi penguatan dolar AS, lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, serta meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran turut memperburuk sentimen pasar setelah aksi militer kembali terjadi di kawasan strategis Timur Tengah. Harga emas di pasar spot turun 2,7% dan ditutup pada US$4.328,64 per troy ounce. Sementara itu, kontrak gold futures melemah 2,4% ke US$4.375,75 per ounce. Penurunan tersebut menunjukkan bahwa meskipun emas secara tradisional dipandang sebagai aset safe haven ketika terjadi ketegangan geopolitik, kekuatan dolar AS dan kenaikan yield obligasi saat ini justru menjadi faktor yang lebih dominan bagi pergerakan logam mulia.
Bestprofit | Emas Tertekan, Fed vs Treasury

Eskalasi AS-Iran Tekan Sentimen Pasar

Tekanan terhadap harga emas terjadi setelah Komando Pusat AS atau US Central Command (CENTCOM) menyatakan telah melancarkan serangan terhadap sejumlah target yang berkaitan dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC. Media pemerintah Iran melaporkan serangan tersebut mengenai sebuah pabrik di Qeshm serta sejumlah target nonmiliter di Provinsi Hormozgan. Eskalasi ini menjadi perkembangan terbaru dalam ketegangan antara Washington dan Teheran yang sebelumnya telah meningkat akibat persoalan kendali dan keamanan Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan salah satu rute perdagangan energi paling strategis di dunia. Situasi semakin memanas sejak akhir pekan ketika CENTCOM menyatakan telah mengambil tindakan terbatas dan presisi terhadap pasukan IRGC yang diduga melakukan upaya peletakan ranjau di jalur strategis tersebut. Iran kemudian merespons dengan menyerang pangkalan militer AS di Yordania. Media pemerintah Yordania melaporkan delapan rudal berhasil dicegat dan dihancurkan. Presiden Donald Trump mengatakan serangan terbaru AS merupakan respons terhadap upaya peletakan ranjau di Selat Hormuz sekaligus serangan terhadap pangkalan militer AS.
Kunjungi juga : bestprofit futures

Harga Minyak Melonjak, Kekhawatiran Inflasi Meningkat

Eskalasi konflik AS-Iran tidak hanya berdampak pada pasar emas. Harga minyak mentah juga melonjak tajam karena investor mengantisipasi potensi gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah. Brent crude futures naik 5,1% menjadi US$95,13 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) menembus US$90 per barel untuk pertama kalinya sejak 11 Juni. Kenaikan harga minyak menjadi persoalan tersendiri bagi pasar keuangan. Lonjakan harga energi dapat meningkatkan tekanan inflasi, terutama jika gangguan pasokan berlangsung dalam waktu lama. Bagi pasar emas, kondisi tersebut justru dapat menjadi tekanan tambahan. Inflasi energi yang meningkat berpotensi membuat bank sentral mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. Akibatnya, ekspektasi terhadap penurunan suku bunga dapat berkurang atau bahkan berbalik menjadi ekspektasi kenaikan suku bunga. Situasi ini membuat investor semakin berhati-hati dalam mengoleksi emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga.

Yield Treasury AS Naik Tajam

Faktor lain yang menjadi beban emas berasal dari pasar obligasi pemerintah AS. Yield Treasury meningkat tajam karena investor mencemaskan kombinasi inflasi dan kondisi fiskal AS. Yield Treasury tenor 10 tahun menyentuh level tertinggi sejak November 2023. Sementara itu, yield tenor dua tahun mencapai level tertinggi sejak Juli 2024. Kenaikan yield memiliki hubungan erat dengan harga emas. Ketika imbal hasil aset berbasis dolar seperti Treasury meningkat, biaya peluang memegang emas ikut naik. Investor dapat memilih instrumen yang memberikan imbal hasil dibandingkan mempertahankan aset seperti emas yang tidak menghasilkan bunga. Di saat yang sama, kenaikan yield Treasury turut mendukung penguatan dolar AS. Bagi investor di luar Amerika Serikat, dolar yang lebih kuat membuat emas menjadi relatif lebih mahal sehingga permintaannya berpotensi tertekan.

Ekspektasi Rate Hike The Fed Kembali Menguat

Tekanan terhadap emas semakin besar setelah ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September meningkat. Pidato hawkish Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole menjadi salah satu faktor yang mengubah persepsi pasar terhadap arah kebijakan moneter AS. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September berada di sekitar 68%. Sementara itu, peluang The Fed mempertahankan suku bunga berada di kisaran 32%. Perubahan ekspektasi tersebut penting bagi pasar emas karena suku bunga yang lebih tinggi biasanya memberikan tekanan terhadap aset non-yielding. Jika The Fed benar-benar menaikkan suku bunga, dolar AS dan yield Treasury berpotensi kembali menguat. Kondisi tersebut dapat membuat emas semakin sulit untuk mempertahankan level harga tingginya. Sebaliknya, jika bank sentral AS memberikan sinyal lebih dovish, emas berpotensi kembali menarik minat investor karena biaya peluang memegang logam mulia akan menurun.

Data JOLTS Tunjukkan Pasar Tenaga Kerja Masih Tangguh

Data pasar tenaga kerja AS juga menjadi perhatian investor. Laporan Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) menunjukkan jumlah lowongan pekerjaan pada Juli mencapai 7,271 juta. Angka tersebut memang lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 7,330 juta. Namun, jumlah lowongan pada Juli masih meningkat dibandingkan angka Juni yang telah direvisi turun menjadi 7,182 juta. Data tersebut menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja AS masih memiliki tingkat ketahanan yang cukup baik. Kondisi ini membuat The Fed belum sepenuhnya mendapatkan alasan kuat untuk segera melonggarkan kebijakan moneternya. Pasar kini membutuhkan data yang lebih kuat untuk menentukan arah kebijakan suku bunga selanjutnya. Salah satu data terpenting yang ditunggu adalah laporan Nonfarm Payrolls (NFP) AS.

NFP Jadi Penentu Arah Emas Selanjutnya

Laporan NFP AS untuk Agustus akan dirilis pada Jumat. Data tersebut akan menjadi salah satu indikator utama yang diperhatikan investor untuk mengukur kesehatan pasar tenaga kerja sekaligus menentukan peluang perubahan kebijakan The Fed. Jika pertumbuhan lapangan kerja masih kuat dan tingkat pengangguran tetap rendah, ekspektasi kenaikan suku bunga dapat kembali meningkat. Skenario tersebut berpotensi memperkuat dolar AS dan yield Treasury sehingga menjadi tekanan tambahan bagi emas. Sebaliknya, apabila NFP menunjukkan pelemahan signifikan, pasar dapat kembali memperkirakan ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan. Dalam skenario tersebut, emas berpotensi mendapatkan momentum rebound. Investor juga akan memperhatikan perkembangan konflik AS-Iran. Setiap tanda deeskalasi atau kabar positif terkait Selat Hormuz dapat mengurangi kekhawatiran inflasi energi. Kondisi tersebut berpotensi menurunkan tekanan terhadap ekspektasi suku bunga dan memberikan ruang bagi emas untuk pulih.

Prospek Harga Emas: US$4.400 Jadi Level Kunci

Penurunan tajam pada perdagangan Selasa menunjukkan bahwa pasar saat ini lebih menempatkan dolar AS, yield Treasury, dan ekspektasi kenaikan suku bunga sebagai faktor dominan dibandingkan fungsi emas sebagai aset safe haven. Lonjakan harga minyak akibat eskalasi AS-Iran semakin memperbesar risiko inflasi. Kondisi tersebut dapat membuat investor memperkirakan kebijakan moneter AS akan tetap ketat, sehingga menekan aset non-yielding seperti emas. Secara teknikal, area US$4.400 menjadi level penting untuk diperhatikan. Selama XAU/USD masih bertahan di bawah area tersebut, tekanan jual berpotensi berlanjut. Namun, prospek tersebut dapat berubah dengan cepat apabila data NFP menunjukkan pelemahan pasar tenaga kerja AS atau terjadi perkembangan positif dalam konflik AS-Iran. Pelemahan data tenaga kerja dapat mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, sementara deeskalasi geopolitik dapat meredakan kekhawatiran inflasi energi.