BPF Malang

Image

Bestprofit | Emas Rekor, Hormuz Terbuka.

Bestprofit (20/4) – Pasar keuangan global baru saja menyaksikan pergerakan yang cukup paradoks namun signifikan. Harga emas melonjak ke level tertinggi dalam hampir satu bulan terakhir, sebuah fenomena yang dipicu oleh pernyataan mengejutkan dari Iran mengenai status Selat Hormuz. Jalur pelayaran paling vital di dunia tersebut dinyatakan “terbuka sepenuhnya” untuk lalu lintas komersial, sebuah langkah yang diinterpretasikan oleh pasar sebagai awal dari de-eskalasi konflik regional yang selama ini mencekik ekonomi global.

Kenaikan harga emas ini tidak hanya mencerminkan sentimen geopolitik, tetapi juga perubahan peta makroekonomi, terutama terkait melemahnya dolar AS dan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (Treasury). Mari kita bedah lebih dalam faktor-faktor yang mendorong reli luar biasa ini.

Bestprofit | Emas Tertahan di Tengah Harapan Damai Iran

Sinyal dari Teheran: Selat Hormuz dan Harapan Gencatan Senjata

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melalui platform X, memberikan angin segar bagi perdagangan dunia. Ia menyatakan bahwa sejalan dengan proses gencatan senjata yang berlangsung di Lebanon, Selat Hormuz kini terbuka bagi kapal-kapal komersial. Selat ini merupakan urat nadi energi dunia; hampir seperlima dari konsumsi minyak harian global melewati jalur sempit ini.

Namun, keterbukaan ini tidak tanpa catatan. Meskipun diplomasi menunjukkan niat baik, realita di lapangan tetap kompleks. Televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa koordinasi dengan angkatan laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) tetap menjadi syarat mutlak bagi pelayaran. Di sisi lain, ketegangan masih terasa dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menegaskan bahwa blokade laut AS akan tetap berlaku hingga kesepakatan final tercapai. Ketidakpastian yang masih tersisa inilah yang justru memberikan “bahan bakar” bagi emas sebagai aset perlindungan.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Logika Terbalik: Mengapa Emas Naik Saat Konflik Mereda?

Secara tradisional, emas sering dianggap sebagai aset safe haven yang diburu saat perang meletus. Namun, dalam konteks saat ini, pergerakan emas mengikuti logika ekonomi yang lebih dalam terkait inflasi dan suku bunga.

Selama konflik memuncak, kemacetan di Selat Hormuz praktis menghentikan arus energi, memicu kekhawatiran akan lonjakan harga minyak dan gas. Harga energi yang tinggi adalah katalis inflasi. Jika inflasi melonjak, bank sentral seperti Federal Reserve (The Fed) cenderung mempertahankan suku bunga tinggi atau bahkan menaikkannya. Suku bunga tinggi biasanya buruk bagi emas karena emas tidak memberikan imbal hasil bunga (non-yielding).

Dengan adanya potensi perdamaian:

  1. Risiko inflasi energi menurun, memberi ruang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter.

  2. Ekspektasi pemangkasan suku bunga meningkat, yang secara otomatis meningkatkan daya tarik emas.

  3. Likuiditas kembali pulih, setelah sebelumnya investor terpaksa menjual emas untuk menambal kerugian di aset lain (margin call) saat fase awal perang yang kacau.

Pelemahan Dolar dan Yield Treasury: Katalis Utama

Salah satu pendorong teknis di balik lonjakan emas hingga 2,1% (sebelum sedikit terkoreksi) adalah koreksi pada Bloomberg Dollar Spot Index yang turun 0,2%. Emas diperdagangkan dalam denominasi dolar; ketika dolar melemah, emas menjadi lebih murah bagi investor yang memegang mata uang lain, sehingga permintaan meningkat.

Selain itu, penurunan imbal hasil Treasury AS memperkuat posisi emas. Sebagai aset yang tidak memberikan bunga, daya saing emas meningkat tajam ketika “saingannya”—yakni obligasi pemerintah—memberikan imbal hasil yang lebih rendah. Analis mencatat bahwa sejak perang dimulai, emas cenderung bergerak berlawanan arah dengan minyak dan dolar, namun kini mulai bergerak selaras dengan aset berisiko (seperti saham) karena narasi perdamaian membawa optimisme pertumbuhan ekonomi.

Pergerakan Harga dan Performa Logam Mulia Lainnya

Pada penutupan perdagangan di New York, emas spot mencatatkan kenaikan impresif sebesar 1,5% ke level US$4.861,66 per ons. Angka ini menunjukkan betapa kuatnya kepercayaan pasar terhadap nilai jangka panjang logam kuning ini di tengah transisi geopolitik.

Tidak hanya emas, logam mulia lainnya juga menikmati reli:

  • Perak: Melonjak tajam sebesar 4,2%, menunjukkan permintaan industri dan spekulatif yang tinggi.

  • Platinum & Palladium: Turut menguat, didorong oleh ekspektasi bahwa normalisasi jalur perdagangan akan memulihkan rantai pasok industri otomotif dan manufaktur global.

Ekspektasi Terhadap The Fed dan Pertemuan Desember

Pasar kini mulai memasang taruhan besar pada pertemuan Federal Reserve bulan Desember mendatang. Dengan meredanya ketegangan di Timur Tengah, kekhawatiran akan “inflasi yang diimpor” dari harga minyak mulai memudar. Hal ini memberikan lampu hijau bagi para pembuat kebijakan untuk melanjutkan siklus pelonggaran moneter.

Spekulasi mengenai pemangkasan suku bunga telah meningkat secara drastis. Jika The Fed benar-benar memangkas biaya pinjaman, maka hambatan utama bagi kenaikan harga emas akan hilang. Emas diprediksi akan terus menguji level-level tertinggi baru jika data ekonomi AS mendukung narasi pelunakan inflasi ini.

Kesimpulan: Menatap Masa Depan Pasar Komoditas

Lonjakan harga emas kali ini adalah bukti betapa sensitifnya pasar terhadap isu geopolitik di Selat Hormuz. Meskipun pernyataan Iran memberikan harapan akan normalisasi, pasar tetap waspada terhadap sikap tegas pemerintah AS.

Bagi investor, emas saat ini bukan lagi sekadar pelarian dari ketakutan, melainkan strategi untuk mengambil keuntungan dari potensi perubahan kebijakan moneter global. Jika gencatan senjata di Lebanon bertahan dan Selat Hormuz benar-benar kembali beroperasi normal tanpa gesekan militer, kita mungkin akan melihat emas memasuki era baru di mana harganya didorong oleh pertumbuhan ekonomi yang stabil dan suku bunga yang lebih rendah, bukan lagi oleh kecemasan akan perang.

Namun, seperti yang diingatkan oleh analis MKS PAMP, momentum ini sangat bergantung pada berita utama (headlines). Dalam dunia yang saling terhubung, satu pernyataan di media sosial atau satu pergerakan kapal di selat bisa mengubah arah miliaran dolar investasi dalam sekejap. Untuk saat ini, emas tetap menjadi raja di tengah ketidakpastian yang mulai menipis.