BPF Malang

Image

Bestprofit | Ketegangan AS-Iran Angkat Harga Minyak

Bestprofit (3/9) – Harga minyak mempertahankan penguatan pada perdagangan Rabu (2/9), didukung meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran serta kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan minyak global. Namun, pergerakan harga masih berlangsung volatil karena pasar terus menimbang risiko geopolitik dengan kondisi pasokan yang sejauh ini belum sepenuhnya terganggu. Harga minyak Brent bergerak di sekitar US$95,30 per barel, naik sekitar 0,7%. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,5% ke kisaran US$90,69 per barel. Kenaikan tersebut terjadi setelah kedua acuan minyak sempat bergerak tajam dalam satu sesi perdagangan. Brent bahkan sempat menyentuh US$96,99 per barel, sedangkan WTI mencapai US$92,28 sebelum akhirnya memangkas sebagian penguatannya. Kondisi tersebut mencerminkan tingginya sensitivitas pasar minyak terhadap perkembangan geopolitik, khususnya ketika konflik melibatkan salah satu kawasan strategis bagi pasokan energi dunia.
Kunjungi juga : bestprofit futures

Konflik AS-Iran Kembali Memanas

Ketegangan antara AS dan Iran menjadi katalis utama pergerakan harga minyak. Konflik yang telah memasuki bulan ketujuh tersebut kembali mengalami eskalasi terbesar sejak Juli. Pasukan AS dilaporkan menyerang kawasan pesisir selatan Iran, sementara Teheran merespons dengan menargetkan sejumlah pangkalan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Eskalasi militer tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan konflik meluas dan berdampak terhadap infrastruktur maupun jalur distribusi energi. Iran merupakan salah satu produsen minyak utama dunia. Selain kapasitas produksinya, posisi geografis negara tersebut juga sangat penting karena berada di sekitar Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi paling strategis. Karena itu, setiap peningkatan ketegangan di kawasan tersebut dapat dengan cepat tercermin dalam harga minyak. Investor biasanya memasukkan premi risiko geopolitik ketika muncul potensi gangguan terhadap produksi maupun transportasi minyak.
Bestprofit | Konflik AS-Iran Memanas, Hormuz Disorot

Selat Hormuz Jadi Fokus Utama Pasar

Perhatian pasar saat ini tertuju pada kondisi Selat Hormuz. Jalur perairan tersebut menjadi salah satu titik paling penting dalam perdagangan energi global karena menghubungkan kawasan produsen minyak Timur Tengah dengan pasar internasional. Lalu lintas kapal komoditas melalui Selat Hormuz dilaporkan turun menjadi hanya empat kapal. Angka tersebut jauh di bawah rata-rata 10 hari yang mencapai 13 kapal. Penurunan lalu lintas tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa eskalasi konflik mulai memengaruhi aktivitas pelayaran dan distribusi komoditas. Risiko tersebut semakin meningkat setelah Iran mengeklaim dua kapal tanker menghantam ranjau dan mengalami kerusakan. Meski demikian, klaim tersebut belum dikonfirmasi secara independen sehingga pasar masih berhati-hati dalam menilai dampak sebenarnya terhadap pasokan. Jika gangguan pelayaran berlanjut, harga minyak berpotensi mendapatkan dorongan signifikan. Pasar tidak hanya akan memperhitungkan penurunan pasokan aktual, tetapi juga potensi keterlambatan pengiriman dan meningkatnya biaya transportasi serta asuransi.

Pasokan Global Belum Sepenuhnya Terganggu

Meskipun risiko geopolitik meningkat, pasokan minyak global sejauh ini belum sepenuhnya terhenti. Sejumlah jalur alternatif masih digunakan untuk mengalirkan minyak, sementara ekspor Irak juga terus meningkat. Kondisi tersebut menjadi faktor yang membatasi lonjakan harga. Pasar minyak pada dasarnya merespons bukan hanya ancaman terhadap pasokan, tetapi juga seberapa besar volume minyak yang benar-benar hilang dari pasar. Pemerintah AS bahkan mengeklaim sekitar 17 juta barel minyak berhasil melewati Selat Hormuz pada Senin. Jika angka tersebut akurat, volume itu menjadi yang terbesar dalam satu hari sejak perang dimulai. Data tersebut menunjukkan bahwa meskipun lalu lintas kapal mengalami penurunan, aktivitas pengiriman minyak belum berhenti sepenuhnya. Situasi ini membuat pasar berada dalam posisi yang dilematis. Di satu sisi, risiko gangguan pasokan dapat mendorong harga lebih tinggi. Di sisi lain, keberhasilan sejumlah kapal tetap melewati jalur tersebut dapat mengurangi kekhawatiran terhadap kelangkaan minyak secara langsung.

Persediaan Minyak AS Turun Lebih Besar dari Perkiraan

Sentimen bullish terhadap minyak juga mendapatkan dukungan dari data persediaan minyak mentah Amerika Serikat. Persediaan minyak mentah AS tercatat turun sekitar 4,5 juta barel. Penurunan tersebut jauh lebih besar dibandingkan perkiraan pasar yang hanya sekitar 1,1 juta barel. Penurunan persediaan yang lebih besar dari ekspektasi menunjukkan bahwa permintaan atau pengolahan minyak relatif kuat dibandingkan perkiraan sebelumnya. Bagi pasar, berkurangnya stok minyak AS dapat menjadi sinyal positif karena menunjukkan pengetatan keseimbangan antara pasokan dan permintaan. Namun, data persediaan tetap perlu dibaca bersama faktor lainnya. Penurunan stok yang besar belum tentu berarti pasar global mengalami defisit pasokan, terutama jika produksi dari negara lain tetap meningkat dan jalur distribusi masih berfungsi. Karena itu, pasar masih menempatkan perkembangan geopolitik dan kondisi Selat Hormuz sebagai faktor utama dalam menentukan arah minyak berikutnya.

OPEC+ Dapat Membatasi Kenaikan Harga

Di tengah berbagai faktor bullish, pasar masih memiliki penahan laju kenaikan harga. Salah satunya adalah kemungkinan OPEC+ mempertahankan kebijakan produksinya. Jika kelompok produsen tersebut tetap mempertahankan tingkat produksi yang ada, tambahan pasokan dapat membantu menjaga keseimbangan pasar dan mengurangi risiko lonjakan harga yang terlalu besar. Kondisi tersebut penting karena kenaikan harga minyak yang terlalu cepat dapat memberikan tekanan terhadap perekonomian global. Harga energi yang tinggi dapat meningkatkan biaya transportasi dan produksi, kemudian berpotensi mendorong inflasi. Dengan mempertahankan kebijakan produksi, OPEC+ juga memiliki ruang untuk menjaga stabilitas pasar dan mencegah volatilitas yang berlebihan. Namun, kemampuan OPEC+ untuk meredam kenaikan harga akan sangat bergantung pada seberapa besar gangguan pasokan akibat konflik AS-Iran. Jika gangguan hanya bersifat sementara, tambahan pasokan dapat membantu menahan harga. Sebaliknya, gangguan yang berkepanjangan di Selat Hormuz dapat membuat dampaknya jauh lebih besar.

Brent Berpeluang Uji US$97-US$100

Dari sisi pergerakan harga, Brent kini memiliki peluang kembali menguji area US$97 per barel. Level tersebut menjadi penting setelah harga sebelumnya sempat menyentuh US$96,99. Jika eskalasi konflik AS-Iran meningkat dan lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz kembali menyusut, Brent berpotensi menembus US$97 dan bergerak menuju US$100 per barel. Penembusan level US$100 akan menjadi sinyal psikologis penting bagi pasar. Harga di atas level tersebut dapat mencerminkan meningkatnya premi risiko geopolitik dan kekhawatiran terhadap pasokan minyak global. Namun, skenario tersebut tidak bersifat satu arah. Jika aktivitas pelayaran kembali normal dan muncul tanda-tanda deeskalasi antara AS dan Iran, premi risiko dapat berkurang dengan cepat. Dalam kondisi tersebut, Brent berpotensi terkoreksi menuju US$93 per barel. Sementara itu, WTI berpeluang kembali bergerak di bawah US$90.

Pasar Minyak Masih Bergantung pada Geopolitik

Pergerakan harga minyak saat ini menunjukkan bahwa pasar sangat sensitif terhadap perkembangan konflik AS-Iran. Risiko terhadap Selat Hormuz menjadi faktor utama yang menentukan apakah kenaikan harga akan berlanjut atau justru berbalik arah. Dalam jangka pendek, Brent berpeluang menguji US$97-US$100 jika eskalasi konflik semakin besar atau arus pelayaran melalui Hormuz kembali turun secara signifikan. Sebaliknya, normalisasi lalu lintas kapal, meningkatnya pasokan dari jalur alternatif, serta tanda-tanda deeskalasi dapat mengurangi premi risiko dan menekan harga menuju US$93. Untuk WTI, area US$90 menjadi batas psikologis yang perlu diperhatikan. Dengan demikian, investor perlu mencermati tiga faktor utama, yakni perkembangan konflik AS-Iran, kondisi lalu lintas di Selat Hormuz, dan kebijakan produksi OPEC+. Selama ketiga faktor tersebut belum memberikan kepastian, volatilitas harga minyak diperkirakan masih tinggi.